Karawang, NU Online
KH Ahsin Sakho Muhammad dan KH Saifullah Ma’shum terpilih sebagai Rais Majelis Ilmi dan Ketua Umum Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) pada kongres kelima yang digelar di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada Ahad (15/7) dini hari.
KH Masykur Yusuf, peserta kongres dari Sulawesi Selatan, optimis kepengurusan masa khidmah 2018-2023 itu akan lebih baik. Pandangannya ini ia dasarkan pada potensi pengurus yang terpilih.
Kiai Masykur juga berharap agar JQHNU dapat menjalin kerja sama dengan semua pihak. “Membangun kerjasama dengan semua pihak, baik dengan pemerintah, maupun swasta, maupun perorangan bagi mereka yang peduli terhadap kealquranan,” ujar Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Makassar itu kepada NU Online usai penutupan Kongres Kelima, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Antarpondok Pesantren Kedelapan, dan MTQ Internasional Kedua di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada Ahad (15/7) malam.
Senada dengan Kiai Masykur, KH Fadhlan Zainuddin juga yakin JQHNU lima tahun mendatang dapat berbuat lebih banyak lagi. Ia mendasarkan pendapatnya pada hasil pemilihan yang telah dilakukan bersama.
“Insyaallah melihat hasil pemilihan, baik pemilihan rais majelis ilmi maupun ketua umum, insyaallah kita merasa optimis kiranya JQH nasional ke depan akan berbuat lebih banyak lagi,” ujarnya.
Kiai Fadlan yang qari internasional itu berharap agar JQHNU dapat membuat aktivitas pembinaan dengan memaksimalkan segala macam sarana prasarana. Hal ini, menurutnya, perlu dilakukan di dunia maya dan media sosial lainnya.
Di samping itu, perwakilan PW JQHNU Sumatera Utara itu juga menyatakan perlunya kerja sama yang betul-betul intensif antara para ulama, umara (pemerintah), dan aghniya (orang-orang kaya).
“Apabila ada kerjasama antara tiga pihak ini kita yakin pembangunan mental umat insyaallah akan terbangun,” pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)