Cegah Kecelakaan Fatal, Pembalap Reli Nasional Bagikan Tips Hindari Microsleep saat Mudik dan Arus Balik
Selasa, 24 Maret 2026 | 11:00 WIB
Semarang, NU Online
Microsleep atau tidur singkat yang terjadi tanpa disadari saat berkendara menjadi salah satu faktor risiko kecelakaan yang kerap luput dari perhatian pengendara. Kondisi ini sangat berbahaya, terlebih saat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi pada momen mudik atau arus balik lebaran.
Pada kecepatan 60-80 kilometer per jam, memejamkan mata selama tiga detik saja dapat membuat kendaraan melaju puluhan meter tanpa kendali.
Pembalap reli nasional, Rifat Helmy Sungkar, mengingatkan bahwa microsleep bisa terjadi dalam hitungan detik tanpa disadari oleh pengemudi.
"Hal ini biasanya dipicu oleh kelelahan, kurang istirahat, serta menurunnya kadar oksigen dalam tubuh. Gejalanya pun sering kali dianggap sepele, seperti menguap berulang kali, mata terasa berat, pandangan mulai tidak fokus, hingga menurunnya konsentrasi saat mengemudi," kata Rifat Sungkar yang diunggah dalam akun media sosialnya @rifato. Senin (24/3/2026) diberitakan NU Online Jateng.
Menurutnya, kondisi tersebut menandakan tubuh sudah tidak optimal untuk berkendara. Jika dipaksakan, risiko kehilangan kendali kendaraan menjadi sangat besar. Oleh karena itu, pengemudi perlu mengenali tanda-tanda awal microsleep agar dapat segera mengambil tindakan pencegahan.
Untuk mengantisipasi microsleep, terdapat beberapa langkah sederhana namun penting yang dapat dilakukan selama perjalanan. Pertama, membuka kaca mobil guna meningkatkan sirkulasi udara agar kadar oksigen dalam kabin tetap terjaga. Kedua, memperbanyak konsumsi air mineral untuk menjaga hidrasi tubuh. Ketiga, apabila rasa kantuk mulai muncul, pengemudi tidak disarankan untuk memaksakan diri tetap berkendara.
Sebaliknya, segera cari tempat istirahat yang aman, seperti rest area atau lokasi yang diperbolehkan untuk berhenti. Istirahat singkat selama 15-20 menit dinilai cukup efektif untuk memulihkan kondisi tubuh. Dengan beristirahat sejenak, tubuh akan kembali segar dan konsentrasi dapat pulih sebelum melanjutkan perjalanan.
Rifat menegaskan bahwa tujuan utama berkendara bukan sekadar sampai di tempat tujuan, tetapi sampai dengan selamat. Prinsip ini penting untuk dipegang, terutama saat perjalanan jauh seperti mudik Lebaran yang kerap diwarnai kelelahan akibat durasi perjalanan panjang.
Selain kewaspadaan terhadap microsleep, pengemudi juga perlu memahami etika berkendara di jalan tol, khususnya saat diberlakukan rekayasa lalu lintas sistem satu arah (one way). Dalam kondisi ini, pengemudi menggunakan jalur yang tidak biasa, sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan.
Ia menjelaskan, meskipun kendaraan melaju di jalur yang berbeda dari biasanya, posisi setir tetap berada di sisi kanan. Oleh karena itu, jika ingin berhenti, pengemudi tetap harus menggunakan bahu jalan sebelah kiri, bukan kanan.
Kesalahan persepsi kerap terjadi karena pengemudi menganggap sisi kanan sebagai bahu jalan yang aman untuk berhenti. Padahal, tindakan tersebut justru dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Lebih lanjut, pengemudi juga diimbau untuk tidak mencoba kembali ke jalur normal setelah memasuki jalur one way. Rekayasa lalu lintas ini dirancang untuk menjaga kelancaran arus kendaraan secara menyeluruh. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat menimbulkan kemacetan hingga potensi kecelakaan.