Daerah

STISNU Aceh Resmi Bertransformasi Menjadi Institut Nahdlatul Ulama Aceh

Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:00 WIB

STISNU Aceh Resmi Bertransformasi Menjadi Institut Nahdlatul Ulama Aceh

Penyerahan SK Institut Nahdlatul Ulama Aceh. (Foto: dok istimewa)

Aceh Besar, NU Online

Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh resmi bertransformasi menjadi Institut Nahdlatul Ulama Aceh (ISNU Aceh) setelah menerima Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Republik Indonesia tentang perubahan bentuk kelembagaan perguruan tinggi.


SK tersebut diserahkan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam kunjungannya ke Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Aceh Besar, Selasa (11/8/2026). Penyerahan SK ini menjadi momentum penting dalam perjalanan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama di Aceh.


Ketua STISNU Aceh, Tgk Muhammad Yasir, menyampaikan rasa syukur atas terbitnya SK perubahan bentuk tersebut. Ia mengatakan transformasi kelembagaan merupakan hasil proses panjang yang melibatkan sivitas akademika dan berbagai pihak.


“Perubahan bentuk ini merupakan amanah sekaligus tanggung jawab baru. Kami tidak ingin perubahan ini hanya menjadi perubahan nama atau status kelembagaan, tetapi harus diikuti peningkatan mutu akademik, tata kelola, sumber daya manusia, serta kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat,” ujar Tgk Muhammad Yasir.


Menurutnya, status institut memberikan ruang lebih luas bagi pengembangan rumpun keilmuan dan pembukaan program studi baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan dunia pendidikan.


Karena itu, ISNU Aceh akan memperkuat kualitas dosen dan tenaga kependidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama dengan berbagai lembaga.


“Kita berharap ISNU Aceh menjadi perguruan tinggi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pengembangan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” katanya.


Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H. Faisal Ali atau Abu Sibreh, menyambut baik transformasi STISNU menjadi Institut Nahdlatul Ulama Aceh.


Menurut Abu Sibreh, perubahan tersebut merupakan bagian penting dari ikhtiar NU dalam memperkuat sektor pendidikan di Aceh.


“Ini momentum yang sangat baik bagi NU Aceh. Perguruan tinggi harus menjadi tempat melahirkan generasi yang kuat ilmu agamanya, luas wawasan keilmuannya, baik akhlaknya, dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Abu Sibreh.


Ia berharap modernisasi pendidikan tinggi tidak membuat ISNU Aceh kehilangan akar tradisi keilmuan pesantren.


“Jangan sampai modernisasi membuat kita kehilangan akar. Tradisi keilmuan yang kuat harus menjadi fondasi untuk membangun perguruan tinggi yang maju,” katanya.


Jangan Berhenti pada Perubahan Status

Tokoh pendidikan Aceh yang juga Sekretaris PW Pergunu Aceh, Tgk Khasanda, menilai perubahan bentuk STISNU menjadi institut memiliki arti strategis bagi pengembangan sumber daya manusia Aceh.


Ia mengingatkan bahwa perubahan kelembagaan harus diikuti peningkatan kualitas akademik dan manfaat nyata bagi masyarakat.


“Perubahan dari sekolah tinggi menjadi institut bukan sekadar perubahan nomenklatur. Ini adalah peluang untuk memperluas rumpun keilmuan, memperkuat budaya akademik, dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat,” ujar Tgk Khasanda.


Menurutnya, ISNU Aceh perlu menjadikan peningkatan kualitas dosen, pengembangan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan karakter mahasiswa sebagai agenda utama.


“Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali ijazah. Mereka harus memiliki kompetensi, karakter, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian sosial,” katanya.


Tgk Khasanda juga menilai tradisi pendidikan dayah merupakan modal penting yang dapat dipadukan dengan sistem pendidikan tinggi modern.


“Tradisi dan modernitas tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat dipadukan untuk melahirkan pendidikan yang kuat secara keilmuan sekaligus kokoh secara nilai,” ujarnya.