Bolak-Balik Pengungsian, Perempuan Lansia Aceh Tamiang Bersihkan Rumah dari Lumpur Setinggi Lutut
Selasa, 30 Desember 2025 | 07:00 WIB
Jakarta, NU Online
Empat hingga lima hari setelah banjir bandang melanda Aceh Tamiang, Siti Jamaliah (71) masih mondar-mandir dari pengungsian ke rumahnya. Perempuan lanjut usia itu tak sekadar menengok, tetapi berjuang menghadapi lumpur setinggi lutut yang mengendap di setiap sudut rumahnya. Hingga kini, ia mengaku tak ada bantuan khusus untuk membersihkan rumah warga, memaksanya mencari jalan sendiri di tengah keterbatasan.
Banjir datang tiba-tiba pada pagi hari. Siti Jamaliah masih ingat betul detik-detik air mulai masuk.
“Ibu tahunya di rumah tiba-tiba jam 7 atau jam 8 gitu loh habis sarapan. Ibu meninjau ke sana, rupanya dari sana, dari depan rumah sakit udah masuk. Jadi Ibu kan waktu pulang, orang udah berteriak-teriak ‘siap-siap’ katanya. Ibu tadi baru menyelesaikan masukkan kompor lah ke dalam mukena Ibu kan begitu masuk, air udah segini,” tuturnya pada Senin (29/12/2025).
Ia juga menyampaikan bahwa banjir bukan hanya berasal dari curah hujan yang lebat, melainkan adanya penebangan pohon secara besar-besaran.
“Karena daerah pegunungan sana tuh, banyak orang nebang kayu, gitu ibu dengar ya. Yang lain masjid rubuh, dari yang sana tuh habis semua. Ada rumah tingkat tiga pun habis (terhempas banjir bandang),” katanya sambil menunjuk kawasan yang dipenuhi kayu gelondongan.
Air bercampur lumpur datang dari berbagai arah. “Air sama lumpur. Dari rumah sakit, sama dari belakang, dari sana masuk. Dari parit depan ini masuklah semua air tadi,” imbuhnya.
Saat itu, situasi berubah cepat menjadi kepanikan. Keponakannya datang menjemput ketika air sudah setinggi pinggang orang dewasa. “Jadi keponakan Ibu datang, kami kan jalan di sini udah sepinggang. Itulah kami gak bisa bawa apa lagi Ibu memang, habis,” ujarnya lirih.
Siti Jamaliah kemudian mengungsi ke masjid. Beberapa hari berlalu, ia memberanikan diri kembali ke rumah untuk melihat kondisi. Lumpur masih tebal, pintu rumah nyaris tak bisa dibuka.
“Ibu sudah 4 sampai 5 hari pulang nengok rumah. Rumah enggak bisa terbuka, kami minta tolong sama ada dua orang anak muda, karena rumah Ibu tadi lumpurnya selutut,” katanya.
Namun bantuan membersihkan rumah tak datang secara cuma-cuma. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya sendiri.
“Kemarin Ibu minta tolong sama orang, ini habis lah 3 juta untuk Ibu sini aja. Karena di depan Ibu kan, orang bilang udah kering ini air. Kemana lah kita nanti orang udah pulang pengungsian Ibu bilang gitu kan” ucapnya sambil menangis.
Biaya itu dibayarkan kepada tiga orang yang ia minta bantuan. “Sama orang kami suruh, tiga orang. Kami sendiri inisiatif sendiri bayar. Karena kami gak ada lagi siapa kami minta tolong dan biasanya kalau enggak dibayar enggak ada yang mau bersihin,” jelasnya.
Uang tersebut berasal dari adiknya, Sahara (70), seorang guru ngaji. “Adik saya yang mengeluarkan biaya. Dia seorang guru ngaji kan. Jadi adalah duit dikit dia bilang, ‘Kak ada duit belanja kita kak,’ katanya. Saya bilang biarlah kita tolong ini dulu saya bilang gitu,” ucap Siti Jamailah.
Ia mengaku seumur hidup baru kali ini mengalami banjir sebesar ini. “Kami memang enggak pernah mengalaminya, baru inilah maka terasa,” ujarnya.
Kini, dua perempuan lansia itu hanya berharap bisa kembali tinggal di rumah meski sederhana. “Kalau Ibu yang pertama membantu untuk rehab rumah, itu yang Ibu harapkan,” tuturnya.
============
Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner "Darurat Bencana" yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut https://filantropi.nu.or.id/solidaritasnu