Ngaji Kentong Ramadhan, Gus Kikin Jelaskan Filosofi Keilmuan dari Kentongan
Senin, 23 Februari 2026 | 08:00 WIB
Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz saat membuka hari pertama ngaji dengan memukul kentongan berkali-kali di Aula Lantai 1 PWNU Jatim. (Foto: dok NU Online Jatim)
Surabaya, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz mengenalkan filosofi keilmuan dari kentong/kentongan saat membuka Kajian Ramadhan bertajuk Kentong Ramadhan 1447 H yang melibatkan lembaga dan badan otonom/banom di lingkungan PWNU Jatim.
“Soal kentong atau kentongan ini pernah menjadi perdebatan antara Rais Akbar NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim dengan Wakil Rais Akbar KH Faqih Maskumambang,” kata Kiai Kikin sapaan akrabnya saat membuka hari pertama ngaji dengan memukul kentongan berkali-kali di Aula Lantai 1 PWNU Jatim, Sabtu (21/02/2026) diberitakan NU Online Jatim.
Cicit Mbah Hasyim itu menerangkan, hal menarik dari perdebatan kedua pimpinan tertinggi NU adalah solusi penyelesaian yang bersifat keilmuan. Mbah Hasyim dan KH Faqih Maskumambang menyelesaikan perbedaan pendapat soal kentongan itu melalui tulisan secara ilmiah pada media.
“Ada filosofi keilmuan dalam penyelesaian pendapat, sehingga penyelesaian pendapat secara ilmiah pun menjadi tradisi. Jadi ada filosofis secara keilmuan di kalangan NU,” terangnya.
Secara filosofis keilmuan, kedua pimpinan tertinggi NU itu juga menyikapi perbedaan pendapat dengan saling menghormati, bukan saling menyalahkan. Saat Kiai Faqih Maskumambang yang tidak setuju kentong itu berkunjung ke Jombang, maka Mbah Hasyim menurunkan kentong di masjid pesantren. Sebaliknya, Kiai Faqih Maskumambang juga sibuk mencari kentong saat Mbah Hasyim berkunjung.
Terkait ngaji yang dilaksanakan pada 3-27 Ramadhan 1447 H atau 21 Februari hingga 17 Maret 2026 itu, Kiai Kikin menilai kentong itu sendiri bermakna pukul/pukulan atau panggil/panggilan untuk melakukan ibadah secara bersama-sama, baik shalat maupun ibadah lain seperti tholabul ilmi (mencari ilmu).
“Ngaji kentong Ramadhan ini merupakan panggilan atau ajakan untuk mencari ilmu bersama-sama yang melibatkan lembaga dan banom di lingkungan PWNU Jatim, apalagi Al-Qur’an itu merupakan sumber ilmu yang memiliki semua solusi keselamatan dalam kehidupan di dunia hingga akhirat, apalagi kajian Al-Qur’an di bulan Ramadhan,” ungkapnya.
Hal itu dibenarkan Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PWNU Jatim, KH Syukron Jazilan Badri yang mendapatkan jadwal pertama mengisi kentong Ramadhan. Dalam paparannya, di Indonesia sendiri, Islam yang lebih mengedepankan toleransi dan saling belajar justru menyelesaikan permasalahan kemajemukan bangsa, sehingga Islam yang ramah justru menyelesaikan masalah kebangsaan tanpa masalah, namun dalam menjalankan Islam perlu ada pelurusan niat agar tidak salah/keliru.
“Kita perlu meluruskan niat dalam beragama. Ibadah dalam Islam seperti shalat, puasa, dan sebagainya itu bukan bertujuan mencari pahala surga, tapi mencari karunia dan ridha Allah, karena kalau semuanya untuk Allah, maka Allah akan berikan semuanya, jadi kita perlu menata niat. Islam mengajarkan ibadah bernilai tertinggi adalah iman, kalau harta justru memiliki nilai ibadah paling rendah karena bisa hilang,” paparnya.
Diketahui, kegiatan ini melibatkan 18 lembaga dan 14 banom. Nantinya, hari terakhir akan ditutup dengan Buka Puasa Bersama (Bukber) PWNU dengan PCNU se-Jatim.
Setelah LDNU secara berurutan adalah LP Ma’arif NU/RMINU, Ahad (22/2/2026) bertajuk Pendidikan Humanis-Religius: Kunci Membangun Peradaban NU dengan narasumber Prof Masdar Hilmy, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim dan dihadiri 25 pengurus dan 40 kepala sekolah.
Selanjutnya, LPNU, LPPNU, LKKNU, Lakpesdam NU, LPBHNU/LWPNU, Lesbumi, LAZISNU, LBMNU/Aswaja Center, LKNU, LFNU, LPTNU, LTNU/LTMNU, LPBINU/SNNU, lalu banom yakni Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor/Pagarnusa, JQHNU/PMII, IPNU-IPPNU, JATMAN NU, ISNU/Sarbumusi, Pergunu/Ishari.