Jakarta

Mengenal Tangas, Warisan Perawatan Kecantikan dari Betawi

Senin, 12 Januari 2026 | 07:00 WIB

Mengenal Tangas, Warisan Perawatan Kecantikan dari Betawi

Ilustrasi Tangas. (Foto: laman Kebudayaan Betawi)

Jakarta, NU Online

Masyarakat Betawi dikenal memiliki kekayaan tradisi yang tidak hanya tercermin dalam seni dan kuliner, tetapi juga dalam praktik perawatan tubuh. Salah satu warisan perawatan tradisional yang masih dikenang hingga kini adalah Tangas yaitu metode perawatan uap dan pijat berbasis ramuan rempah alami.

 

Melalui uap hangat dan aroma khas yang dihasilkan dari rempah-rempah, menjadikan Tangas tidak hanya sekedar sebagai metode perawatan kecantikan tetapi juga memberikan manfaat kesehatan dan relaksasi, sekaligus menjadi bagian dari tradisi sosial yang telah mengakar dalam kehidupan perempuan Betawi.

 

Jejak Sejarah dan Nilai Budaya Tangas

Dikutip dari laman Seni Budaya Betawi oleh NU Online Jakarta, Tangas telah lama menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan perempuan Betawi. Salah satu momen utama pelaksanaannya adalah menjelang pernikahan. Calon pengantin perempuan menjalani Tangas sebagai simbol pembersihan diri, baik secara fisik maupun batin, sebelum memasuki fase kehidupan baru sebagai istri.

 

Selain itu, Tangas juga kerap dilakukan oleh perempuan setelah melahirkan. Tujuannya adalah membantu pemulihan stamina, mengencangkan tubuh, serta mengembalikan kebugaran pasca persalinan. Karena itu, Tangas tidak sekadar dipahami sebagai perawatan estetika, melainkan juga bentuk kearifan lokal dalam menjaga kesehatan perempuan.

 

Tahapan Perawatan Tangas

Proses Tangas dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis. Tahap awal diawali dengan pemanasan melalui pijatan pada tangan dan kaki guna membuat tubuh rileks. Pada bagian kaki dilakukan teknik pijat khusus seperti tutup tendet atau tekan cabut untuk melenturkan otot.

 

Selanjutnya masuk ke tahap pijatan inti. Beberapa teknik pijat khas diterapkan pada area bokong dan pinggul dengan gerakan seperti uyek inter, seser sodor, dan rapat tenet.

 

Tahapan ini berfungsi membantu melancarkan peredaran darah serta mengendurkan ketegangan otot. Proses berlanjut pada bagian inti tubuh dengan teknik pijat perlahan pada area vital, diikuti gerakan nyengkak dan tendet tarik sebagai penutup rangkaian pijatan.

 

Setelah pijat, tubuh dilanjutkan dengan lulur tradisional. Bahan yang digunakan pun sepenuhnya alami, salah satunya daun beluntas yang dikenal mampu mengurangi bau badan dan merangsang keluarnya keringat. Daun beluntas dicampur dengan beras tumbuk, bunga kemuning, dan perasan jeruk nipis, menghasilkan lulur herbal yang menyegarkan kulit.

 

Ciri khas Tangas juga terletak pada penggunaan beragam rempah dan bunga aromatik seperti kulit jeruk, bunga rampai, melati, mawar, pandan, serai, akar wangi, dan jeruk purut. Semua bahan tersebut direbus untuk menghasilkan uap wangi yang menjadi inti perawatan.

 

Sebagai pelengkap, peserta Tangas biasanya dianjurkan meminum jamu tradisional seperti beras kencur atau bir pletok hangat. Minuman herbal ini berfungsi menghangatkan tubuh sekaligus menambah efek relaksasi.

 

Manfaat Kesehatan dan Kecantikan

Secara kesehatan, uap rempah dari Tangas dipercaya membantu membuka pori-pori kulit, membersihkan kotoran, serta memperlancar sirkulasi darah. Aroma alami dari bunga dan rempah juga memberikan efek menenangkan, membantu meredakan stres, dan membuat tubuh terasa lebih segar.

 

Bagi perempuan setelah melahirkan, Tangas diyakini membantu proses pemulihan rahim serta mengencangkan otot perut. Selain itu, penggunaan lulur dan uap rempah memberi manfaat mengurangi bau badan serta meninggalkan aroma alami yang khas.

 

Di tengah maraknya perawatan modern, Tangas tetap menjadi simbol kearifan lokal Betawi dalam merawat tubuh secara alami. Tradisi ini bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui pemanfaatan rempah-rempah nusantara. Melestarikan Tangas berarti menjaga identitas budaya Betawi agar tidak tergerus zaman.