Nasional

Petugas Haji Dilatih Hadapi Situasi Gawat Darurat

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:00 WIB

Petugas Haji Dilatih Hadapi Situasi Gawat Darurat

Petugas haji saat membantu jamaah. (Foto: NU Online/Mahbib Khoiron)

Jakarta, NU Online

Kondisi kegawatdaruratan bisa terjadi kapan saja, kepada siapa saja, dan di mana saja, termasuk dalam penyelenggaraan ibadah haji yang terkait dengan orang banyak.


Karenanya, seluruh petugas haji dari berbagai layanan harus memahami situasi kegawatdaruratan dan prinsip dasar pertolongan pertama di lapangan agar tidak terjadi kesalahan fatal saat menangani kondisi darurat, khususnya pada kasus henti jantung dan korban tidak sadarkan diri.


Hal itu disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Hasan Sadikin Bandung M Rizki Akbar saat memberikan materi pelatihan kegawatdaruratan kepada para peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji di Gedung D5 Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (13/1/2026).


Menurut dr Rizki, prinsip pertama yang harus diperhatikan adalah memastikan keamanan penolong, korban, dan lingkungan. Ia menegaskan, penolong tidak boleh sampai menjadi korban berikutnya.


"Misalnya penolong memiliki riwayat patah tulang atau berada di lingkungan huru-hara, maka itu sudah masuk kategori danger. Jangan memaksakan diri," ujarnya.


Tahapan berikutnya adalah pemeriksaan respons korban. Penolong dapat menepuk bahu korban atau memberikan rangsangan verbal. Respons berupa suara mengaduh masih termasuk respons sadar.


"Jika korban tidak merespons, penolong perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Intinya, harus ada orang lain yang mengetahui bahwa kita sedang menangani kondisi kegawatdaruratan," jelasnya.


Pada tahap sirkulasi, penolong diminta memeriksa denyut nadi di leher (arteri karotis) dengan batas waktu maksimal 10 detik. Dalam sesi pelatihan, peserta juga diminta mempraktikkan langsung cara meraba nadi pada rekan di sampingnya.


"Kalau dalam 10 detik nadi tidak teraba atau tidak yakin, maka anggap saja tidak ada nadi dan segera lakukan penekanan dada," tegasnya.


Ia menambahkan, bila pertolongan dilakukan oleh dua orang atau lebih, maka petugas yang paling kompeten harus memimpin tindakan, sedangkan petugas lainnya bertugas mencari bantuan dan menghubungi layanan medis. Intinya harus ada pihak lain yang mengetahui bahwa dia sedang berada dalam kegawatdaruratan.


Pentingnya menjaga kesehatan petugas haji

Dalam kesempatan tersebut, dr Rizki juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), terutama yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi, karena faktor-faktor tersebut meningkatkan risiko serangan jantung.


"Serangan jantung bisa terjadi kapan saja, termasuk saat bertugas. Karena itu kesiapsiagaan dan deteksi dini sangat penting," katanya.


Diketahui, M Rizki Akbar merupakan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Hasan Sadikin Bandung dan telah berpengalaman menjadi petugas penyelenggara ibadah haji pada tahun 2013, 2017, 2018, dan 2022. Selain itu, ia juga pernah terlibat dalam penanganan kasus kegawatdaruratan jantung pada jamaah haji Indonesia.