Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
Senin, 20 April 2026 | 22:00 WIB
Sebagai seorang tokoh nasional, wafatnya KH Abdul Wahid Hasyim di bulan April 1953, menjadi berita utama di media massa kala itu. Semasa hidupnya, di usia yang cukup relatif masih muda, ia telah mengemban banyak amanah yang penting.
Tokoh kelahiran 1 Juni 1914 itu, ikut menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Kemudian pernah juga menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Menteri Agama RI, Ketua MIAI, dan lain-lain.
Oleh karena itu, tak heran, berita wafat Kiai Wahid Hasyim ditempatkan dalam halaman utama. Mayoritas surat kabat memuat berita tersebut pada hari Senin tanggal 20 April 1953 atau bersamaan pada saat pemakaman Kiai Wahid Hasyim di Jombang.
Kiai Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (LKiS, 2013) menuturkan Kiai Wahid Hasyim wafat pada tanggal 19 April 1953, setelah mengalami peristiwa kecelakaan mobil di antara Bandung-Cimahi. Ia bersama sang sopir meninggal dunia, sedangkan salah satu putranya yang ikut, yakni Abdurrahman Wahid berhasil selamat.
Berikut sejumlah arsip surat kabar yang memuat pemberitaan mengenai berita wafatnya Kiai Wahid Hasyim. Selain yang berbahasa Indonesia, adapula yang berbahasa Belanda, di antaranya sebagai berikut.
Kedaulatan Rakjat
Surat Kabar harian dari Yogyakarta ini memuat berita di sebelah kiri atas halaman utama, dengan judul Kjai Wahid Hasjim Meninggal, Djenazah Dimakamkan di Djombang. Diterangkan Kiai Wahid meninggal pada 19 April 1953, sekitar pukul 10.30.
"Hari ini, setelah djenazah diangkut dengan mobil ambulance dari Bandung ke Djakarta, dengan pesawat terbang djenazah diangkut ke Surabaja, di mana sebuah panitia telah siap untuk menerimanja dan meneruskannja ke Djombang, di mana djenazah almarhum itu dimakamkan,"
Selain itu, dalam artikel tersebut juga memuat profil singkat KH Wahid Hasyim, yang ditutup dengan sebuah kalimat: Almarhum adalah salah seorang di antara orang-orang jang terkemuka di kalangan Islam.
Suara Merdeka
Berbeda dengan Kedaulatan Rakjat yang hanya memuat tulisan, Harian Suara Merdeka memuat berita wafatnya Kiai Hasyim dengan disertai fotonya. Dengan mengangkat judul Kyai Wahid Hasjim Meninggal Akibat Ketjelakaan Mobil, artikel tersebut memberitakan kronologi singkat kecelakaan mobil yang dialami Kiai Wahid pada Sabtu, tanggal 18 April 1953. Di dalamnya juga termuat penjelasan lebih rinci mengenai proses iringan jenazah dari Bandung hingga Jombang, berdasar berita dari salah satu stasiun radio di Surabaya.
"Menurut berita jang diterimanja Djakarta oleh Madjelis Consul PBNO, djenazah Kyai Wahid Hasjim, pada hari Senin tanggal 20 April ini, akan dibawa dengan pesawat terbang dari Djakarta ke Surabaja, dan ditunggu tibanja di Lapangan Terbang Morokrembangan, pada djam 10.11 pagi ini. Dari Kota Surabaja, djenazah itu selandjutnja akan diangkut dengan mobil ke tempat kediamannja almarhum Kjai Wahid Hasjim ke Tebu Ireng Djombang,"
De Preangerbode
Berita wafatnya Kiai Wahid Hasyim juga dikabarkan di De Preangerbode, dengan menyertakan foto Kiai Wahid dengan judul: Na Auto Ongeluk Kjai Hadji Wahid Hasjim in Bandoeng Overleden (Pasca Kecelakaan Mobil, Kjai Hadji Wahid Hashim Meninggal Dunia di Bandung).
Java Bode
Koran Java Bode edisi Senin tanggal 20 April 1953 di halaman utama sebelah kanan atas, menuliskan judul: Wahid Hasjim overleden. Bij auto-ongeluk Tjimahi Bandung (Wahid Hasjim Meninggal. Kecelakaan Mobil di Cimahi Bandung).
Bahkan, harian tersebut tidak hanya sekali mengabarkannya. Dua hari berikutnya, koran tersebut menurunkan judul: Auto-ongeluk K. Wachid Hasjim Mede-passagier Argo Sutjipto ook om het leven gekomen (Kecelakaan mobil K. Wachid Hasjim, sesama penumpang Argo Sutjipto juga meninggal)
Selain sejumlah surat kabar tersebut, tentu masih banyak pemberitaan lainnya, mengingat Kiai Wahid Hasyim yang merupakan seorang tokoh besar di tingkat nasional. Namun, karena keterbatasan sumber, pada artikel ini, hanya 4 arsip tersebut yang bisa ditampilkan penulis.
Pada akhirnya, Kiai Abdul Wahid Hasyim yang wafat di usia muda, namun karena jasa dan perjuangannya, namanya tetap harum dan terus dikenang hingga masa sekarang. Lahu alfatihah
Ajie Najmuddin, Penulis Buku Menyambut Satu Abad NU