Tiba di Merauke, Ekspedisi Islam Nusantara berada di paling timur Indonesia. Di kabupaten ini, mereka dapat memotret kehidupan antarumat beragama antaretnis. Perbedaan identitas itu tidak menjadi penghambat bagi tatanan kehidupan sosial, malah sarat dengan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan.
Di Merauke hidup bersama antara penganut Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha. Identitas mereka juga terdiri dari berbagai etnik mulai suku asli Marind, Asmat, hidup berdampingan dengan pendatang Bugis, Jawa, Sunda, Melayu, Minang, Batak, Timor, Sumba, Kei, dan lain-lain. Mereka tersebut di 20 distrik (kecamatan), 8 kelurahan, dan 160 kampung (desa)
Kondisi semacam itu, bagi Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Merauke adalah sunatullah. “Membangun tatanan kehidupan yang demikian ini memang bukanlah hal mudah. Ini butuh keseriusan segenap elemen bangsa termasuk di dalalmnya organisasi-organisasi kepemudaan,” ungkap Ketua PC GP Ansor Merauke Syah Muhar M. Zen kepada Ekspedisi Islam Nusantara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Merauke, Papua, Kamis malam (19/5).
Jika seluruh elemen masyarakat memilki cita-cita bersama hidup berdampingan, maka Merauke adalah tanah animha; tanah manusia sejati. “Yang di maksud tanah animha adalah tanah dimana manusia-manusia yang hidup di dalamnya tertanam nilai-nilai kesempurnaan dan sarat dengan semangat izakod bekai izakod kai; satu hati satu tujuan,” jelas Muhaya Sawa, Bendahara PC Ansor Merauke menambahkan.
Bagi GP Ansor Merauke menanamkan nilai-nilai animha adalah cita-cita organisasi,” sela Idris Sarwadan, Sekretaris PC Ansor Merauke.
Komandan Banser Merauke Rusmin Ipakdalam mencontohkan bagaimana kerja sama antara GP Ansor dan pemuda Merauke. Jika GP Ansor mengadakan kegiatan, pemuda pemeluk agama lain turut membantu memasang bendera-bendera Ansor di pinggir jalan. (Abdul Muiz Syaerozie/Abdullah Alawi)