Nasional

Guerilla Marketing Digital Jadi Tren Baru UMKM, Kreativitas Promosi Didorong Tetap Pandai Pilih Konten 

Sabtu, 9 Mei 2026 | 18:00 WIB

Guerilla Marketing Digital Jadi Tren Baru UMKM, Kreativitas Promosi Didorong Tetap Pandai Pilih Konten 

Peserta kelas konten yang diselenggarakan di Rumah BUMN Rembang, Jateng, (Foto: Ayu Lestari)

Jakarta, NU Online

Perkembangan teknologi digital dinilai menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah.

 

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Semarang, Ahdiat Galih kepada NU Online, Sabtu (9/5/2026).​​​​​

 

Ia menilai bahwa tingkat adaptasi masyarakat terhadap pemasaran digital masih beragam, khususnya di Kabupaten Rembang.

 

"Generasi zillenial saya rasa cenderung lebih akrab dengan media sosial dan teknologi digital, sementara sebagian kalangan milenial masih mengalami kesulitan beradaptasi dengan perkembangan teknologi pemasaran modern," kata Galih.


Hal ini juga berkaitan dengan adanya beberapa kendala utama pemasaran digital khususnya di Kabupaten Rembang berasal dari kebiasaan masyarakat yang masih lebih percaya pada transaksi konvensional. Digital marketing belum sepenuhnya mendapatkan kepercayaan.


Ia menjelaskan, strategi pemasaran digital seperti guerilla marketing dapat menjadi alternatif promosi kreatif bagi pelaku usaha. Namun, strategi tersebut juga memiliki risiko apabila tidak digunakan secara tepat.


“Guerilla marketing seperti pedang bermata dua. Bisa saja disalahpahami tergantung konteksnya. Tetapi selama tidak menimbulkan keresahan atau konflik sosial, strategi ini masih dapat diterima sebagai upaya mendorong perputaran ekonomi daerah,” ungkapnya.

 

Ia menyebut, secara etis strategi, guerilla marketing umumnya menyasar konsumen dengan kebutuhan sekunder dan tersier. Strategi ini banyak memanfaatkan kebiasaan masyarakat yang aktif di media sosial dan tertarik pada konten hiburan maupun tren digital.

 

“Pasar yang disasar biasanya lebih kepada keinginan, bukan kebutuhan primer. Selama dilakukan secara wajar dan tidak merugikan masyarakat, strategi ini masih relevan dalam mendorong transaksi ekonomi,” terangnya.

 

Ia menambahkan, keberhasilan pemasaran digital sangat bergantung pada kreativitas pelaku usaha dalam membaca situasi sosial dan memahami sensitivitas publik. Kreator konten maupun pelaku UMKM harus mampu memilih isu dan materi promosi yang tepat agar tidak memicu kontroversi.

 

“Persepsi masyarakat berbeda-beda. Karena itu, kreator harus cermat menentukan konten yang layak dikonsumsi publik,” kata dia.

 

Ia juga mendorong pelaku UMKM dan pekerja industri kreatif untuk lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi digital. Menurutnya, digital marketing kini telah menjadi bagian penting dalam sistem ekonomi modern di berbagai negara.


“Kita tidak bisa terus bertahan dengan cara lama jika ingin berkembang. Digital marketing adalah bentuk kemajuan teknologi yang dapat mempermudah aktivitas ekonomi, meski tetap harus digunakan secara bijak agar manusia tidak dikendalikan teknologi,” tandas Galih.

 

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN Rembang, Ipong Ghufron, mengungkapkan bahwa penerapan strategi pemasaran digital mulai menunjukkan dampak terhadap peningkatan penjualan produk UMKM.


Ia menyebutkan, penjualan produk UMKM di Kabupaten Rembang pada triwulan II tahun 2026 sempat berada di angka Rp20 juta pada Januari dan Februari. Namun, pada Maret 2026, angka penjualan meningkat signifikan menjadi Rp63 juta.


Menurut Ipong, guerilla marketing merupakan strategi promosi kreatif dengan pendekatan nonkonvensional dan biaya relatif rendah. Strategi tersebut mengandalkan unsur kejutan, emosional, dan rasa penasaran untuk menarik perhatian konsumen.

 

“Karakteristik utama guerilla marketing adalah biaya rendah tetapi mampu menciptakan dampak besar, sehingga cocok diterapkan oleh UMKM,” sahut Ipong saat menyampaikan materi pada Jumat (8/5/2026) di Rumah BUMN Rembang.

 

Ia menjelaskan, pentingnya peran User Generated Content (UGC) dalam strategi digital marketing modern. Menurutnya, konten yang dibuat secara sukarela oleh konsumen, seperti ulasan, foto, maupun video, mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap suatu produk terdapat 


“UGC dapat membangun keterlibatan konsumen dan mendorong keputusan pembelian karena masyarakat cenderung lebih percaya pada pengalaman pengguna lain,” sahutnya.

 

Beberapa bentuk guerilla marketing yang kini berkembang di era digital, di antaranya ambient marketing yang memanfaatkan fasilitas umum sebagai media promosi, viral marketing melalui penyebaran konten di media sosial, ambush marketing yang memanfaatkan momentum acara besar tanpa menjadi sponsor resmi, hingga experiential marketing yang memberikan pengalaman langsung kepada konsumen.

 

Dalam penyampaiannya, pemateri menegaskan bahwa strategi guerilla marketing bukanlah cara instan yang secara otomatis membuat seseorang cepat kaya atau menjadikan produk langsung habis terjual. Namun, pendekatan ini dapat menjadi ilmu baru bagi peserta untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih kreatif dan adaptif.