Prof Quraish Shihab: Amal Dinilai dari Niat, Bukan Semata Hasil
Selasa, 17 Maret 2026 | 12:30 WIB
Jakarta, NU Online
Pakar Tafsir Al-Qur'an Prof Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa dalam Islam, nilai suatu amal tidak semata ditentukan oleh hasil akhirnya, melainkan oleh niat yang melandasinya.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah bertajuk Amal Saleh, Bukan Asal Beramal yang tayang di kanal YouTube Quraish Shihab, diakses Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, orientasi berlebihan pada hasil kerap menyesatkan pemahaman masyarakat tentang makna ibadah dan perbuatan baik yang perlu didasari niat.
Baca Juga
Kisah Keistimewaan Niat Baik dalam Islam
“Terkadang niat seorang mukmin itu lebih baik dari amalnya. Saya berniat melakukan kebaikan, tetapi saat dikerjakan justru gagal. Amalnya boleh gagal, tetapi niatnya bisa lebih baik dari amal itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegagalan dalam mencapai hasil bukanlah persoalan utama selama niat yang mendasarinya benar. “Kalau tidak mencapai hasil, tidak apa-apa. Nabi bersabda, innamal a’malu binniyat, amal itu dinilai dari niatnya,” ucapnya.
Ia menjelaskan, dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan cara dan alat serupa, tetapi mendapatkan penilaian berbeda di sisi Allah karena perbedaan niat.
“Boleh jadi dua orang mengerjakan pekerjaan yang sama, tetapi Tuhan menilai yang satu baik dan yang lain buruk karena niatnya,” katanya.
Quraish Shihab juga mengutip Surat An-Nahl ayat 97 yang menegaskan bahwa siapa pun yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dan beriman, akan diberi kehidupan yang baik.
Ia menekankan pentingnya kesadaran nilai sebelum bertindak, salah satunya dengan membiasakan membaca basmalah. “Penting sebelum melakukan sesuatu kita melihat nilai dari tindakan itu, apakah sesuai dengan nilai yang kita pegang. Karena itu dianjurkan setiap aktivitas dimulai dengan Bismillah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa amal merupakan penggunaan daya yang dimiliki manusia, baik fisik, akal, maupun hati. “Amal adalah penggunaan daya. Daya manusia itu ada daya fisik, daya pikir, daya kalbu, dan daya hidup,” jelasnya.
Baca Juga
Keutamaan Niat Dibandingkan Amal
Namun demikian, penggunaan daya tersebut harus memenuhi syarat kesalehan, yakni membawa manfaat dan tidak merugikan. “Saleh itu bermanfaat, tidak merugikan, baik bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan, maupun makhluk lain,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa manusia sering kali hanya menilai aspek lahiriah suatu perbuatan, bukan dimensi batiniahnya.
“Penilaian manusia biasanya hanya pada yang terlihat. Padahal setiap amal memiliki sisi lahir dan batin, dan keduanya belum tentu sejalan,” ungkapnya.
Menurutnya, keterbatasan manusia membuat penilaian hanya dapat dilakukan pada aspek lahir, sedangkan aspek batin menjadi domain penilaian Tuhan. “Manusia hanya bisa menilai yang tampak, sementara yang batin itu menjadi penilaian Allah,” pungkasnya.