Nasional

Ngaji Kitab Al-Hikam, Gus Ulil Tegaskan Sikap Tawakal Tak Boleh Jadi Alasan Berhenti Bekerja

Senin, 9 Februari 2026 | 14:45 WIB

Ngaji Kitab Al-Hikam, Gus Ulil Tegaskan Sikap Tawakal Tak Boleh Jadi Alasan Berhenti Bekerja

Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla saat mengampu Ngaji Kitab Al-Hikam hikmah ke-5, di kediamannya, di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada Ahad (8/2/2026). (Foto: NU Online/Aru)

Bekasi, NU Online

Pengasuh Ghazalia College KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menegaskan bahwa sikap tawakal kepada Allah tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk berhenti bekerja atau bermalas-malasan.


Hal itu ia sampaikan dalam Ngaji Al-Hikam ke-5 yang digelar di kediamannya di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada Ahad (8/2/2026).


Menurut Gus Ulil, salah satu kekeliruan dalam memahami ajaran tasawuf adalah menganggap bahwa karena rezeki dijamin Allah, manusia tidak lagi perlu berikhtiar. Ia menilai pemahaman seperti itu justru bertentangan dengan pesan utama dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah.


“Kesungguhanmu dalam hal yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu dalam hal yang dituntut darimu, adalah tanda padamnya mata batinmu,” jelas Gus Ulil memaknai untaian hikmah ke-5 dari Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam. 


Gus Ulil menjelaskan bahwa yang dimaksud sesuatu yang sudah dijamin itu adalah rezeki dasar manusia. Sementara yang dituntut dari manusia adalah ibadah dan kesungguhan mendekat kepada Allah.


“Sesungguhnya yang dijamin oleh Allah adalah rezeki. Penghidupan dasar manusia sudah dijamin oleh Allah,” ujar Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.


Ia menambahkan bahwa jaminan itu berlaku bagi seluruh manusia, tanpa melihat iman atau tidaknya seseorang.


“Soal rezeki, Muslim atau tidak, semuanya diberi oleh Allah. Allah memberi makan orang beriman maupun tidak beriman,” jelasnya.


Namun, ia mengingatkan bahwa jaminan rezeki dari Allah itu bukan berarti manusia boleh berpangku tangan. Ajaran tasawuf justru membangun kesadaran batin agar manusia tidak berlebihan dalam mencemaskan rezeki, tetapi tetap menjalankan kewajiban hidupnya.


“Tapi bukan berarti tidak perlu bekerja. Ajaran ini bukan berarti kita lalu berhenti bekerja, berhenti sekolah, tidak mengajar, dan pasrah total,” tegasnya.


Ia menyebut pemahaman yang menjadikan tasawuf sebagai pembenaran untuk kemalasan sebagai bentuk penyalahgunaan ajaran spiritual.


“Kalau dipahami keliru, orang bisa jadi fatalis: tidak mau berusaha, semua diserahkan ke Allah, lalu tidak bekerja. Itu bukan maksud tasawuf. Itu abusing tasawuf,” katanya.


Spiritualitas dan kesehatan mental

Gus Ulil juga menyinggung kaitan antara kesadaran spiritual dan kesehatan mental. Ia menilai, kesadaran bahwa Allah tidak akan menelantarkan makhluk-Nya dapat membantu mengurangi tingkat stres manusia modern.


“Ini ajaran untuk membangun kesadaran batin bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan makhluk-Nya. Kalau kesadaran ini masuk, minimal bisa mengurangi tingkat stres,” ujarnya.


Menurutnya, tekanan hidup yang tinggi membuat banyak orang mengalami gangguan mental. Dalam konteks itu, ajaran spiritual dapat menjadi penopang batin.


“Masalah kesehatan mental sekarang besar sekali. Ada World Mental Health Day segala. Banyak orang modern mengalami stres berat. Kesadaran spiritual seperti ini bisa menjadi ‘obat’ batin,” lanjutnya.


Tasawuf dan kebahagiaan

Gus Ulil kemudian menjelaskan bahwa tasawuf pada dasarnya bertujuan mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati. Ia membandingkan hal itu dengan tradisi filsafat Yunani yang juga mencari makna hidup bahagia.


“Tasawuf pada dasarnya mirip filsafat Yunani dalam satu hal: sama-sama mencari kebahagiaan,” katanya.


Ia menegaskan bahwa kebahagiaan tidak semata ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh kondisi batin seseorang.


“Kebahagiaan bukan semata jumlah harta, tapi sikap batin,” ujarnya.


Meski demikian, ia mengakui bahwa kebutuhan dasar tetap penting. Namun setelah batas minimal terpenuhi, kualitas kebahagiaan sangat ditentukan oleh cara seseorang mengelola hatinya.


Wajib bekerja, tetap sadar batas

Lebih jauh, Gus Ulil merumuskan dua prinsip penting dalam bekerja menurut perspektif tasawuf. Pertama, manusia tetap wajib bekerja karena takdir tidak diketahui sebelum dijalani.


“Kita wajib bekerja. Tapi harus sadar, kerja sekeras apa pun tidak bisa menembus takdir Allah. Kalau mentok, jangan putus asa,” tuturnya.


Kedua, setiap orang memiliki jalan hidup atau maqam yang berbeda. Karena itu, tidak semua orang bisa disamakan dalam praktik spiritualnya.


“Ada orang yang memang maqam-nya banyak ibadah dan sedikit urusan dunia. Tapi ada yang maqam-nya jadi pegawai, dosen, peneliti, pengusaha, politisi. Kalau maqam-nya bekerja di dunia, lalu tiba-tiba berhenti dengan alasan tawakal, itu keliru. Itu malas yang dibungkus tasawuf,” tegasnya.


Kebahagiaan adalah urusan batin

Gus Ulil menekankan bahwa inti tasawuf terletak pada pengelolaan batin. Hal-hal eksternal seperti harta, jabatan, dan gaji tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.


“Harta, jabatan, gaji itu eksternal dan tidak sepenuhnya dalam kendali kita,” ujarnya.


Sebaliknya, sikap batin dan cara merespons hidup merupakan wilayah otonomi manusia yang paling besar.


“Tapi sikap batin, cara kita merespons hidup, itu wilayah otonomi kita. Kita punya kuasa besar di situ,” pungkasnya.