Kembalinya Nahdlatul Ulama (NU) ke khittah sudah sangat tepat dan menjadi kekuatan tersendiri dalam ghirohnya. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia masih terus diperhitungkan dalam berbagai persoalan, mulai dari kebangsaan, keagamaan hingga urusan kenegaraan.
Sesuai pandangan salah seorang Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasib Wahab, NU tak perlu menjadi partai politik (Parpol) untuk dapat disegani dunia dan kontribusinya diperhitungkan. Mengukurnya tak usah muluk-muluk, dari jumlah warganya saja, kata Kiai Hasib, NU sudah lebih banyak daripada organisasi Islam yang lain.
"NU meski bukan partai politik namun tetap diperhitungkan, sebab NU itu, di samping warganya yang sangat banyak, komitmen politik kebangsaannya benar-benar dirasakan oleh lapisan masyarakat luas," ungkapnya baru-baru ini.
Merealisasikan politik kebangsaan, paparnya, meski di tengah beragam ancaman serius yang dihadapi bangsa dan negara hingga saat ini, tak sedikitpun menggeser komitmen politik NU tersebut.
Hal itu menurutnya terbukti belakangan saat gencar serangan kelompok radikal atau teror bom di berbagai tempat, NU semakin memasifkan gerakannya dengan menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan di sejumlah kesempatan, termasuk memanfaatkan media sosial dengan konten yang menyejukkan keadaan.
"Politik NU adalah politik kebangsaan, keumatan juga kenegaraan. Dari itu NU dapat menentukan sikap politik tersebut hingga saat ini," jelas putra pendiri serta penggerak NU Almaghfurlah KH Wahab Hasbullah ini. (Syamsul Arifin/Muhammad Faizin)