Daerah

Haul Ke-220 Syekh Arsyad Al-Banjari: Momentum Syukur dan Teladani Ulama Pewaris Nabi

Jumat, 27 Maret 2026 | 09:00 WIB

Haul Ke-220 Syekh Arsyad Al-Banjari: Momentum Syukur dan Teladani Ulama Pewaris Nabi

Jamaah memadati lokasi Haul Ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan, pada Kamis (26/3/2026). (Foto: Ahmad Mursyidi)

Martapura, NU Online

Peringatan Haul Ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada 2026 berlangsung dalam suasana penuh kekhusyukan. Kegiatan ini menjadi momentum syukur atas nikmat besar berupa hadirnya ulama pewaris Nabi, sekaligus ajang meneladani ajaran dan perjuangan Syekh Arsyad di tengah kehidupan umat.


Kegiatan ini menjadi momen penting bagi umat Islam, khususnya masyarakat Kalimantan Selatan, untuk mengenang perjuangan, mendoakan, serta meneladani ajaran ulama besar yang dikenal sebagai Datu Kelampayan.


Puncak kegiatan berlangsung pada 6 Syawal 1447 H atau 26 Maret 2026. Sejak 22 hingga 26 Maret 2026, kawasan sekitar Kubah Kelampayan dan Masjid Tuhfaturraghibin Dalam Pagar di Martapura telah dipadati jamaah yang melaksanakan haul. Mereka datang dengan semangat ibadah, ziarah, dan mencari keberkahan.


Sebagai tokoh ulama besar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari meninggalkan warisan keilmuan yang sangat berharga. Karyanya, Kitab Sabilal Muhtadin, hingga kini tetap menjadi rujukan utama dalam kajian fiqih mazhab Syafi’i.


Selain itu, Kitab Tuhfatur Raghibin merupakan karya teologi aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampayan). Kitab ini membahas hakikat iman serta hal-hal yang dapat merusak aqidah, baik melalui perkataan, perbuatan, maupun i’tiqad.


Dua kitab tersebut kemudian diabadikan menjadi nama masjid, yakni Masjid Sabilal Muhtadin di Banjarmasin dan Masjid Tuhfatur Raghibin di Dalam Pagar, Martapura.


Salah satu zuriat Syekh Arsyad, Daudi Zein, membacakan manaqib dalam acara haul tersebut.


"Tidaklah kita berkumpul di tempat ini melainkan semata-mata menjunjung tinggi perintah Allah yakni mengingat-ingat nikmat Allah," ungkapnya.


Kemudian ia mengutip firman Allah dalam Surah Ad-Duha ayat 11: wa amma bini'mati rabbika fa ḥaddiṡ.


"Adapun terhadap nikmat-nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu sering-sering menyebutnya," jelasnya.


Ia mengatakan bahwa di antara nikmat Allah adalah dianugerahkan kepada masyarakat Banjar seorang ulama besar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, beserta keturunannya yang alim dan shaleh.


"Yang mana saat kita berkumpul menghauli beliau tidak lain merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat besar dan juga mengamalkan hadits Rasulullah," jelasnya.


Ia juga membacakan hadits: udzkuru mahasina mautakum (ceritakanlah kebaikan-kebaikan mereka yang telah wafat mendahului kamu).


"Selain itu kita berkumpul di tempat mulia ini membaca Al-Qur’an, berzikir, dan membesarkan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang dibesarkan Allah yakni aulia Allah, para shalihin, dan ulama pewaris Rasulullah," jelasnya.


Kemudian ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 32: dzalika wa may yu‘aẓẓim sya‘a’irallahi fa innaha min taqwal-qulub (barangsiapa yang membesarkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati, semata-mata untuk meraih rahmat, ampunan, serta keridhaan Allah).


Ia juga menyampaikan ucapan Sufyan bin ‘Uyainah: inda dzikris shalihin tanzilur rahmah (ketika dibacakan kisah orang-orang saleh, Allah menurunkan rahmat).


Ia kemudian melanjutkan pembacaan manaqib Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari hingga selesai.


"Tepatnya 322 tahun atau lebih dari tiga abad lalu, pasangan suami istri yang saleh, yakni Tuan Abdullah dan Aminah, mendapatkan lailatul qadar pada malam 21 Ramadan 1122 H. Keduanya memohon kepada Allah agar anak yang dikandung menjadi anak yang alim lagi zahid," jelasnya.


Ia mengisahkan bahwa setelah sempurna masa kehamilan, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Muhammad Arsyad pada malam Kamis pukul 03.00 dini hari, 11 Safar 1122 H, di Desa Lok Gabang, Martapura, Kabupaten Banjar.


"Anak laki-laki tersebut yakni Jaddina Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari, yang kini dikenal luas sebagai ulama dengan ilmu yang sangat mendalam, menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat, bermazhab Syafi’i dan berpaham Ahlussunnah wal Jamaah," ungkapnya.


Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda kebesaran seorang pemimpin kerap terlihat sejak kecil, baik dari kecerdasan maupun akhlaknya.


"Sejak kecil beliau sudah nampak kecerdasan dan keahliannya dibandingkan yang lain, begitu pula akhlak dan budi pekertinya yang disenangi orang tua, serta kecintaannya terhadap keindahan sehingga memiliki keahlian dalam seni lukis dan tulis," ungkapnya.


Dalam kisah tersebut dijelaskan bahwa siapa pun yang melihat karya beliau akan merasa kagum.


"Pada suatu hari Sultan Tamjidillah melakukan kunjungan ke Kampung Lok Gabang. Ia melihat karya tulis beliau yang sangat indah dan memukau, sehingga terlintas keinginan untuk membawanya ke istana agar mendapatkan pendidikan agama dari para guru terbaik," jelasnya.


Kedua orang tuanya pun terkejut ketika Sultan berniat membawa anak mereka ke istana.


"Dengan perasaan haru, orang tuanya rela melepaskan anak kesayangannya demi menuntut ilmu, semata-mata karena kecintaan terhadap ilmu yang melebihi segalanya," terangnya.


Dengan harapan, kelak anaknya menjadi seorang alim dan zahid.


Pengamanan Haul

Dalam pelaksanaan pengamanan, sebanyak 60 personel Banser Banjar diterjunkan dan ditempatkan di sejumlah titik strategis, antara lain di depan masjid, sepanjang jalur turunan jembatan menuju masjid, serta di atas jembatan hingga area turunannya. Penempatan ini bertujuan mengurai kepadatan arus jamaah dan mengantisipasi kemacetan.


Selain itu, Banser menertibkan pedagang kaki lima (PKL) agar tidak berjualan di titik rawan kemacetan serta mengarahkan jamaah supaya tidak duduk di sepanjang jembatan maupun area turunan demi menjaga kelancaran dan keselamatan.
 

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjar Edy Rosadi yang hadir dalam kegiatan pengamanan, menyampaikan bahwa Banser setiap tahun selalu berpartisipasi.


"Personel bertugas mulai pukul 06.00 WITA hingga seluruh rangkaian acara selesai. PAM ini merupakan bukti khidmat Banser kepada Datu Kelampayan sebagai wujud syukur atas jasa beliau," katanya.


Sekira 800 personel Polri dari Polda Kalimantan Selatan, Polres Banjar, serta unsur Dokkes turut diterjunkan. Mereka didukung oleh 2.300 relawan yang membantu mengatur jalannya kegiatan.


Berbagai fasilitas disiapkan, mulai dari dapur lapangan, penyediaan air bersih, hingga sarana sanitasi. Dukungan transportasi sungai dari Direktorat Polairud Polda Kalsel turut membantu mobilitas jamaah yang datang melalui jalur air.


Di bidang kesehatan, layanan diberikan secara maksimal oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Kalimantan Selatan yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Bhayangkara. Sebanyak 40 tenaga kesehatan diterjunkan, terdiri dari dokter umum, perawat, dan apoteker. Mereka didukung dua unit ambulans serta satu mobil operasional Dokpol.


Tidak hanya bersiaga di posko kesehatan, tim medis melakukan patroli dengan berjalan kaki menyusuri area haul untuk memantau kondisi jamaah dan memberikan penanganan cepat apabila diperlukan.


Untuk mengurangi kepadatan kendaraan, panitia menyiapkan 13 kantong parkir yang tersebar di beberapa jalur utama, yakni enam titik dari arah Pesayangan, tiga dari Sungai Tabuk, dua dari Astambul, dan dua dari Pasar Papan.


Demi menjaga ketertiban dan kenyamanan, panitia menetapkan pengaturan khusus bagi jamaah.


Area dalam Masjid Tuhfaturraghibin dan sekitarnya diperuntukkan bagi jamaah laki-laki, sementara jamaah perempuan diarahkan ke kompleks Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Dalam Pagar dengan pembagian gedung berdasarkan penanda warna, yaitu kuning, oranye, dan hijau.


Jamaah juga diperbolehkan menempati rumah keluarga atau kerabat di sekitar lokasi sebagai alternatif tempat istirahat yang lebih nyaman.


Hal ini ditegaskan oleh Ketua Pelaksana, Ahmadi Hamid, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.


"Benar informasi itu dibuat agar menjaga kenyamanan dan kelancaran pelaksanaan haul serta kemudahan tempat jamaah," katanya.