Daerah

Konservasi Penyu Sodong, Cilacap dan Harapan Menjaga Ekosistem Laut

Selasa, 7 Juli 2026 | 10:00 WIB

Konservasi Penyu Sodong, Cilacap dan Harapan Menjaga Ekosistem Laut

Konservasi Penyu Nagari, Pantai Sodong Cilacap, pada Ahad (5/7/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).

Cilacap, NU Online

Sejak 2019 Jumawan (33) mengelola dan melestarikan penyu-penyu di Konservasi Penyu Nagari, Pantai Sodong, Kecamatan Adipala, Cilacap Jawa Tengah. Ia memulai gerakan itu dari kegelisahan sederhana. Bertahun-tahun ia menyaksikan telur-telur penyu yang baru dikeluarkan dari sarangnya justru dipungut untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan.


"Sebelumnya telur penyu selalu diambil untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan. Itu membuat saya semakin prihatin dan tergugah untuk menyelamatkan penyu sekaligus menyadarkan masyarakat kemudian kami membentuk kelompok masyarakat yang beranggotakan sepuluh orang, sebagian besar nelayan," ujarnya saat ditemui di kawasan konservasi, Ahad (5/7/2026).

 

Kemudian Jumawan menjelaskan, wilayah kerjanya membentang dari Pantai Sodong di Kecamatan Adipala hingga Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu. 

 

"Kita para relawan rutin menyisir pantai pada malam hari untuk mencari sarang penyu sekaligus mengamankannya dari ancaman perburuan. Terkadang juga ada laporan dari nelayan jika mereka menemukan sarang penyu," kata Jumawan.


"Untuk jenis penyu yang paling sering mendarat di kawasan ini adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea), salah satu spesies penyu terkecil di dunia," imbuhnya.

 

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berakhir. Jumawan mengakui kesadaran masyarakat memang terus meningkat dibanding beberapa tahun lalu, tetapi praktik pengambilan telur penyu masih ditemukan di sejumlah titik pantai.

 

"Sudah banyak masyarakat yang teredukasi dan mulai peduli. Namun memang masih ada sebagian nelayan yang mengambil telur penyu untuk konsumsi maupun dijual. Karena itu diperlukan kerja sama semua pihak untuk terus melakukan sosialisasi," ujarnya.

 

Baginya, keberadaan penyu bukan sekadar menyelamatkan satu jenis satwa, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem laut. "Pantai yang masih didatangi penyu untuk bertelur menjadi indikator bahwa laut kita masih sehat dan alami. Penyu hanya mau bertelur di pantai yang tenang, jauh dari aktivitas manusia dan kebisingan," jelasnya.

 

Dari usahanya melestarikan penyu, sejak 2019 hingga 2025, sedikitnya Jumawan dan timnya sudah berhasil melepaskan 7.500 tukik ke laut. Sementara sepanjang 2026, sekitar 400 hingga 500 tukik telah kembali ke habitatnya.

 

"Ini masih ada 13 blok sarang lain yang masih menyimpan sekitar 700 butir telur menunggu menetas," katanya.

 

Meski demikian, Jumawan berharap perhatian pemerintah daerah dapat semakin besar. Menurutnya, konservasi ini membutuhkan ruang baca, penginapan sederhana bagi mahasiswa magang, hingga fasilitas penunjang penelitian.

 

Ia juga berharap kegiatan edukasi lingkungan dapat menjadi agenda rutin sekolah-sekolah di Kabupaten Cilacap. "Harapan kami, anak-anak sekolah diwajibkan datang ke sini setiap tahun. Wisata edukasi seperti ini tidak dimiliki semua daerah dan bisa menjadi sarana belajar mencintai lingkungan sejak dini," katanya.


Salah satunya Warsih (44), warga Jakarta, yang sengaja mengikuti kegiatan outing class bersama anaknya. Baginya, pengalaman melepas tukik dan menanam mangrove memberikan pelajaran yang sulit didapatkan di ruang kelas. "Bermanfaat sekali. Bagus untuk edukasi anak-anak, apalagi saat masa liburan seperti ini," ujarnya.

 

Warsih melihat anak-anak tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar mencintai alam melalui pengalaman langsung. "Mereka belajar mencintai alam, menanam mangrove, dan mengenal hewan yang dilindungi. Anak-anak juga senang karena bisa belajar sambil bermain," katanya.