Jateng

Liburkan Program MBG, Sejumlah Madrasah di Pati Khawatir Siswa 'Mokel'

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:00 WIB

Liburkan Program MBG, Sejumlah Madrasah di Pati Khawatir Siswa 'Mokel'

Menu MBG (Foto: Angga Saputra/LTNNU Pati)

Pati, NU Online Jateng 

Sejumlah Madrasah di Kabupaten Pati secara resmi menyatakan sikap untuk menolak pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadhan. Kebijakan ini diambil bukan sebagai bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan syariat dalam menjaga kualitas ibadah puasa para santri dan siswa.

 

Sebagaimana diketahui, jadwal pembagian MBG selama Ramadhan tetap sama dengan hari biasa, yakni mulai pagi hingga menjelang adzan Zuhur. Perbedaannya terletak pada jenis makanan yang diberikan. Jika biasanya siswa menerima menu makanan basah seperti nasi dan lauk-pauk siap santap, selama Ramadhan menu diganti menjadi paket makanan kering agar lebih tahan lama dan dapat dinikmati saat berbuka puasa.

 

Meskipun demikian, sejumlah madrasah memutuskan untuk menolak pembagian MBG selama Ramadhan. Beberapa di antaranya adalah sekolah di bawah naungan Yayasan Salafiyah Kajen dan Yayasan Al Ma'ruf Hadiwijaya / PGIP Kajen.

 

Ketua Yayasan Al Ma'ruf Hadiwijaya Kajen, Tomy Roisun Nasih, mengungkapkan bahwa keputusan ini berangkat dari pengalaman lapangan bertahun-tahun sebagai pendidik yang dekat dengan para siswa. Menurutnya, godaan bagi anak-anak untuk membatalkan puasa sebelum waktunya (mokel) sering kali muncul bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena faktor keisengan atau kesempatan.

 

 "Sebagai guru yang dekat dengan murid, saya sering mengecek satu per satu saat Ramadhan. Banyak anak yang jujur bercerita bahwa mereka terkadang tergoda 'mokel' saat pulang sekolah. Bayangan kami, jika anak-anak pulang sambil menenteng paket makanan (MBG), ini bisa menjadi pemicu mereka untuk tidak menyempurnakan puasanya di jalan," ujar Gus Tomy, saat dikonfirmasi, Senin (23/2/2026).

 

Menurut dia, langkah PGIP Hadiwijaya ini didasarkan pada kaidah fiqih yang kuat, "Menolak kerusakan/kemafsadatan harus lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan".

 

Gus Tomy menegaskan bahwa meskipun program MBG memiliki tujuan yang sangat baik (maslahah) untuk gizi anak, namun risiko terjadinya pelanggaran syariat (pembatalan puasa tanpa udzur) menjadi kekhawatiran yang lebih besar (mafsadat).

 

 "Kekhilafan atau kemaksiatan terkadang timbul karena adanya kesempatan. Kami tidak ingin anak-anak terjebak pada hal sepele yang justru merusak pahala ibadah mereka. Menjaga amanah orang tua untuk mendidik karakter dan spiritualitas anak adalah prioritas kami selama bulan suci ini," imbuh Ketua MWCNU Margoyoso ini.

 

 Pihak yayasan menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat situasional hanya selama bulan Ramadhan. PGIP Hadiwijaya tetap mendukung penuh program-program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan siswa.

 

 "Setelah Ramadhan usai, kami akan tetap menerima dan menjalankan program Makan Bergizi Gratis seperti biasa tanpa ada masalah. Ini murni soal momentum penjagaan ibadah di bulan puasa," tegas Gus Tomy.

 

Ketua Umum Yayasan Salafiyah Kajen Pati, KH Ubaidillah Wahab, mengonfirmasi bahwa keputusan diliburkannya MBG selama Ramadhan diambil demi menjaga kekhusyukan ibadah siswa. Ia menekankan pentingnya mencegah siswa membatalkan puasa di sekolah atau yang biasa disebut mokel.

 

"Iya (tidak menerima selama Ramadan) untuk menjaga supaya ibadah Ramadan-nya tidak terganggu dengan MBG. Agar tak membatalkan puasa,” ujar dia.

 

Ia menjelaskan bahwa opsi pembagian MBG pada sore hari menjelang berbuka puasa juga tidak memungkinkan, mengingat jam operasional madrasah yang sudah berakhir pada siang hari.

 

"Kalau sore siapa nanti karena madrasah itu pulangnya tidak sampai sore. Tidak ada saran saya. Yang penting di yayasan kami terjaga baik ibadah puasanya. Namanya madrasah basic-nya Pesantren,” tutur dia.

 

Selengkapnya klik di sini.