Lakpesdam dan RMI PBNU Luncurkan Buku Pedoman Pencegahan Kekerasan di Pesantren
Senin, 24 Agustus 2026 | 13:30 WIB
Jakarta, NU Online
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) meluncurkan dua buku pedoman pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pesantren. Kedua buku tersebut diharapkan memperkuat sistem perlindungan anak di pesantren agar tidak berhenti pada komitmen dan slogan.
Dua buku tersebut terdiri atas Prosedur Standar Operasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren serta Modul Pelatihan Perlindungan Anak dari Kekerasan di Pesantren. Keduanya diluncurkan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, Senin (24/8/2026), dan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno.
Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiyah mengatakan kedua buku tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong transformasi pesantren menjadi lingkungan yang aman dari kekerasan.
“Dua produk dari kerja sama antara Lakpesdam PBNU dan RMI PBNU yang kami dedikasikan untuk memastikan bahwa visi transformasi pesantren melalui satu visi menciptakan pesantren yang aman dari kekerasan,” ujarnya.
Menurut Ufi, keberadaan buku pedoman saja tidak cukup untuk memastikan pencegahan kekerasan berjalan efektif. Pesantren juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dalam melakukan perlindungan anak dan menangani kekerasan.
“Visi untuk menciptakan ramah anak atau aman dari kekerasan di pesantren itu membutuhkan infrastruktur dari lingkungan pesantren itu sendiri. Infrastruktur salah satunya adalah adanya sumber daya manusia, baik kiai, nyai, ustaz, ustazah, musyrif, musyrifah di pesantren yang memiliki kapasitas mulai dari bagaimana cara melakukan perlindungan, langkah-langkah teknisnya dan lain-lain,” jelasnya.
Ufi menegaskan transformasi pesantren membutuhkan tindakan nyata agar visi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan. Salah satunya melalui pelatihan bagi para pengelola dan pendidik di lingkungan pesantren.
“Di dalam memastikan visi itu berhasil maka harus ada tindakan-tindakan konkret, tindakan-tindakan yang nyata berupa sejumlah atau serangkaian kegiatan yang memastikan bahwa mimpi itu bisa terwujudkan,” katanya.
Ia menambahkan, kedua buku tersebut disusun melalui berbagai uji coba bersama insan dan figur pesantren. Hal itu dilakukan agar materi yang disajikan dekat dengan kebutuhan dan pengalaman di lapangan.
“Buku ini tidak cukup menjadi alat atau infrastruktur untuk mengubah sesuatu, tapi buku ini menciptakan kapasitas dari sumber daya manusia di lingkungan pesantren. Itu juga hal lain yang penting,” kata Ufi.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno mengapresiasi peluncuran dua buku tersebut. Ia menilai inisiatif Lakpesdam PBNU dan RMI PBNU sejalan dengan program pemerintah melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (GERNAS RANA).
“Saya mengapresiasi atas inisiatif ini. Terbitnya modul untuk SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren dan kedua Modul Pelatihan Perlindungan Anak dari Kekerasan di Pesantren,” ujarnya.
Pratikno menegaskan perlindungan anak perlu menjadi perhatian serius. Menurutnya, kekerasan, baik fisik maupun psikologis, dapat berdampak terhadap tumbuh kembang anak.
Ia mengatakan pesantren sebagai salah satu satuan pendidikan harus menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
“Kami ikut sosialisasi kedua buku tersebut dan ini akan menginspirasi bagi lembaga satuan pendidikan yang lain. Kita jaga ruang-ruang tersebut menjadi aman dan nyaman untuk perkembangan sumber daya manusia Indonesia ke depan,” pungkas Pratikno.