Al-Quran di Tengah Lumpur; Wakaf Ulama Aceh Tengah Kuatkan Jiwa Warga Linge Pascabanjir
NU Online · Sabtu, 3 Januari 2026 | 11:00 WIB
Mushaf Al-Quran disalurkan Majelsi Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah untuk menguatkan hati dan ketenangan para penyintas, Desember 2025. (Foto: istimewa)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Tengah, NU Online
Banjir yang melanda Kecamatan Linge, Aceh Tengah, pada penghujung tahun 2025 menyapu rumah-rumah, merendam ladang, dan meninggalkan lumpur tebal di halaman serta ruang-ruang ibadah. Namun, yang paling berat bukanlah kerusakan fisik semata, melainkan luka batin yang ditinggalkan; rasa kehilangan, cemas akan hari esok, dan kelelahan jiwa setelah berhari-hari bergulat dengan bencana.
Di tengah suasana duka itulah, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah memilih hadir dengan pendekatan yang berbeda. Bukan hanya bantuan logistik, tetapi wakaf Al-Quran, sebuah ikhtiar yang menyentuh sisi paling dalam dari proses pemulihan pascabencana: penguatan iman dan ketenangan hati.
Rombongan MPU Aceh Tengah mendatangi Kampung Kute Reje, Kecamatan Linge, salah satu wilayah yang terdampak banjir cukup parah. Penyerahan bantuan dilakukan oleh Jalaluddin, didampingi Wakil I Tgk. Yahya Arias dan Wakil II Tgk. Mursyidin, kepada Camat Linge dan Reje Kampung Kute Reje, untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat.
Tgk Mursyidin Wakil Ketua MPU Aceh Tengah kepada NU Online, Kamis,(1/1/2026) mengatakan pada tahap awal ini, sebanyak 153 mushaf Al-Qur’an disalurkan. Jumlahnya mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan kebutuhan fisik pascabencana. Namun nilainya jauh melampaui angka, karena membawa pesan bahwa di tengah keterbatasan, harapan dan pegangan hidup tetap dijaga.
“Al-Qur’an ini kami wakafkan agar menjadi penguat hati saudara-saudara kita yang sedang diuji,” ujarnya. Alumni Dayah MUDI Samalanga itu menambahkan musibah bukan hanya tentang kehilangan materi, tetapi juga ujian bagi keteguhan iman dan kesabaran manusia.
Bagi warga Kute Reje, banjir telah mengubah banyak hal. Sawah yang menjadi sumber penghidupan tertutup lumpur. Perabotan rumah tangga rusak. Sebagian mushala dan kitab-kitab keagamaan ikut basah, bahkan hanyut terbawa arus. Dalam kondisi seperti itu, Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai kitab suci, tetapi sebagai teman yang menenangkan.
Seorang warga setempat mengisahkan bahwa setelah banjir, banyak masyarakat memilih berkumpul di meunasah pada waktu-waktu tertentu, bukan hanya untuk membersihkan lumpur, tetapi juga untuk berdoa bersama.
“Kalau badan capek, hati juga ikut lelah. Mengaji itu yang membuat kami kuat,” tuturnya.
MPU Aceh Tengah menurut Tgk Mursyidin memahami betul kebutuhan ini. Wakaf Al-Qur’an dipilih sebagai simbol bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada bangunan dan infrastruktur. Ada ruang batin yang harus diisi, ada trauma yang perlu disembuhkan dengan ketenangan spiritual.
Lebih lanjut ia menambahkan , program wakaf Al-Qur’an ini masih terus dibuka. Donasi dihimpun dari anggota MPU serta partisipasi masyarakat yang tergerak membantu. Seluruh mushaf yang terkumpul akan disalurkan secara bertahap ke wilayah-wilayah terdampak musibah di Aceh Tengah.
“Kami berharap Al-Qur’an ini mampu mengisi hati yang sedang bersedih. Ketika rumah rusak, harta hilang, setidaknya iman tidak runtuh,” sambungnya.
Langkah MPU Aceh Tengah ini menjadi pengingat bahwa bencana alam sejatinya adalah momentum kehadiran nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. Di saat negara dan berbagai pihak sibuk menghitung kerugian serta merancang program pemulihan, para ulama hadir mengingatkan bahwa manusia juga butuh dikuatkan dari dalam.
Camat Linge yang menerima langsung bantuan tersebut menyampaikan apresiasi atas kepedulian MPU Aceh Tengah. Ia menilai bantuan wakaf Al-Qur’an sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Warga kami sedang berjuang bangkit. Bantuan ini memberi semangat dan ketenangan,” katanya.
Sementara itu, Reje Kampung Kute Reje menambahkan bahwa Al-Qur’an yang diterima akan dibagikan ke mushala, meunasah, dan rumah-rumah warga yang membutuhkan. Ia berharap kegiatan mengaji dan pengajian rutin bisa kembali hidup sebagai bagian dari pemulihan sosial masyarakat.
Banjir memang telah mengubah wajah kampung. Namun di balik lumpur yang masih menempel di dinding rumah, suara lantunan ayat suci mulai kembali terdengar. Anak-anak belajar mengaji, orang tua membaca Al-Qur’an di sela-sela membersihkan sisa-sisa bencana. Dari sanalah perlahan harapan tumbuh.
============
Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner "Darurat Bencana" yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut: filantropi.nu.or.id.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua