Nasional

Pengamat: Gencatan Senjata AS-Iran Buka Peluang Tatanan Baru di Teluk

Kamis, 9 April 2026 | 18:00 WIB

Pengamat: Gencatan Senjata AS-Iran Buka Peluang Tatanan Baru di Teluk

Peta Timur Tengah dan negara-negara di kawasan Teluk. (Foto: dok GIS Geography)

Jakarta, NU Online

Direktur Eksekutif International Politics Forum, Aprilian Cena, menilai gencatan senjata sementara selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran berpotensi membuka jalan bagi terbentuknya tatanan geopolitik baru di kawasan Teluk.


Ia menyebut peluang tersebut sangat terbuka, terutama jika AS menerima sejumlah proposal Iran, seperti gencatan senjata permanen, pencabutan sanksi, serta penarikan pasukan dari kawasan.


“Tatanan baru yang terbentuk dicirikan dengan terkikisnya pengaruh Amerika di kawasan Teluk serta terciptanya balance of power oleh Iran,” katanya kepada NU Online, Kamis (9/4/2026).


Aprilian juga melihat potensi semakin dalamnya keterlibatan China dalam memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut. Bahkan, ia menilai penguatan peran Republik Rakyat China dan Iran menjadi salah satu skenario paling signifikan dalam konstelasi geopolitik baru di Teluk.


“Tatanan geopolitik yang paling signifikan adalah menguatnya pengaruh China dan Iran di kawasan Teluk,” ujarnya.


Lebih lanjut, Aprilian menilai gencatan senjata dua pekan ini telah mencerminkan adanya pergeseran keseimbangan kekuatan, khususnya di Selat Hormuz.


Ia berpandangan Iran akan semakin menegaskan perannya sebagai penyeimbang Amerika Serikat dan sekutunya, dengan dukungan dari China dan Rusia.


“Iran, dengan dukungan China dan Rusia, memperkuat posisinya sebagai penyeimbang, baik secara ekonomi maupun militer,” katanya.


Dari sisi dampak terhadap Indonesia, Aprilian menekankan bahwa dinamika di kawasan Teluk akan berpengaruh signifikan. Namun, menurutnya, Indonesia memiliki daya tawar yang relatif terbatas dalam bernegosiasi dengan Iran.


“Ditambah, Indonesia memiliki daya tawar atau kekuatan negosiasi yang rendah terhadap Iran,” jelasnya.


Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah rekam jejak hubungan di masa lalu, termasuk kebijakan Indonesia yang pernah tidak mengizinkan kapal Iran melintasi Selat Malaka.


“Tentu ini menjadi salah satu asumsi mengapa Indonesia tidak memiliki kekuatan tawar yang besar terhadap Iran, khususnya terkait akses di kawasan strategis seperti Selat Hormuz,” tambahnya.


Pemerintah Lakukan Komunikasi Intensif

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia masih menjalin komunikasi intensif dengan pihak Iran terkait dua kapal tanker Pertamina yang belum dapat melintasi Selat Hormuz.


Meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung, proses tersebut diakui belum berjalan mudah.


“Sedang dilakukan komunikasi intensif terkait dua kapal itu. Insyaallah, doakan bisa segera selesai,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026).