Fragmen

Syekh Mahfudz Somalangu, Penggerak Resolusi Jihad di Kebumen

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23:47 WIB

Syekh Mahfudz Somalangu, Penggerak Resolusi Jihad di Kebumen

Syekh Mahfudz Somalangu (Foto: Istimewa)

Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu merupakan lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak zaman akhir Majapahit. Sampai saat ini, pesantren tersebut masih berdiri dan dicatat PBNU sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Nusantara. 


Pesantren yang terletak di wilayah Kebumen, Jawa Tengah ini berperan penting dalam penyebaran Islam pada abad ke-15 hingga Resolusi Jihad NU pada abad ke-20. Pada saat Resolusi Jihad, Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu dipimpin Syekh Mahfudz. 


Silsilah dan Karya 
Syekh Mahfudz Somalangu merupakan keturunan Syekh Abdul Kahfi al-Awwal yang ke 14. Ia merupakan putra Abdurrahman bin Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Marwah bin Zainal Abidin bin Yusuf bin Abdul Hannan bin Zakaria bin Abdul Mannan bin Hasan bin Yusuf bin Jawahir bin Muhtarom bin Syekh Abdul Kahfi Al-Awwal lahir pada malam 27 Rajab tahun 1319 Hijriah atau sekitar bulan November tahun 1901 Masehi (Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, hlm. 108). 


Seperti layaknya anak kiai, dia juga menuntut ilmu ke berbagai pesantren, di antaranya di Termas pada tahun 1916. Buah dari mondok di Termas, dia memiliki 2 karya kitab di bidang fiqih dan sharaf. Karya berjudul Burhanul Qathi’ tentang fiqih, sedangkan kitab sharafnya berjudul Fawaidus Sharfiyah banyak dipakai di pesantren-pesantren wilayah Kedu Selatan. Dia juga menjadi pemimpin Thariqat Syadziliyah dan memiliki karya tulis berjudul Sirojul Qulub.


Mengajarkan Bahasa Jepang 
Sebelum Jepang masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1942, Syekh Mahfudz mengajarkan Bahasa Jepang kepada para santrinya. Bahkan, bahasa itu menjadi kurikulum madrasah diniyah di pesantrennya (Ni’amah, 2013, Biografi Syaikh Mahfudh Al-Hasani Somalangu Kebumen [1901 M-1950 M], Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, hlm. 4-5).Oleh karena itu, ketika Jepang akan masuk ke Indonesia, dia sudah menyiapkan upaya antisipasi. 


Hal ini karena dia suka membaca dan berlangganan koran Melayu dari Singapura sehingga akses informasinya luas. Dia termasuk orang yang sangat gandrung dengan ilmu pengetahuan dan mampu menerapkannya untuk mengantisipasi kemungkinan kekejaman penjajahan Jepang. 


Waktu itu para santri merasa tidak lazim dengan pelajaran Bahasa Jepang. Mereka baru bisa mengetahui hikmah didikan itu ketika Jepang masuk Kebumen lalu bertanya kepada para santri dengan Bahasa Jepang dan santri bisa menjawabnya. Kejadian Syekh Mahfudz mengajar Bahasa Jepang di pesantrennya berlangsung di Bulan Muharram 1361 H atau pada Bulan Januari-Februari 1942 M. Setelah itu, masuklah Jepang ke kota-kota lain di Jawa Tengah pada Maret 1942 M.


Tidak hanya kepada santri, Syekh Mahfudz juga mengajarkan Bahasa Jepang kepada para warga desa yang mengikuti madrasah diniyah. Sudah banyak diketahui bahwa penjajah Jepang sering menuduh warga dan umat Islam sebagai pemberontak. Namun, dengan kemampuan santri dan warga yang bisa berbahasa Jepang di sekitar pondok Somalangu, maka mereka tidak diganggu oleh penjajah. Inilah jasa Syekh Mahfudz Somalangu untuk menghindarkan warga dari kekejaman Jepang.


Kemampuan Syekh Mahfudz dalam berbahasa Jepang belum diketahui asal muasalnya. Pada masa itu, bahasa Jepang tentu bukan objek utama pembelajaran di pesantren. Literasi pondok di Nusantara didominasi kitab-kitab berbahasa Arab. Namun, kegemaran Syekh Mahfudz terhadap syair agaknya juga mempengaruhi kemampuan belajarnya terhadap bahasa selain Arab. Untuk kitab syair berbahasa Arab seperti qasidah yang berisi riwayat nabi sudah menjadi tradisi sehari-hari dibaca di pondok pesantrennya.


Selama mengasuh pondok Al-Kahfi, di antara tradisi Syekh Mahfudz adalah gemar membaca qasidah Barzanji. Setelah shalat Duha, dia menerima tamu dari berbagai kalangan yang hadir di pondoknya. Dalam hal pakaian, dia juga suka memakai gamis dan mengenakan imamah. Hal unik lainnya adalah dia sering berdakwah kepada masyarakat dengan menggunakan media tembang macapat (Ni’amah, 2013, hlm. 4-5).


Penggerak Resolusi Jihad
Setelah Indonesia merdeka, dia mendirikan Angkatan Oemat Islam (AOI) pada tanggal 4 September 1945. Waktu itu, AOI diresmikan oleh Letkol Suharto dalam sebuah parade militer di desa Bandong. Kesatuannya terdiri dari 2 batalyon yang bernama Himayatul Islam dan Lemah Lanang. Batalyon Himayatul Islam dipimpin langsung olehnya, sedangkan Batalyon Lemah Lanang dipimpin oleh adiknya. 


Tujuan didirikannya AOI di antaranya adalah menolak penjajah serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan AOI merupakan bagian dari kelaskaran yang diserukan oleh pemerintah saat pasukan Sekutu hendak datang kembali ke Indonesia. Menurut Syekh Mahfudz, konsep berjuang yang bermanfaat di dunia dan akhirat adalah berdasarkan taat kepada Allah. Oleh karena itu, nilai inilah yang ditanamkan kepada semua pengikutnya ketika berjuang di AOI. 


Pada September-Oktober 1945, ada seorang utusan dari Jawa Timur bernama Kiai Sholeh datang kepada Syekh Mahfudz. Utusan itu meminta Syekh Mahfudz untuk hadir di Ampel, Surabaya, bersama ulama lainnya untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan di Ampel itulah, Syekh Mahfudz dan para ulama yang hadir menyerukan suatu gerakan bersama untuk menghadapi agresi militer Belanda.


Oleh karena itu, muncul resolusi jihad yang dimotori oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Syekh Mahfudz juga berperan penting dalam usulan agar yang memimpin resolusi jihad adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Dia mempertimbangkan bahwa resolusi jihad harus dipimpin oleh sosok yang cakap dan yang sesuai dengan kriteria itu adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Selanjutnya dia pernah diajak berkorespondensi dalam Bahasa Arab melalui surat-menyurat dengan Hadratussyekh. 


Pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dia mengirim satu kompi yang langsung dipimpin oleh salah seorang adik kandungnya. Adik kandung Syekh Mahfudz itu akhirnya gugur di medan juang. Santri-santri yang ikut dalam kompi tersebut juga banyak yang menjadi syuhada. Ketika Belanda melancarkan agresi militer I dan II, AOI terbukti mampu menjaga daerah Kebumen dan Yogyakarta (Adrianto dan Wijayati, 2020, Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen dalam Lintasan Revolusi, Journal of Indonesian History 9, hlm: 84-93).


Spirit Perjuangan Syekh Mahfudz
Perjuangan Syekh Mahfudz didasari dengan prinsip bahwa siapa saja yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin berarti bukan bagian dari umat Islam. Oleh karena itu, selain di medan perang jihad, prinsip itu juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap kesulitan yang dialami oleh sesama saudara muslim di manapun mereka berada. 


Pada saat India mengalami kelaparan sekitar tahun 1946, Syekh Mahfudz menghimpun bantuan beras dari para petani di Kebumen. Lalu dia mengirim utusan kepada Presiden Soekarno dalam rangka menyampaikan bantuan beras tersebut untuk India (Kuntowijoyo, 1970, Angkatan Oemat Islam 1945-1950, Yogyakarta, Seminar Nasional II).


Ketika kaum muslimin di Indonesia mendapatkan ancaman dari pemberontakan PKI, maka pada tahun 1948 dia juga mengirim pasukan untuk memberantas pemberontakan PKI di Madiun. Pasukan tersebut membantu Divisi Siliwangi yang diterjunkan untuk memadamkan pemberontakan PKI Madiun karena PKI menyerang kaum muslimin beserta para kiainya.


Inovator Sains untuk Menggerakkan Ekonomi
Di saat kondisi masyarakat jeda dari perjuangan fisik, perhatian Syekh Mahfudz terhadap kehidupan kaum muslimin tidak berhenti. Situasi perekonomian warga yang didominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan di Kebumen saat itu masih sulit. Di sisi lain, Kebumen merupakan sentra pertanian padi dan perkebunan kelapa yang di masa Hindia Belanda merupakan sumber pemasukan utama penjajah.


Setelah merdeka, perekonomian masyarakat perlu dikembangkan agar memiliki nilai tambah. Faktor penting yang bisa meningkatkan harga komoditas pertanian dan perkebunan adalah teknologi tepat guna. Dasar dari penerapan teknologi tentu memerlukan ilmu pengetahuan agar hasilnya sesuai dengan harapan. Di sisi penerapan ilmu pengetahuan alam inilah keunikan Syekh Mahfudz muncul kembali. 


Ilmu pengetahuan alam aplikatif atau sains terapan juga dimiliki olehnya dan layak menjadi inspirasi. Dia pernah merangkai alat penggiling padi bertenaga air dengan generator listrik yang dirangkai sendiri. Generator itu menggunakan konversi tenaga air mengalir yang mampu menggerakkan pegas. Bila dikaitkan dengan teknologi saat ini, maka karya tersebut merupakan mesin dengan energi terbarukan. Karya lainnya yang juga menarik tetapi masih terbatas diketahui adalah mesin penjernih air.


Kemampuannya menginovasikan sains dan teknologi juga dikenali dari beberapa produk yang pernah dikembangkan oleh Syekh Mahfudz. Sebagai contoh, dia pernah mengembangkan industri minyak kelapa dari kopra. Pada masa penjajahan Belanda, Kebumen memiliki salah satu pabrik minyak kelapa yang sangat besar bernama Mexolie karena merupakan salah satu di antara 9 wilayah sentra perkebunan kelapa di Hindia Belanda.


Pengolahan minyak kelapa dari kopra merupakan inovasi perekonomian Syekh Mahfudz agar umat Islam setelah merdeka tidak kalah dengan penjajah. Syekh Mahfudz berupaya mengoptimalkan potensi ekonomi di Kebumen melalui komoditas kelapa yang dibuat menjadi kopra, lalu diolah menjadi minyak goreng (Ni’amah, 2013, hlm. 6).


Minyak kelapa dari kopra kaya akan manfaat dan berkhasiat untuk kesehatan seperti menjadi bahan baku minyak goreng, kosmetika, sabun, hingga nutrisi untuk menjaga kesehatan jantung serta pembuluh darah serta bahan obat-obatan sehingga harganya tinggi di pasar internasional (Sulastri dkk, tanpa tahun, Desain Buku Ensiklopedia Mexolie Sejarah Pabrik Minyak Kelapa di Kebumen, Seminar Nasional Desain dan Media: hlm. 191-204).


Riwayat kehidupan Syekh Mahfudz sering disebutkan dalam berbagai kesempatan oleh KH Afifuddin Chanif, pengasuh Pesantren Al-Kahfi saat ini, sekaligus cucu dari Syekh Mahfudz. Syekh Mahfudz wafat pada tanggal 14 Dzulhijjah 1369 H atau tanggal 26 September 1950 M dan dimakamkan di wilayah Gunung Selok, Cilacap (Chanif, 2000, Nubdzah fi Tarjamah Syaikh Sayid Mahfudh bin Abd al-Rahman al-Hasani, Kebumen: Pondok Pesantren Salaf al-Kahfi Somalangu, hlm 7).


Dakwah pesantren yang diterima dan membaur dengan masyarakat Nusantara di wilayah Kebumen tidak mengurangi semangat keilmuan Syekh Mahfudz untuk terus memperoleh wawasan dari luar negeri. Bahkan, dedikasi yang tinggi dalam perjuangan dan bantuan kemanusiaan yang dicontohkan mampu memberi manfaat untuk bangsa lain di mancanegara. 


Selain itu, realisasi jihad dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan asing maupun pemberontakan dalam negeri menjadi bukti rasa cinta tanah air Syekh Mahfudz. Selayaknya kaum santri berusaha untuk mengambil inspirasi dari Syekh Mahfudz Somalangu serta berupaya meneladani nilai-nilai mulia perjuangan itu untuk diterapkan di masa kini. 


Yuhansyah Nurfauzi, pemerhati sejarah Islam, apoteker dan peneliti farmasi