Jakarta, NU Online
Bulan Sya’ban menempati posisi penting dalam kalender Islam, yakni sebagai jembatan menuju Ramadhan sekaligus waktu peningkatan kualitas ibadah. Secara kebahasaan, Sya’ban dimaknai dengan bulan persiapan spiritual, penguatan amal, dan refleksi diri.
Hal demikian berangkat dari pemaknaan kata asal bulan kedelapan Hijriah tersebut. Ulama sufi terkemuka Syekh Abdul Qodir al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah berpandangan bahwa nomenklatur Sya’ban berasal dari lima huruf. Tiap-tiap hurufnya mengandung makna.
Baca Juga
Menyambut Malam Nishfu Syaban
"Huruf syin mewakili kata syaraf yang bermakna kemuliaan. Huruf 'ain adalah singkatan dari ‘ulwu yang berarti tingkat tinggi. Huruf ba’ dari kata birr yaitu kebaikan. Adapun alif dari ulfah mengandung makna kasih sayang. Sementara nun dari kata nur yang berarti cahaya," jelas Ustadz Ulil Hadrawi dalam artikel Makna dan Fadhilah Bulan Sya’ban dikutip Rabu (21/1/2026).
Ia menyampaikan dalam bulan ini Allah membuka berbagai kebaikan dan menurunkan keberkahan-keberkahan. Pada saat yang sama, Allah disebut menghapus beragam kesalahan dan menutup berbagai macam keburukan.
"... dan pada bulan inilah Allah swt bershalawat kepada Rasulullah saw selaku khairul bariyyat (makhluk yang paling mulia)," ujarnya.
Selain dari sisi keutamaannya, Sya’ban juga mencatat setidaknya ada empat peristiwa penting yang memberi pelajaran historis dan teologis bagi umat Islam. Peristiwa tersebut yakni pertama peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.
Baca Juga
Doa-Doa yang Dianjurkan di Bulan Syaban
Imam Al-Qurthubi dalam karya tafsirnya, Al-Jami' li Ahkamil Quran menyebut bahwa Abu Hatim al-Basti berpandangan, Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya'ban. Peralihan ini dinilai bertepatan dengan malam nisfu Sya'ban.
"Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad saw," ungkap Ustadz Alvin Nur Choironi dilanjutkan dengan mengemukakan dalil surah Al-Baqarah ayat 144 dalam artikelnya berjudul Beberapa Peristiwa Penting di Bulan Sya'ban.
Peristiwa kedua yakni penyerahan rekapitulasi amal kepada Allah. Disebutkan bahwa Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menjelaskan penyerahan amal yang dimaksud adalah rekapitulasi sepenuhnya, meskipun ada juga waktu selain di bulan Sya'ban.
"Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu," ujar Ustadz Alvin.
Peristiwa berikutnya yaitu Allah mewahyukan ayat mengenai anjuran shalawat kepada kekasihnya, Muhammad. Ustadz Alvin menyebut, turunnya anjuran yang termaktub dalam surah Al-Ahzab ayat 56 ini menyebabkan bulan ini disebut bulan Shalawat, sebagaimana dinyatakan Ibnu Abi Shay alyamani dan dikuatkan Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib-nya serta Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Selain tiga peristiwa tersebut, Ustadz Alif Budi Luhur dalam artikel Tiga Cara Allah Memuliakan Bulan Sya’ban menambahkan, pada bulan ini Allah memerintahkan puasa wajib bulan Ramadhan. Syariat diwajibkannya puasa ini diturunkan kepada Nabi Muhammad pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah.
Hal ini disebut merujuk kepada pemaparan Imam Abu Zakaria an-Nawawi di dalam Al-Majmu' Syarh Muhazzab-nya.
"Artinya, Sya’ban merekam sejarah penting “diresmikannya” kemuliaan Ramadhan dengan difardhukannya puasa bagi kaum mu'minin selama sebulan penuh," paparnya.