Nasional

Kolaborasi Microsoft Elevate-NU Care Global Lahirkan Teacher of the Batch AI Teaching Power

Selasa, 20 Januari 2026 | 18:45 WIB

Kolaborasi Microsoft Elevate-NU Care Global Lahirkan Teacher of the Batch AI Teaching Power

Logo NU Care Global. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Program AI Teaching Power, hasil kolaborasi Microsoft Elevate dan NU Care Global dengan dukungan Kementerian Agama Republik Indonesia, memberikan apresiasi kepada pendidik dan institusi pendidikan yang dinilai memiliki kontribusi terbaik dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara etis dan berdampak. Salah satu penerima apresiasi tersebut adalah Januarianto Putra, yang ditetapkan sebagai Teacher of the Batch.

 

Hal itu disampaikan Chief Strategy Consultant NU Care Global sekaligus Lead Project AI Teaching Power, Meka Shafa, di Jakarta, Ahad (18/1/2026). Ia menjelaskan bahwa Program AI Teaching Power dilaksanakan sejak November 2025 hingga Juni 2026 dan menyasar tenaga pendidik agar mampu memahami serta memanfaatkan AI secara kreatif, produktif, dan beretika.

 

“AI Teaching Power bertujuan membekali pendidik agar mampu memanfaatkan AI dengan dukungan Microsoft 365 Copilot, Learning Accelerators, dan 21st Century Learning Design, sehingga pembelajaran menjadi lebih kreatif, efektif, dan relevan di era digital,” ujar Meka Shafa.

 

Sebagai bentuk apresiasi, program ini menetapkan dua kategori penghargaan, yakni Teacher of the Batch dan School of the Batch, yang diberikan pada setiap batch pelaksanaan. Penghargaan Teacher of the Batch ditujukan bagi pendidik yang menunjukkan komitmen tinggi mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran, aktif dalam workshop, serta konsisten menerapkan pembelajaran berbasis AI secara kreatif dan etis di kelas.

 

Sementara itu, penghargaan School of the Batch diberikan kepada sekolah, madrasah, atau pesantren yang secara aktif mendukung partisipasi guru, mendorong budaya belajar dan inovasi, serta berperan aktif dalam implementasi pembelajaran berbasis AI di lingkungan institusi pendidikan.

 

Penetapan Januarianto Putra sebagai Teacher of the Batch didasarkan pada konsistensi partisipasinya selama program, peran aktif dalam menerapkan hasil pelatihan, serta kemampuannya memanfaatkan AI secara kontekstual dan beretika di lingkungan madrasah dan pesantren.

 

Meka Shafa menjelaskan, pada awalnya Januarianto Putra memanfaatkan AI sebatas sebagai alat bantu kerja administratif, seperti penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan perencanaan kegiatan siswa. Namun, setelah mengikuti Program AI Teaching Power dan mengenal Microsoft Copilot serta Learning Accelerator, pemahamannya berkembang lebih sistematis dan pedagogis.

 

“AI diposisikan sebagai mitra kerja guru yang membantu efisiensi dan kualitas perencanaan pembelajaran, tanpa menggantikan peran utama pendidik,” katanya.

 

Pemanfaatan AI tersebut juga diterapkan secara nyata dalam peran Januarianto Putra sebagai guru sekaligus Wakil Kepala Madrasah bidang kesiswaan. AI digunakan untuk merancang program, mengelola administrasi, serta mendiskusikan ide pengembangan sekolah secara lebih terstruktur, sehingga mendukung efektivitas kerja dan pengambilan keputusan yang reflektif.

 

Dampak pemanfaatan AI juga dirasakan langsung oleh peserta didik. Januarianto Putra secara aktif memperkenalkan AI kepada siswa sebagai alat bantu berpikir dan berkarya, seperti dalam pengembangan ide film, desain, dan karya ilmiah. Ia menekankan pentingnya etika penggunaan AI, termasuk berpikir kritis, menghargai hak cipta, dan tidak menerima hasil AI secara mentah.

 

Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan tujuan utama Program AI Teaching Power, yakni membentuk pendidik yang adaptif terhadap transformasi digital dan memiliki kesadaran etis dalam pemanfaatan teknologi. Model penerapan AI yang dilakukan Januarianto Putra juga menunjukkan bahwa teknologi dapat diintegrasikan secara relevan di lingkungan pesantren tanpa meninggalkan nilai pendidikan dan karakter.

 

“Praktik ini menjadi contoh praktik baik (best practice) yang relevan dan berpotensi direplikasi di satuan pendidikan serupa,” pungkas Meka Shafa.


Profil singkat School of the Batch 

Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta ditetapkan sebagai School of the Batch berdasarkan tingginya partisipasi institusional, kesiapan ekosistem pembelajaran, serta komitmen kuat dalam mengintegrasikan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara kontekstual dan bertanggung jawab di lingkungan pesantren.


Ringkasan Kontribusi dan Dampak Institusi:


Partisipasi Guru yang Tinggi dan Konsisten

Sebanyak 52 guru terdaftar, dengan 39 guru aktif mengikuti workshop, dan sebagian melanjutkan hingga tahap evaluasi pembelajaran. Tingginya angka partisipasi ini menunjukkan antusiasme kolektif guru serta dukungan nyata institusi dalam mendorong peningkatan kapasitas pendidik menghadapi transformasi pendidikan berbasis teknologi.


Kesiapan Awal dan Perluasan Pemanfaatan AI

Sebelum mengikuti program, beberapa guru telah memanfaatkan AI seperti Chat GPT untuk kebutuhan pembelajaran dan administrasi. Melalui AI Teaching Power, pemanfaatan tersebut berkembang dengan diperkenalkannya Microsoft Copilot sebagai platform yang lebih terstruktur dan relevan dengan kebutuhan pendidik.


Implementasi AI dalam Praktik Pembelajaran

Microsoft Copilot dimanfaatkan untuk penyusunan modul, pengembangan materi ajar, administrasi pembelajaran, serta visualisasi materi, khususnya pada mata pelajaran berbasis teks seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan kemampuan guru dalam mengadaptasi AI ke dalam kebutuhan nyata pembelajaran.


Pendekatan Kontekstual di Lingkungan Pesantren

AI digunakan sebagai alat bantu untuk memantik ide, menyusun contoh materi, dan merancang pembelajaran yang lebih menarik, yang kemudian diterapkan di kelas maupun melalui fasilitas laboratorium komputer pesantren. Pendekatan ini mencerminkan kemampuan institusi dalam menyesuaikan teknologi dengan nilai, kebijakan, dan karakter pendidikan pesantren.


Evaluasi Program dan Pembelajaran Institusional

Program AI Teaching Power memperoleh penilaian tinggi dari pihak pesantren dengan skor rata-rata 8–9,5 dari 10. Materi pelatihan dinilai relevan dan membuka wawasan baru bagi guru. Catatan terkait durasi pelatihan daring dan kendala teknis (seperti keterlambatan akses akun) menjadi masukan konstruktif untuk penguatan program di batch selanjutnya.


Konteks Kelembagaan dan Nilai Tradisi

Sebagai salah satu pesantren Al-Qur’an tertua di Surakarta yang berdiri sejak 1930, Pondok Pesantren Al-Muayyad dikenal konsisten mengintegrasikan pendidikan formal, non-formal, dan program tahfizh Al-Qur’an. Keikutsertaan aktif dalam program ini menunjukkan kesiapan pesantren untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai dan tradisi pendidikan yang menjadi pondasinya.


Berdasarkan konsistensi partisipasi, kualitas pemanfaatan AI, serta kemampuan menerjemahkan hasil pelatihan ke dalam praktik pembelajaran yang kontekstual dan beretika, Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta layak ditetapkan sebagai School of the Batch Program AI Teaching Power Batch 1, sekaligus menjadi model praktik baik bagi pesantren dalam mengadopsi teknologi secara berkelanjutan.