Nasional

Kemenag akan Gelar Sidang Isbat Ramadhan pada 17 Februari 2026 dengan Didahului Edukasi Pengamatan Hilal

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:30 WIB

Kemenag akan Gelar Sidang Isbat Ramadhan pada 17 Februari 2026 dengan Didahului Edukasi Pengamatan Hilal

Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Abu Rokhmad dalam konferensi pers Joyful Ramadhan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Jakarta, NU Online

Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadhan 1447 H pada Senin, 17 Februari 2026 di Auditorium HM Rasjidi, Thamrin Jakarta.


Sidang ini akan diawali dengan kegiatan Hilal Observation Coaching, program edukasi pengamatan hilal bagi masyarakat umum dan kalangan muda.


Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama RI Abu Rokhmad menjelaskan, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan Bimas Islam 2026.


"Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sidang isbat akan menjadi momen penting penentuan awal Ramadhan. Sebelumnya, kami juga menyelenggarakan Hilal Observation Coaching sebagai sarana edukasi publik,” jelasnya dalam konferensi pers Joyful Ramadhan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).


Hilal Observation Coaching akan dilaksanakan sejak pagi hingga sore hari menjelang sidang isbat. Dalam kegiatan ini, peserta akan diajak mempelajari teori dan praktik pengamatan hilal di lapangan menggunakan berbagai instrumen astronomi modern.


Menurut Abu, kegiatan edukatif ini sejalan dengan semangat Ramadhan Asri: Aman, Sehat, Resik, dan Indah, sekaligus menjadi upaya menguatkan literasi falak di masyarakat.


"Kami ingin masyarakat semakin memahami proses ilmiah di balik penetapan awal bulan Ramadhan, agar tidak muncul kesalahpahaman di publik,” tambahnya.


Sidang Isbat sendiri akan dihadiri perwakilan ormas Islam, BMKG, BRIN, dan sejumlah duta besar negara sahabat. Hasil sidang akan diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama sebagai penentu awal puasa Ramadhan 1447 Hijriyah.


Menjawab terkait perbedaan awal Ramadhan, Direktur Bina Syariah Kemenag, Arsyad Hidayat menjelaskan bahwa potensi perbedaan awal Ramadan tahun ini muncul setelah adanya pernyataan dari salah seorang astronom yang memprediksi kemungkinan perbedaan penetapan awal puasa pada 2026.


"Kalau berbeda itu biasa, karena cara pandang dan metode penetapan dari ormas-ormas Islam memang tidak sama,” ujar Arsyad menjawab pertanyaan terkait prediksi awal Ramadhan yang berbeda.


Menurutnya, ada ormas yang menggunakan pendekatan hisab, ada pula yang menggunakan pendekatan rukyat hilal, serta metode baru yang memperhitungkan Konjungsi Hilal Global dan Hilal Lokal (KHGT) sebagaimana dijelaskan oleh Prof Thomas Djamaluddin.


"Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global sudah pasti berbeda, itu sudah pasti,” ujarnya menegaskan.


Untuk itu, Kementerian Agama menyelenggarakan Sidang Isbat sebagai wadah permusyawaratan nasional yang melibatkan seluruh ormas Islam tanpa terkecuali, termasuk Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, dan lainnya.


"Kita dengarkan apa yang menjadi pandangan mereka masing-masing, kemudian dimusyawarahkan, lalu diambil keputusan yang maslahat. Itulah yang nanti akan ditetapkan sebagai keputusan pemerintah terkait awal bulan suci Ramadhan,” kata Arsyad.


Arsyad menegaskan pentingnya masyarakat untuk terbiasa menghormati perbedaan tersebut. "Kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan itu," tambahnya.


Apabila mengacu kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan oleh Kemenag, awal Ramadhan 2026 diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026 atau 12 hari lagi.


Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026.


Hal tersebut disampaikan oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin.


"Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria," kata Thomas, dikutip dari Kompascom. Jumat (6/2/2026).


Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.


Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.


Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal penentuan awal bulan Ramadhan 1447 H. Data tersebut disampaikan dalam Informasi Hilal Awal Ramadhan 1447.


Data Falakiyah mengenai hilal 29 Sya'ban 1447 H yang bertepatan dengan Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M menunjukkan hilal masih di bawah ufuk.


Tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’ie -1 derajat 41 menit. Sementara ketinggian hilal terkecil terjadi di Jayapura, Provinsi Papua dengan tinggi hilal mar’ie -3 derajat 12 menit.


Adapun di titik Jakarta dengan markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT), tinggi hilal adalah -1 derajat 44 menit 39 detik dengan letak matahari terbenam pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat. Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M pukul 19:02:02 WIB.


 Penghitungan atas data ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.