Nasional

Kiai Said Dirikan Al-Tsaqafah untuk Jawab Sistem Pendidikan Indonesia

Sabtu, 28 Juli 2018 | 04:30 WIB

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan alasan dirinya mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama Pesantren Luhur Al-Tsaqafah pada 28 Juli 2013. Ia mengaku tertantang untuk menjawab sistem pendidikan di Indonesia yang dinilainya mengherankan, yaitu pemisahan antara pendidkan agama dan umum.

"Kita melakukan sesuai kemampuan, yaitu menggabungkan antara ulumul ilahiyah (ilmu-ilmu yang bersifat ketuhanan) dan ulumul insaniyah (ilmu-ilmu untuk bersosial), antara ilmu agama dan ilmu yang bukan agama, ilmu profan, ilmu kemasyarakatan, ilmu teknologi," kata Kiai Said pada acara tasyakkur memperingati Hari Lahir ke-5 Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (27/7).

Sistem pendidikan di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan agama yang berada dalam tanggung jawab Kementerian Agama dan pendidikan umum  yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Satu-satunya negara yang mempunyai double system dalam pendidikan hanyalah Indonesia. Jadi, Indonesia ini unik banget, beda dengan negara lain," ucap Kiai Alumnus Universitas Ummul Qura, Arab Saudi itu. 

Ia berpendapat, dampak dari pemisahan sistem itu membuat lulusannya tidak cakap dalam salah satu hal. Misalnya, pesantren mampu melahirkan orang yang memahami ajaran agama, tapi tidak mempunyai wawasan umum sebagai modal bermasyarakat dan tidak mengikuti perkembangan zaman, seperti kecanggihan teknologi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Hal itu akan membuat santri mengalami kesulitan dalam menyebarkan dan mendakwahkan khazanah ilmunya.

"(Dan pada akhirnya) Kita (alumnus pesantren) akan seterusnya menjadi kelompok pinggiran, kelompok marjinal," jelasnya.

Begitu juga orang yang lulus dari sekolah formal atau perguruan tinggi umum, maka orang tersebut tidak mempunyai pemahaman tentang ajaran Islam. 

"Ini diakui sendiri, waktu itu oleh Wakil Presiden Pak Budiono, waktu bulan puasa," ucapnya. 

Budiono dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) pada 2007. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden pada periode 2009-2014. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)


Terkait