19 Tahun Aksi Kamisan, Baskara Putra Tekankan Pentingnya Merawat Ingatan sebagai Bentuk Perlawanan
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:00 WIB
Musisi Baskara Putra saat menyampaikan refleksi dalam Peringatan 19 Tahun Aksi Kamisan di depan Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (15/1/2026). (Foto: NU Online/Fathur)
Jakarta, NU Online.
Aksi Kamisan Ke-893 yang digelar di Taman Pandang, depan Istana Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026) tidak hanya menjadi ruang tuntutan keadilan bagi keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), tetapi juga ruang refleksi lintas generasi tentang pentingnya menjaga ingatan dan melawan lupa.
Pada peringatan 19 tahun Aksi Kamisan ini, musisi Baskara Putra turut menyampaikan materi reflektif tentang perjalanannya memahami makna Aksi Kamisan. Ia menekankan pentingnya merawat ingatan sebagai bentuk perlawanan.
Baskara mengenang pertemuan pertamanya dengan Aksi Kamisan saat masih duduk di bangku SMP, pada tahun-tahun awal aksi tersebut digelar. Ia mengaku saat itu belum memahami sepenuhnya alasan orang-orang berkumpul setiap Kamis dengan pakaian serba hitam di bawah terik matahari.
“Di bangku SMP beberapa tahun lalu, itu mungkin di tahun pertama atau tahun kedua Kamisan. Seingat saya waktu itu di berita pun juga judulnya belum jadi Aksi Kamisan gitu. Cuman seperti anak umur segitu, anak SMP pada umumnya masih banyak ketidakpahaman di kepala saya,” ujar Baskara.
Ia menggambarkan kebingungannya kala itu melihat peserta aksi yang terus datang setiap pekan, mempertanyakan kemarahan dan urgensi yang mendorong mereka bertahan begitu lama.
“Ini kenapa gitu, kenapa orang-orang ini ngumpul, bajunya gelap-gelap, kenapa kuat lawan matahari, trek-trek. Emang nggak ada kegiatan lain, emang nggak ada kerjaan atau apa,” lanjutnya.
Pemahaman Baskara terhadap Aksi Kamisan mulai berubah seiring bertambahnya usia dan perjumpaannya dengan lingkungan kampus. Ia beberapa kali diajak hadir ke Aksi Kamisan dan mulai mengenal figur-figur keluarga korban, termasuk Sumarsih, ibu dari Wawan yang menjadi korban pelanggaran HAM pada tragedi Semanggi I.
“Cuman sembari berjalan gitu, sembari bertumbuh dewasa, akhirnya saya mulai paham, saya mulai ngerti. Terutama juga setelah punya kesempatan untuk bicara langsung, ngobrol langsung dengan Bu Sumarsih,” katanya.
Dari perjumpaan tersebut, perspektif Baskara justru berbalik. Ia mempertanyakan bagaimana keluarga korban mampu bertahan dengan kemarahan yang terkelola, meski memikul luka yang begitu dalam.
“Tapi kebalik, saya malah mikir, kok bisa marahnya segini doang? Kok bisa kayak mereka nggak lebih marah, nggak lebih sedih, nggak lebih kecewa dari ini,” ucapnya.
Baskara menuturkan pengalamannya mendengarkan langsung kisah Sumarsih tentang perampasan nyawa anaknya sebagai pengalaman emosional yang tidak mudah diolah, apalagi ditransformasikan menjadi perjuangan jangka panjang.
“Terakhir saya ke rumah beliau, beliau cerita panjang, detail, kronologi bagaimana wawan dirampas, nyawanya ditembak oleh peluru standar militer. Itu bukan hal sepele buat saya,” tuturnya.
Menurut Baskara, Aksi Kamisan adalah ruang yang tidak mudah dijalani, karena menuntut kemampuan mengolah kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan menjadi solidaritas yang konsisten dari pekan ke pekan.
“Ini bukan hal mudah, ini bukan hal sepele. Bisa mengolah kemarahan tersebut untuk mendorong kita semua, kawan-kawan semua, untuk bersolidaritas tiap minggu, tiap Kamis,” katanya.
Ia juga menyinggung masih banyaknya kasus pelanggaran HAM yang tidak mendapatkan ruang pemberitaan memadai, sehingga Aksi Kamisan menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga ingatan publik.
Baskara mengaku kerap merasa sakit hati melihat komentar publik yang meremehkan Aksi Kamisan, termasuk anggapan bahwa isu pelanggaran HAM hanya dimunculkan menjelang pemilu.
“Sumpah, gue nggak tiap minggu di sini, tapi gue yang sakit hati bacanya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut mendorong Baskara untuk menggunakan ruang keseniannya sebagai medium keberpihakan, termasuk memasukkan narasi Aksi Kamisan ke dalam karya musiknya. Ia menilai seniman memiliki peran penting sebagai penjaga cerita dan estafet ingatan lintas generasi.
“Karena menurut saya kejahatan itu bisa lahir kembali, karena itu seperti siklus, mudah, caranya cuma satu, kalau kita lupa sama cerita, dan sejarah itu cerita,” kata Baskara.
Baginya, keberpihakan tidak harus selalu hadir di ruang-ruang aktivisme formal, tetapi juga dapat hidup di ruang budaya populer.
“Saya selalu bilang dan saya selalu percaya bahwa keberpihakan itu bisa dilakukan bahkan di ruang-ruang budaya populer,” ujarnya.
Baskara mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengambil posisi dan menjaga ingatan kolektif dengan cara apa pun.
“Jangan pernah mikir kalau keberpihakan itu bisa dilakukan. Itu selalu bisa dilakukan selama kita mau melakukan keberpihakan tersebut,” pungkasnya.