Jatim

Waketum ISNU Jelaskan Spiritualitas Modern Jadi Alasan Indonesia sebagai Negara Paling Bahagia

Kamis, 5 Maret 2026 | 07:00 WIB

Waketum ISNU Jelaskan Spiritualitas Modern Jadi Alasan Indonesia sebagai Negara Paling Bahagia

Waketum PP ISNU Prof Mas’ud Said. (Foto: NOJ/ISt)

Surabaya, NU Online Jatim

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Prof HM Mas’ud Said menekankan pentingnya spiritualitas modern yang berdasarkan berbagai riset global justru membuat Indonesia berada dalam peringkat teratas sebagai negara paling bahagia dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh (flourishing).


“Berdasarkan riset terbaru Universitas Harvard, salah satu universitas top dunia yang berkolaborasi dengan Baylor University, dan lembaga riset ternama dunia Gallup, yang secara mengejutkan Indonesia menempati peringkat teratas sebagai negara paling bahagia di dunia dengan indikator kesejahteraan menyeluruh yakni kesehatan, makna hidup, karakter/relasi sosial, dan ketahanan finansial,” katanya di Surabaya, Selasa (3/3/2026).


Saat mengisi kegiatan Ramadhan Cendekia di Kantor PW ISNU Jatim, Prof Mas’ud Said memaparkan riset bertajuk ‘Global Flourishing Study’ yang mengkaji lebih dari 203.000 responden di 22 negara dalam periode riset selama 3 tahun (2022-2024), lalu dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health pada Mei 2025 yang dilaporkan oleh Dr Bryron Johnson.


“Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas, dengan skor perkembangan sebesar 8,3. Diikuti oleh Israel (7,87), Filipina (7,71), Meksiko (7,64), dan Polandia (7,55). Temuan baru adalah rata-rata negara barat, negara maju kurang bahagia, banyak masalah kemanusiaan.  Riset ini menyimpulkan bahwa harta dan ekonomi bukan segala-galanya,” terangnya.


Menurutnya, nilai-nilai Asia yang dikembangkan Indonesia dan negara Asia lainnya itu disebabkan oleh kedekatan Indonesia dengan nilai-nilai Islam yang dekat dengan NU. Hal yang dimaksud adalah nilai rahmatan lil alamin atau nilai agama yang bukan sebatas ritual atau ibadah di masjid, namun berbasis nilai-nilai kemanusiaan (pelayanan/pengabdian masyarakat) yang bisa disebut sebagai spiritualitas modern.


“Spiritualitas modern itu dicontohkan dalam riset World Giving Index yang dilakukan oleh Charity Aid Foundation pada tahun 2023- 2024 tentang bangsa yang suka charity, suka memberi, dan suka sedekah,” ungkapnya.


Lebih lanjut, ternyata tokoh dunia yang kaya seperti Bill Gates, Warren Buffett, Azim Premji, Charles Franceis Feeney, dan Mark Zuckerberg justru semakin kaya setelah menjadi dermawan. Bill Gates menjadi salah satu crazy rich dunia yang paling dermawan. Bos Microsoft ini tercatat telah menyumbangkan hartanya hingga US$27 miliar. Indeks kedermawanannya mencapai 32 persen, sedang Warren Buffett (CEO Berkshire Hathaway) juga menjadi filantropis yang paling dermawan. Ia telah menyumbang 21,5 miliar dolar AS. Indeks kedermawanannya mencapai 35 persen.


Selengkapnya klik di sini.