Dunia Bergejolak, Begini Reaksi Global atas Serangan AS-Israel ke Iran
Ahad, 1 Maret 2026 | 17:00 WIB
Jakarta, NU Online
Serangan militer besar-besaran yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), mengguncang dunia internasional.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan ini sangat mengancam perdamaian dunia. Guterres mendesak semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan sebelum kawasan Timur Tengah jatuh ke dalam jurang konflik yang lebih dalam.
"Saya mengutuk eskalasi militer yang terjadi hari ini di Timur Tengah. Penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan oleh Iran di seluruh kawasan, merusak perdamaian dan keamanan internasional. Saya menyerukan penghentian segera permusuhan dan de-eskalasi," demikian pernyataan dari Reuters, dikutip NU Online pada Ahad (1/3/2026).
Reuters juga melaporkan respons keras dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menyebut serangan tersebut sebagai tindakan keji yang sengaja dirancang untuk menghancurkan upaya diplomatik.
"PM Anwar mengecam serangan tersebut sebagai 'upaya keji' untuk menggagalkan negosiasi diplomatik dan memperingatkan bahwa kawasan tersebut kini berada 'di tepi jurang bencana'," tulis Reuters, dikutip NU Online pada Jumat (27/2/2026).
Pemerintah Republik Indonesia juga menyatakan, sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Melalui akun X resmi Kementerian Luar Negeri, pemerintah Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Dalam pernyataan itu, tertulis bahwa Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto siap menjadi mediator bagi negara yang terlibat konflik tersebut.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," demikian bunyi pernyataan dalam akun X Kemlu RI.
Sementara di Eropa, Prancis merespons dengan kekhawatiran mendalam akan pecahnya perang besar yang mengancam stabilitas global. Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak agar Iran segera kembali ke meja perundingan.
"Eskalasi yang sedang berlangsung ini berbahaya bagi semua pihak. Hal ini harus dihentikan. Iran harus memahami bahwa kini tidak ada pilihan lain selain terlibat dengan itikad baik dalam negosiasi untuk mengakhiri program nuklir dan rudal balistiknya, serta aktivitas destabilisasi regionalnya. Hal ini sangat diperlukan untuk keamanan semua pihak di Timur Tengah," ujar Macron dalam akun X, dikutip NU Online pada Ahad (1/3/2026).
Rusia juga memberikan respons yang sangat sinis terhadap Amerika Serikat. Reuters memberitakan bahwa Rusia menyebut klaim perdamaian Washington hanyalah sebuah operasi penyamaran militer. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, bahkan menyinggung perbedaan sejarah panjang Iran dibandingkan Amerika Serikat.
Baca Juga
AS-Israel Sumber Kekacauan Dunia
"Sang 'pembawa damai' sekali lagi menunjukkan wajah aslinya. Semua pembicaraan mengenai negosiasi dengan Iran hanyalah operasi penyamaran. Amerika Serikat baru berusia 249 tahun. Kekaisaran Persia didirikan lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Mari kita lihat hasilnya dalam 100 tahun ke depan," demikian pernyataan dari Reuters, dikutip NU Online pada Jumat (27/2/2026).
Associated Press melaporkan posisi China yang secara tegas mengutuk aksi militer tersebut dan memperingatkan risiko bencana kemanusiaan yang mungkin timbul akibat serangan sepihak ini.
China sangat prihatin atas serangan AS dan Israel terhadap Iran dan menyerukan penghentian segera aksi militer dan kembali ke meja perundingan.
"Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri China sebagaimana laporan AP News, dikutip NU Online, Ahad (1/3/2026).
AP News juga melaporkan bahwa banyak negara Eropa yang abstain untuk berkomentar secara langsung atau secara tegas tentang serangan gabungan antara AS-Israel tersebut, tetapi mengutuk serangan pembalasan Iran.
"Mirip dengan Eropa, pemerintah di seluruh Timur Tengah mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara tetangga Arab sambil tetap diam mengenai aksi militer AS dan Israel," demikian pernyataan yang tertulis dalam laporan AP News.
Australia dan Kanada secara terbuka menyatakan dukungan terhadap serangan AS. Sementara hanya negara Rusia dan China yang menanggapi dengan kritik langsung.