Nasional

Akademisi Nilai Inovasi Hijau Jadi Solusi Penanggulangan Bencana Ekologis di Sumatra

Sabtu, 3 Januari 2026 | 12:00 WIB

Akademisi Nilai Inovasi Hijau Jadi Solusi Penanggulangan Bencana Ekologis di Sumatra

Kendaraan yang mengangkut bantuan merayap pelan melalui jalan berlumpur akibat banjir dan tanah longsor di Aceh, Desember 2025. (Foto: NU Peduli)

Jakarta, NU Online 

Dampak bencana alam banjir dan tanah longsor belum usai. Semua upaya telah dikerahkan untuk meminimalisir endapan lumpur dan bongkahan kayu yang serampangan merusak jalan dan pekarangan rumah warga. Dalam hal ini, inovasi hijau menjadi solusi untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat dan meminimalisir dampak kerusakan lingkungan. 


Akademisi dan praktisi lingkungan, Zulfikar menilai inovasi hijau menjadi langkah menerapkan berbagai ide, teknologi, kebijakan, atau praktik baru yang ramah lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan. 


"Dalam konteks penanggulangan bencana ekologis, inovasi hijau bertujuan untuk mencegah, mengurangi risiko, serta memulihkan dampak bencana dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem, seperti pengelolaan lahan berkelanjutan, teknologi peringatan dini berbasis lingkungan, dan restorasi alam," ucap Zulfikar kepada NU Online, Sabtu (3/1/2026).


Ia menjelaskan Pulau Sumatra memiliki tingkat kerentanan ekologis yang tinggi, seperti deforestasi, kebakaran hutan dan lahan gambut, banjir, serta longsor. 


"Pendekatan inovasi hijau penting karena dianggap mampu menjawab tantangan tersebut tanpa memperparah kerusakan lingkungan, sekaligus mendukung pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan adil bagi masyarakat lokal atau setempat," ujarnya.

 

Zulfikar menyebut pelaksanaan inovasi hijau ini tentunya memperhatikan Prinsip-prinsip utama, seperti keberlanjutan lingkungan, efisiensi sumber daya, keadilan sosial, partisipasi masyarakat, pencegahan kerusakan sejak dini, serta keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan ekologi dalam jangka panjang.


Di samping itu, kehadiran teknologi ramah lingkungan dapat meminimalisir kemasifan bencana alam. "Menurut saya teknologi ramah lingkungan berperan sangat penting melalui sistem peringatan dini, pemantauan berbasis satelit, pengelolaan air dan lahan yang berkelanjutan, serta penggunaan energi bersih," jawabnya.


Sebagaimana teknologi pemantauan kelembaban gambut dapat mencegah kebakaran hutan, sementara rekayasa ekologi dapat mengurangi risiko banjir dan longsor.


Tantangan terbesar inovasi hijau di Sumatra
Menurut Zulfikar, tantangan terbesar meliputi konflik kepentingan lahan, lemahnya penegakan hukum lingkungan, keterbatasan pendanaan, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat, serta tekanan ekonomi yang mendorong eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

 

"Inovasi hijau ini jadi jalan terbaik untuk pemulihan ekosistem hutan sekaligus mencegah deforestasi. Namun dibalik itu, tantangan lainnya juga cukup besar," terang Zulfikar, selaku Dosen Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah.


Selain tantangan tersebut, kebijakan yang tidak konsisten, minimnya insentif pendanaan, dan rendahnya pemahaman masyarakat dapat menghambat implementasi inovasi hijau.

 

"Tanpa dukungan regulasi yang kuat dan partisipasi publik, inovasi hijau sulit diterapkan secara luas dan berkelanjutan," sahutnya.

 

Maka dari itu, perlunya kolaborasi antara akademisi, aktivis lingkungan, lembaga lingkungan, pemerintah, industri, dan masyarakat. Sinergitas antar pihak terkait akan memperbesar keberhasilan inovasi hijau dalam jangka panjang.


"Kolaborasi itu sangat penting karena inovasi hijau membutuhkan pendekatan multidisipliner. Akademisi menyediakan kajian ilmiah, aktivis dan lembaga lingkungan mengawal isu keberlanjutan, pemerintah membuat kebijakan, industri menerapkan inovasi, dan masyarakat menjadi pelaku utama di lapangan," pungkasnya.


Kendati demikian, konflik internal antara kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan kerap terjadi. "Menurut pengamatan saya konflik tersebut masih ada, terutama dalam sektor perkebunan, pertambangan, dan kehutanan. Solusinya adalah menerapkan konsep ekonomi hijau, di mana pertumbuhan ekonomi tetap berjalan namun berbasis pada praktik ramah lingkungan, tata kelola yang transparan, serta tanggung jawab sosial dan ekologis," paparnya.


Oleh karena itu, memanfaatkan kearifan lokal masyarakat Sumatra dapat mendukung inovasi hijau untuk sistem pengelolaan hutan adat, pertanian tradisional, dan pola hidup selaras dengan alam, sangat mendukung inovasi hijau. 

 

"Nilai-nilai ini terbukti menjaga keseimbangan ekosistem dan dapat dikombinasikan dengan teknologi modern untuk menciptakan solusi yang kontekstual dan berkelanjutan," tandasnya.

 

=========

Bagi masyarakat yang ingin berdonasi, bantuan dapat disalurkan melalui NU Online Super App dengan mengklik banner “Darurat Bencana” di halaman beranda atau melalui laman filantropi NU di filantropi.nu.or.id/solidaritasnu.