Metode Hafalan dan Kejujuran: Dua Modal Pesantren dalam Pengembangan Teknologi AI
Rabu, 11 Februari 2026 | 12:00 WIB
Founder Neuversity Robin Syihab dalam program Berangkat dari Pesantren yang tayang di kanal Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)
Jakarta, NU Online
Pesantren dinilai memiliki modal budaya yang kuat untuk berperan dalam pengembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Namun, modal tersebut perlu dikelola secara optimal agar mampu menjawab gerak cepatnya tantangan zaman. Hal itu disampaikan Founder Neuversity Robin Syihab saat diwawancarai NU Online dalam program Berangkat dari Pesantren.
Robin menjelaskan bahwa teknologi, yang memuat bahasa pemrograman, pada dasarnya berangkat dari logika. Ia menilai hal itu tidak berjarak dengan tradisi berpikir pesantren yang direpresentasikan dengan nahwu-sharaf.
“Bahasa itu sebenarnya cuma logika. Isinya itu logika. Saya justru belajarnya dari C dan assembly dulu,” ujarnya dalam kanal Youtube NU Online, dikutip Selasa (10/2/2026) malam.
Ia kemudian menyoroti pandangan umum yang kerap menyederhanakan pendidikan pesantren sebagai pendidikan berbasis hafalan. Menurutnya, hafalan justru menyimpan manfaat besar dalam melatih cara berpikir terstruktur.
“Padahal dari hafalan itu kita bisa mengingat banyak kata kunci. Kita mengingat bagaimana sebuah alur bekerja,” kata engineer alumnus Pondok Pesantren Al-Falah, Kediri itu.
Lebih lanjut, ia menilai hafalan berperan penting dalam menjaga rentang perhatian (attention span) santri. Di tengah fenomena kecenderungan brain rot, kemampuan menjaga konsentrasi menjadi keterampilan krusial.
“Sekarang ini bentar-bentar ingin ganti topik. Itu yang bikin anak-anak susah memahami konteks panjang, sehingga ketika memecahkan masalah yang agak rumit, mereka lost di tengah-tengah,” jelasnya.
Dalam konteks perkembangan AI, Robin justru melihat momentum besar bagi pesantren untuk melesat. Ia menilai bahwa di era kecerdasan buatan, soft skill menjadi lebih penting dibanding hard skill.
Dunia industri saat ini lebih menekankan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan integritas. Di sektor tertentu seperti keamanan siber, kejujuran bahkan menjadi modal utama.
“Sekarang banyak kejadian hacking (peretasan) itu bukan karena sistemnya lemah, tapi karena orang dalamnya,” ungkap Robin.
Ia menambahkan bahwa industri seperti ransomware kerap memanfaatkan faktor manusia dengan iming-iming keuntungan. Di sinilah, kata Robin, pesantren memiliki keunggulan tersendiri. Pendidikan akhlak, adab, dan kejujuran disebut jadi benteng agar sumber daya manusia tidak mudah dieksploitasi secara moral.
“Kalau tidak dididik kejujurannya, adabnya, itu rentan dieksploitasi bukan dari teknologinya, tapi dari humannya,” ujar alumnus Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Kaliwarak, Kebumen, Jawa Tengah itu.
Tantangan bagi pesantren
Meski memiliki modal tersebut, Robin mengakui pesantren menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pelajaran keagamaan dengan keilmuan non-keagamaan, seperti teknologi. Menurutnya, pesantren perlu membuka ruang digital dan ruang riset sebagai bagian dari transformasi pendidikan.
“Pesantren harus membuka ruang digital buat santri, harus membuka ruang riset. Dari situlah ketertarikan santri pada teknologi akan muncul,” usulnya.
Ruang riset yang dimaksud, lanjut Robin, tidak harus berskala besar. Riset robotik, perangkat lunak, atau bidang teknologi lain dapat menjadi sarana untuk mengidentifikasi bakat dan minat santri.
Ia pun menegaskan bahwa riset di pesantren memiliki tujuan berbeda dengan riset di lembaga profesional. “Riset untuk santri itu lebih ke eksplorasi, untuk menjawab rasa penasaran anak-anak. Kalau menciptakan hal baru, itu nilai tambah atau efek samping dari sistemnya,” katanya.
Untuk pesantren dengan sumber daya terbatas, Robin menyarankan model pengembangan berbasis kemitraan dengan industri teknologi. Kerja sama tersebut dapat berupa penyediaan alat pembelajaran, dukungan ruang riset, hingga skema talent pooling.
Ia optimistis alumni pesantren tidak perlu menunggu hingga 20 tahun untuk berkiprah di bidang teknologi mutakhir selama santri mampu menghadapi tantangan utama yakni mengelola distraksi digital.
Robin menutup dengan pesan optimistis kepada para santri. Pasalnya, di era saat ini lebih gampang menindaklanjuti peluang-peluang yang ada.
“Zaman sekarang jadi solopreneur itu lebih mudah karena alatnya sudah ada. Tinggal bagaimana santri bisa menuntaskan masalah orang dan mengambil manfaat dari situ,” pungkasnya.