Internasional

Israel Tuding Hizbullah terkait Serangan dan Insiden Tewasnya TNI di Lebanon

Kamis, 2 April 2026 | 19:15 WIB

Israel Tuding Hizbullah terkait Serangan dan Insiden Tewasnya TNI di Lebanon

Danny Danon, Duta Besar untuk Israel dalam pertemuan DK PBB di New York. (Foto: tangkapan layar Youtube AP News)

Jakarta, NU Online

Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Danny Danon menuding Hizbullah terkait serangan yang menyebabkan tewasnya anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Lebanon.


"Terkait serangan yang terjadi kemarin, 30 Maret, kami dapat mengonfirmasi hari ini bahwa pasukan UNIFIL terkena perangkat peledak Hizbullah dalam sebuah insiden di dekat Bani Hayan," ujarnya dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) di New York, dikutip NU Online dari kanal Youtube AP News, Kamis (2/4/2026).


Selain itu, Danon membela pasukan Israel terkait insiden penembakan pada 29 Maret 2026. Ia menyatakan bahwa pasukan Israel tidak melakukan penembakan di wilayah penjaga perdamaian.


"Penembakan terhadap posisi UNIFIL pada tanggal 29 Maret, di mana penjaga perdamaian PBB gugur secara tragis, tidak dilakukan oleh IDF. IDF tidak melakukan tembakan di sekitar posisi tersebut," lanjutnya.


Danon menegaskan bahwa Israel tidak pernah memulai konflik yang terjadi saat ini. Ia menuding Hizbullah yang lebih dulu menembaki Israel dengan alasan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.


Ia lantas mengatakan bahwa serangan dari Israel merupakan upaya pembelaan diri dan langkah untuk membela warga negara.


"Tadi malam, empat tentara Israel gugur di Lebanon selatan. Kami mengingat dan menghormati mereka. Israel tidak akan menerima serangan terhadap warganya, dan kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membela mereka sesuai dengan hukum internasional," ungkapnya.


Danon melaporkan bahwa lebih dari 5.000 serangan roket Hizbullah sejak 2 Maret dinilainya sebagai pelanggaran nyata atas Resolusi PBB 1701 dan 1559. Serangan masif di bawah arahan Teheran tersebut, kata Danon, memaksa ribuan warga sipil kembali mengungsi ke tempat perlindungan.


Selain itu, ia menuding Hizbullah sengaja menempatkan infrastruktur militer, seperti peluncur rudal dan pusat komando, di pemukiman warga dan sangat dekat dengan pos UNIFIL. Strategi ini dianggap sengaja menjadikan personel PBB sebagai perisai di garis api.


Guna menekan risiko, Danon mengklaim telah mengirim surat resmi pada 22 Maret untuk memperingatkan UNIFIL mengenai zona bahaya di wilayah Janbat. Pihak Israel, melalui Danon, juga mendesak reposisi sementara pasukan perdamaian demi menghindari dampak eksploitasi taktis oleh Hizbullah.


Ia mengungkapkan bahwa serangan yang terjadi merupakan cara pihak Israel melindungi komunitas dan menjauhkan ancaman dari perbatasan. Danon menyebut hal tersebut sebagai konsekuensi dari tindakan kelompok teroris yang mengubah seluruh wilayah menjadi medan peperangan.


"Ketika pihak lain gagal, Israel bertindak. Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi rakyat kami," pungkasnya.


Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk PBB Umar Hadi mengutuk keras agresi militer Israel di Lebanon selatan yang dianggapnya sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan wilayah tersebut.


Umar menegaskan bahwa serangan yang terjadi bukanlah sekadar insiden kebetulan, melainkan upaya sengaja untuk melemahkan misi UNIFIL dan menghambat implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, sebab terjadi berulang kali.


"Serangan berulang ini bukanlah sekadar insiden, melainkan serangan yang disengaja untuk melemahkan UNIFIL. Tindakan ini merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," ujarnya.


Umar mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang transparan dan independen. Ia menuntut agar para pelaku diseret ke jalur hukum dan meminta jaminan keamanan penuh bagi seluruh personel PBB yang bertugas di zona konflik agar kejadian serupa tidak terulang kembali.


"Kami menuntut investigasi segera, menyeluruh, dan transparan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan dari Israel. Imunitas tidak boleh menjadi standar; serangan terhadap penjaga perdamaian tidak boleh diulang maupun ditoleransi," tegasnya.


Ia juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk tidak tinggal diam dan segera mengaktifkan protokol keamanan darurat serta rencana evakuasi bagi personel UNIFIL. Sebagai salah satu negara kontributor pasukan terbesar, ia menyampaikan komitmen Indonesia untuk perdamaian dunia namun juga menuntut hasil nyata.


"Sangat penting bagi dewan dan komunitas internasional untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk 'melindungi mereka yang melindungi perdamaian'. Tidak ada lagi serangan," ujarnya.


Sebelum menyampaikan tuntutan, Umar Hadi lebih dulu menyampaikan duka mendalam sekaligus kemarahan atas gugurnya tiga prajurit penjaga perdamaian Indonesia, yakni Mayor Inf. Zulmi Aditya Iscandar (33), Sertu Muhammad Nurwan (25), dan Kopral Farahizal Ramadan (27).


Selain korban jiwa, pihak Indonesia juga melaporkan lima personel lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang terjadi di wilayah Ashit Aluzer dan Banihay tersebut.


Serangan tersebut melukai lima penjaga perdamaian lainnya, yaitu Kapten Sultan Wiran Molana, Kopral Rico Praudia, Kopral Arif Kawan, Kopral Bayou Praoso, dan Cadet Private Denny Ranto.


"Indonesia mendesak semua pihak terkait untuk memastikan repatriasi jenazah ketiga personel yang meninggal dilakukan dengan segera, aman, dan bermartabat, serta meminta perawatan medis terbaik dan komprehensif bagi lima penjaga perdamaian yang terluka," tuntut Umar Hadi.