Nasional

Haul Pertama KH Imam Aziz, Sahabat dan Santri Luncurkan Dua Buku tentang Kiprah dan Gagasannya

Senin, 20 Juli 2026 | 14:30 WIB

Haul Pertama KH Imam Aziz, Sahabat dan Santri Luncurkan Dua Buku tentang Kiprah dan Gagasannya

Para sahabat di makam KH Imam Aziz di Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, DIY. (Foto: dok istimewa)

Sleman, NU Online

Dua buku yang mengisahkan perjalanan hidup KH M. Imam Aziz diluncurkan dalam rangka peringatan satu tahun wafatnya. Peluncuran buku disertai diskusi tersebut digelar di kompleks makam Mas Imam, Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Ahad (19/7/2026).


Kedua buku tersebut adalah Bergantung pada Ranting karya Hairus Salim HS dan buku bunga rampai Kiai Pejuang Sunyi. Keduanya merekam beragam sisi kehidupan, gagasan, serta kiprah Mas Imam dalam mendampingi masyarakat mustad'afin.


Hairus Salim HS menceritakan proses penulisan Bergantung pada Ranting. Awalnya, ia hanya mencatat berbagai kenangan dan persinggungannya dengan Mas Imam di telepon seluler.


"Lama-lama kok ternyata banyak. Ya sudah, dibuat buku sekalian," kisahnya.


Dalam buku tersebut, Hairus menuturkan pengalamannya sejak mengenal Imam Aziz di IAIN Sunan Kalijaga—kini UIN Sunan Kalijaga—hingga akhir hayatnya. Ia juga merefleksikan bagaimana banyak perjalanan hidupnya terinspirasi oleh Mas Imam, mulai dari mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) hingga Pondok Pesantren Bumi Cendekia.


Sementara itu, Heru Prasetia, salah seorang editor Kiai Pejuang Sunyi, menjelaskan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari komitmen para sahabat dan santri Mas Imam untuk terus menghadirkan karya pada setiap peringatan wafatnya. Sebelumnya, buku pertama diterbitkan pada peringatan 100 hari wafatnya Imam Aziz.


"Dalam buku edisi haul ini kami memuat tulisan-tulisan yang belum sempat dimuat pada edisi pertama. Kami juga menghubungi para sahabat dan tokoh yang pernah bersinggungan dengan Mas Imam untuk menulis. Ada 35 tulisan yang menceritakan Mas Imam, mulai dari sisi personal hingga kiprahnya dalam melakukan advokasi di berbagai isu," ujarnya.


Buku tersebut memuat tulisan sejumlah tokoh dari beragam latar belakang, di antaranya aktivis difabel Bahrul Fuad, promotor musik Anas Syahrul Alimi, aktivis perempuan Masruchah, Menteri Agama RI periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin, sedulur Kendeng Gunretno, hingga antropolog Martin van Bruinessen. Mereka menghadirkan kesaksian mengenai sosok Mas Imam yang konsisten mendampingi kelompok lemah dan dilemahkan. Keberagaman penulis mencerminkan luasnya jejaring pergaulan dan spektrum perjuangan Imam Aziz.


"Kiai rakyat memang gelar yang tepat untuk Imam Aziz," tulis Martin van Bruinessen.


Semasa hidupnya, Imam Aziz aktif mendampingi berbagai gerakan masyarakat, mulai dari Kedung Ombo, Kendeng, Kulon Progo, hingga Wadas. Kiprah tersebut dijalaninya ketika menjadi jurnalis, penggerak NU kultural, hingga menjabat sebagai Ketua PBNU.


Usai peluncuran buku, para sahabat dan santri Imam Aziz menggelar diskusi bertajuk "Imam Aziz: Advokasi, Rekonsiliasi, dan Kemandirian NU". Diskusi menghadirkan sejarawan Budiawan, akademisi Sri Wiyanti Eddyono, budayawan NU Achmad Munjid, serta perwakilan keluarga, Fina Itriyati, yang juga menjabat Wakil Dekan Fisipol UGM. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan.


Rangkaian haul juga dimeriahkan dengan penampilan grup musik Ki Ageng Ganjur dalam agenda Tadarus Budaya. Acara tersebut turut menghadirkan Budi Cilok, Alissa Wahid, Inaya Wahid, dan Cak Coy.


Budayawan Ngatawi Al-Zastrouw, sahabat Imam Aziz, menyebut Ki Ageng Ganjur sebagai salah satu warisan penting yang ditinggalkan Imam Aziz.


"Kami hadir di sini untuk menunjukkan bagaimana santri juga bisa berdakwah melalui musik," ucap Ngatawi.


Menurutnya, melalui Ki Ageng Ganjur, para santri telah menyiarkan Islam yang ramah hingga ke berbagai negara, seperti Jepang, China, Prancis, Belanda, Belgia, dan Aljazair.


Kontributor: Sarjoko S