JATMAN Bedah Akar Klaim Spiritualitas Palsu dalam Tarekat
NU Online · Jumat, 2 Januari 2026 | 22:00 WIB
Diskusi bulanan JATMAN di Plaza Gedung PBNU, Jakarta, pada Jumat (2/1/2026). (Foto: NU Online/Risky)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) menggelar Diskusi Tasawuf dan Tarekat Bulanan di Plaza PBNU, Jl Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2026) malam. Pertemuan kelima mengusung tema berjudul Merespons Fenomena Kontroversi Kelompok Spiritualitas Palsu, Bagaimana Penanganannya?
Agenda ini dihadiri oleh Koordinator Lajnah Mubahatsah Masa'ilis Shufiyyah Idarah Aliyah JATMAN KH Rohimuddin Al-Bantani. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan beberapa alasan yang menjadi akar tumbuhnya tindakan klaim palsu atas laku tasawuf.
Menurutnya, hal demikian antara lain disebabkan oleh keinginan yang tinggi tanpa diimbangi dengan upaya secara sungguh-sungguh.
"Biasanya orang mengaku-ngaku itu karena malas. Keinginan nggak tercapai maka alternatifnya ya mengaku-ngaku," kata Kiai Rohimuddin sembari memegang makalah berisi pembahasan seputar tema di atas.
Klaim palsu biasanya terjadi disebabkan oleh kecintaan terhadap kemewahan dan gandrung akan popularitas. Meski demikian ia menegaskan bahwa tasawuf atau laku tarekat bukan untuk menafikan dua hal tersebut melainkan menyikapinya secara seimbang.
Akar selanjutnya yakni gemar menampakkan diri secara sosial dengan mengenakan jubah kewalian. Jubah ini dimanfaatkan untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya atau kepentingan pribadinya, bukan untuk mengajak mengabdi kepada Allah.
"Lemahnya pengetahuan syariat juga menjadi akar dari klaim palsu ini. Dia mengira itu waridat (anugerah Allah) padahal tahayyulat (khayalan)," jelas Mursyid Thariqah Al-Qadiriyah itu.
Ia pun mengutarakan, faktor lain tak kalah penting yang menyorong seseorang ke klaim palsu itu kurangnya pengetahuan terhadap hakikat tasawuf. Mereka yang mengaku-ngaku disebut kerap tak memahami makna definitif terkait nomenklatur tasawuf.
"Berikutnya yakni terputusnya sanad. Sanad yang paling penting dalam tasawuf itu asrar (terahasia). Ketika (sanad) itu terputus maka akan timbul mengaku-ngaku. Ini mesti ditegaskan betul-betul kepada para salikin," tandasnya Kiai Rohimuddin.
Senada, Sekretaris Umum Idarah Aliyah JATMAN KH Ali M Abdillah mengatakan bahwa klaim palsu atau mengaku-ngaku melakukan tindakan tasawuf adalah fenomena dari zaman dahulu yang masih terjadi hingga hari ini. Ia menyayangkan tindakan itu sebab berimbas pada tasawuf dan tarekat.
"Fakta di lapangan berbagai bentuk pengakuan-pengakuan tadi dengan beragam modelnya ini, justru menyebabkan citra tasawuf dan tarekat semakin runtuh. Sebab tindakan mereka tidak sesuai dengan ilmu-ilmu dalam tasawuf dan prinsip-prisip tarekat," katanya.
Ia menilai bahwa hal demikian terjadi lantaran adanya tipu daya iblis yang tak disadari umat Islam tak terkecuali para salikin.
"Jadi penyesatan-penyesatan ini otaknya ya iblis, yang masuk ke semua elemen termasuk para kalangan sufi," ujar Kiai Ali yang tampak mengenakan songkok hitam dengan baju putih.
Dengan demikian, agar terhindar dari jebakan-jebakan penyesatan itu ia mengajak para pengamal tarekat untuk selalu membuka diri dengan ilmu-ilmu baru berkaitan dengan tasawuf.
"Maka bagi orang yang sudah ngaji tasawuf atau tarekat jangan sampai lepas Al-Hikam, Bidayah, Ihya' itu jangan sampai lepas, karena itu sebagai cermin," tuturnya.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua