Ekspedisi Isam Nusantara menginjakan kaki di Nol Kilometer Indonesia di sebelah timur, di Kecamatan Sota, Kabupaten Merauke, Papua, 19 Mei 2016. Di tempat tersebut mereka mengeksplorasi tugu perbatasan, kemudian berkunjung ke perkampungan warga untuk mencari data dan mewawancarai penduduk setempat.
Untuk menuju ke tugu perbatasan, mereka harus melawati pos panjagaan yang dikawal TNI. Pos tersebut berfungsi untuk penjagaan keamanan lintas negara baik warga yang datang dari Papua Nugini menuju Indonesia atau sebaliknya.
Setelah melewati pos penjagaan, Ekspedisi Isam Nusantara diperbolehkan masuk ke tugu perbatasan yang merupakan tanda titik nol teritorial negara Indonesia di sebelah Timur.
Sebelum masuk ke tugu, terdapat gapura yang bertuliskan bahasa Inggris Fiji menghadap ke negara Indonesia, dan pada sisi satunya menghadap ke Papua Neugini bertuliskan bahasa Indonesia. Di kedua sisi pigura tersebut tertulis motto masyarakat Merauke menggunakan bahasa Papua “izakod bekai, izakod kai” yang dalam bahasa Indonesia berarti satu jiwa, satu tujuan.
Sekitar 100 meter berikutnya, tibalah Ekspedisi Isam Nusantaradi titik nol. Di tugu tersebut tertulis angka-angka yang merupakan letak geografis tugu tersebut berada. Di bawahnya ditulis bahwa perhitungan geografis tersebut merupakan hasil kerja sama Team Survey Indonesia-Australia.
Merauke menyimpan berbagai macam kekayaan alam yang luar biasa, di sekitar tugu banyak ditemukan rumah semut Musamus yang tingginya bisa mencapai 4 meter dengan diameter 3 kali lingkar tangan orang dewasa. Rumah-rumah semut tersebut masih utuh dan terjaga.
Masyarakat sekitar sangat peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat dari hutannya yang masih asri, air rawanya yang bersih, dan aneka burung indah yang berkicau di sekitar tugu.
Masyarakat yang berada di sekitar tugu perbatasan banyak yang menganut agama Islam. Selebihnya beragama katolik dan penghayat Totem (kepercayaan terhadap leluhur yang menjaga keseimbangan alam). Di antara 90% muslim di perbatasan, 60 persennya adalah Jawa, Sunda dan Bugis. Sisanya masyarakat pribumi yang masih kental dengan tradisi berburu dan memelihara anjing.
Ekspedisi Isam Nusantara bersilatrahim hingga perbatasan negeri. Bersama Nahdlatul Ulama terus berjuang demi keutuhan NKRI. Tiada lain yang kami lakukan adalah titah para kiai. Menjadi NU berarti menjadi NKRI. (Didin A. Zainuddin/Abdullah Alawi)