Daerah

Menyusuri Daarul Mughni Al-Maaliki, Pesantren Ramah Anak yang Menata Karakter Santri

Selasa, 19 Mei 2026 | 19:00 WIB

Menyusuri Daarul Mughni Al-Maaliki, Pesantren Ramah Anak yang Menata Karakter Santri

Pesantren Daarul Mughni Al-Maaliki di Bogor, Jawa Barat. (Foto: daarul-mughni.sch.id)

Bogor, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggagas Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak sebagai upaya memperkuat perlindungan anak di lingkungan pesantren. Salah satu pesantren yang menjadi prototipe gerakan tersebut ialah Pesantren Daarul Mughni Al-Maaliki di Desa Cikahuripan, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.


Senin sore (18/5/2026), NU Online bersama rombongan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU dan Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bidang Perlindungan Anak Zahrotun Nihayah diajak berkeliling melihat kondisi pesantren oleh pengasuh pesantren, KH Mustopa Mughni.


Di pesantren yang menampung sekitar 6.000 santri putra dan putri itu, konsep ramah anak tidak hanya hadir dalam slogan, tetapi tampak dalam keseharian dan tata ruang pesantren.


Di salah satu sudut kawasan pondok terdapat mini zoo berisi rusa, kuda poni, dan sejumlah hewan lain. Tempat itu menjadi ruang pelepas penat bagi para santri. “Yang penting mereka enjoy, jadi pelepas penat mereka,” ujar Kiai Mustopa.


Di dekat area parkir umum juga tersedia layanan laundry. Fasilitas tersebut disediakan agar santri yang tidak sempat mencuci tetap memiliki pilihan tanpa harus keluar dari lingkungan pesantren.


Sistem pengelolaan sampah di pesantren juga ditata secara mandiri. Sampah dipilah dan dikelola sendiri oleh pesantren. Di sekeliling bangunan asrama dan ruang belajar, berbagai jenis pohon ditanam rindang sehingga kawasan pondok terasa hijau dan terbuka.


Usai makan, para santri terbiasa membersihkan peralatan makan mereka sendiri. “Jadi hanya ada tiga juru masak. Santri mengambil sendiri, makan, lalu membersihkan sendiri. Jauh sebelum MBG ada, kami sudah memakai sistem ini,” kata Kiai Mustopa.


Kamar-kamar santri juga ditata rapi. Pakaian tersusun di lemari dan lingkungan kamar tampak bersih tanpa sampah berserakan.


“PR kita bukan membuat peraturan, tetapi membentuk karakter. Sehingga mereka terbiasa melakukan sendiri tanpa diminta,” ujarnya.


Pada malam hari, koperasi pondok tetap dibuka untuk melayani santri yang ingin membeli kebutuhan ringan. Pesantren juga menyediakan sekitar 1.800 kamar mandi yang dipisahkan antara santri dan tamu.


Konsep keterbukaan menjadi ciri utama tata bangunan pesantren ini. Asrama dan fasilitas dibuat dalam model klaster yang saling berhadapan sehingga mudah dipantau oleh pengurus maupun pengunjung.


“Ngontrol gampang, ngawasinya gampang, rawat gampang. Seluruh kompleks juga dipasang sekitar 400 titik CCTV,” katanya.


Selain ruang belajar formal, pesantren memiliki gedung olahraga, lapangan badminton, hingga kolam renang yang dapat digunakan gratis oleh santri pada hari biasa. Pada Sabtu dan Ahad, santri dikenai biaya Rp3.000 di luar jadwal penggunaan rutin. “Memang khidmat santri. Semua untuk santri,” katanya.


Fasilitas pendidikan lain juga tersedia, seperti laboratorium qira’at, komputer, bahasa Arab, bahasa Inggris, hingga IPA. Di kawasan pondok terdapat kantin, ATM Bersama, minimarket, serta layanan laptopisasi yang dapat dipinjam dan dikembalikan oleh santri.


Di bagian depan gerbang berdiri toko kelontong, ruang percetakan buku tulis dan kitab, hingga unit jahit seragam sekolah yang seluruhnya dikelola santri.


Bagi Kiai Mustopa, inti dari pesantren ramah anak terletak pada pembentukan karakter. Menurutnya, ketika karakter telah terbentuk, sebagian persoalan akan lebih mudah diselesaikan.


“PR kita yang paling utama adalah membentuk karakter mereka, bagaimana perilaku dan akhlakul karimah itu terbentuk,” ujarnya.


Selain pembinaan ruhani melalui taklim dan pengajian, pesantren juga memanfaatkan teknologi sebagai alat pengawasan dan pencegahan.


“Berbentuk fisik seperti apa? Seperti teknologi. Contohnya CCTV. Hampir semua kamar dan kelas kami pasang CCTV untuk mengawasi anak-anak. Jika ditemukan masalah, mereka kami panggil,” jelasnya.


Menurutnya, penggunaan teknologi sangat membantu ketika terjadi persoalan di lingkungan pesantren. “Sebab kadang-kadang masalah kecil bisa menjadi besar ketika penanganannya tidak tepat,” katanya.


Ia menilai penggunaan teknologi yang semakin canggih diperlukan untuk membantu pengelolaan pesantren besar dengan ribuan santri.


“Tentu kita berusaha sekuat tenaga menyelesaikan hal-hal yang bisa menimbulkan kekerasan fisik,” jelasnya.


“Bagaimana santri bisa nyaman, bisa enjoy di pesantren. Mereka bisa rileks, tidak tegang, tidak mendapat tekanan terlalu tinggi, maka kami fasilitasi semua,” lanjutnya.


Apresiasi KemenPPPA

Staf Khusus Menteri PPPA Zahrotun Nihayah menilai Pesantren Daarul Mughni Al-Maaliki telah menghadirkan banyak unsur penting dalam upaya perlindungan anak di lingkungan pesantren.


“Seperti yang kita lihat di pondok pesantren ini, tadi saya diajak berkeliling oleh Pak Kiai, terutama CCTV, kemudian ramah IT, green pesantren, entrepreneur, itu semua ada di sini,” ujarnya kepada NU Online.


Menurut Zahrotun, standardisasi pesantren menjadi hal penting, mulai dari proses perizinan hingga pendampingan dan pengawasan secara berkelanjutan.


Ia menjelaskan, dari perspektif Kementerian PPPA terdapat dua aspek utama yang perlu diperhatikan, yakni pemenuhan hak anak dan perlindungan anak.


“Kalau dari KemenPPPA ada dua hal. Pertama pemenuhan hak anak, yang tadi sudah ditunjukkan Pak Kiai. Anak ingin apa ada. Fasilitas olahraga, berenang, waktu luang, semua tersedia,” katanya.


Selain pemenuhan hak, ia juga menyoroti aspek perlindungan anak yang dinilai telah diterapkan melalui desain bangunan pesantren yang terbuka dan mudah diawasi.


“Gedung dibuat dalam blok-blok yang bisa terlihat dan terakses banyak orang sehingga meminimalkan peluang terjadinya tindakan negatif,” ujarnya.


Zahrotun juga menekankan pentingnya ketersediaan fasilitas kamar mandi yang memadai di lingkungan pesantren. Menurutnya, jumlah kamar mandi yang cukup menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.


“Kalau sedikit itu bisa dipakai bareng-bareng, ini juga berbahaya. Pesantren ini telah menerapkan kamar mandi terpisah,” katanya.


Sementara itu, Sekretaris RMI PBNU Ulun Nuha menyebut pesantren saat ini menghadapi tantangan besar, baik akibat perkembangan zaman maupun serangan terhadap pesantren di media sosial.


“Tentu yang paling penting muhasabah. Ini menjadi dorongan buat kita semuanya agar pesantren bertransformasi,” ujarnya.


Gerakan Pesantren Ramah Anak sendiri, lanjutnya, telah dicanangkan Ketua Umum PBNU sejak 2024 sebagai bagian dari gerakan transformasi pesantren.


Pesantren Daarul Mughni Al-Maaliki dipilih sebagai prototipe karena dinilai berhasil menghadirkan model pesantren yang lebih terbuka, tertata, dan ramah terhadap anak, termasuk dengan tidak lagi menerapkan hukuman fisik bagi santri.


“Tidak dipungkiri sudah tidak ada lagi takzir. Jelas ini mengaplikasikan pesantren ramah anak,” tandasnya.