Akademisi Unnes Sebut Kekerasan dan Hafalan Bukan Lagi Pola Pendidikan Modern
NU Online · Rabu, 11 Februari 2026 | 15:35 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Praktik mendisiplinkan anak dengan cubitan, pukulan, atau lemparan kapur yang dahulu kerap dianggap wajar dinilai tidak lagi relevan dalam pendidikan modern saat ini. Pendekatan berbasis kekerasan dinilai bukan solusi dalam pembentukan karakter anak.
Akademisi sekaligus Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan, menilai metode pendidikan yang menempatkan kekerasan sebagai instrumen disiplin perlu ditinggalkan. Menurutnya, pendidikan guru saat ini justru dikembangkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis pemahaman psikologis anak.
“Pendidikan guru modern tidak lagi menempatkan kekerasan sebagai instrumen utama dalam membangun disiplin, melainkan mendorong pemahaman psikologis dan kebutuhan belajar anak,” ujar Edi lewat instagramnya. NU Online telah mendapat izin untuk mengutipnya.
Perdebatan serupa, lanjutnya, juga muncul dalam pembelajaran matematika, khususnya terkait perkalian. Di sejumlah ruang diskusi, muncul dorongan agar perkalian dijadikan hafalan wajib karena dianggap sebagai fondasi pembelajaran matematika.
Edi tidak menampik pentingnya penguasaan dasar matematika. Namun, ia mempertanyakan apakah solusi harus selalu ditempuh melalui hafalan semata. Dalam diskursus pendidikan di kampus keguruan, pembelajaran matematika lebih diarahkan pada pemahaman konsep dan penguatan logika berpikir.
“Tujuannya membangun alat pikir anak didik, bukan sekadar kemampuan mengingat. Perlu dipertanyakan juga sejauh mana anak perlu menghafal perkalian satu hingga seratus serta apa tujuan konkret dari tuntutan tersebut,” paparnya.
Metode ceramah juga menjadi bagian dari perdebatan. Banyak guru membandingkan efektivitas ceramah di masa lalu dengan kondisi saat ini. Namun, menurut Edi, perbandingan tersebut tidak sepenuhnya sebanding karena terdapat banyak variabel yang berubah, mulai dari lingkungan belajar hingga distraksi yang semakin kompleks.
Di sisi lain, guru kini dituntut menerapkan pembelajaran berdiferensiasi agar kebutuhan setiap siswa dapat terlayani secara optimal. Tuntutan tersebut datang bersamaan dengan penambahan berbagai muatan, seperti pendidikan karakter, literasi finansial, lingkungan hidup, coding, hingga kecerdasan artifisial.
“Ketika muatan baru masuk dan guru belum sepenuhnya siap, kondisi ini kerap memicu frustrasi,” ujarnya.
Integrasi kurikulum, lanjut Edi, bukan perkara mudah. Guru harus memahami keterkaitan materi secara vertikal dan horizontal, termasuk lintas mata pelajaran serta hubungannya dengan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Beban semakin berat ketika inovasi kebijakan terus berubah, sementara aspek administratif turut menyita energi.
Menurutnya, formalitas administrasi seperti perubahan dokumen, format laporan, hingga perangkat pembelajaran kerap membuat guru kehilangan waktu untuk refleksi dan pendampingan siswa secara substantif.
“Dalam kondisi frustrasi, guru kerap bernostalgia pada pengalaman belajar masa lalu dan menjadikannya acuan utama dalam praktik mengajar hari ini,” pungkasnya.
Ia mengingatkan bahwa konteks pendidikan telah berubah signifikan. Karena itu, pendekatan yang efektif di masa lalu belum tentu relevan untuk menjawab tantangan pendidikan saat ini.
Terpopuler
1
Pemerintah Nonaktifkan 13,5 Juta Peserta PBI JKN, Mensos Gus Ipul: Dialihkan ke Warga Lebih Miskin
2
Kemenag akan Gelar Sidang Isbat Ramadhan pada 17 Februari 2026 dengan Didahului Edukasi Pengamatan Hilal
3
Menkeu Purbaya Heran Anggaran Kesehatan Naik Malah Berujung Penonaktifan PBI JKN
4
Presiden Prabowo: Setiap Kali di Tengah NU Saya Selalu Bahagia
5
100 Tahun NU, Rais Aam PBNU Langitkan Doa untuk Palestina
6
120 Ribu Pasien Terancam, Menkes Peringatkan Risiko Kematian akibat Penonaktifan PBI JKN
Terkini
Lihat Semua