Rais Aam PBNU: Bahtsul Masail Jadi Kebanggaan NU Sejak Awal Berdiri
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat Bahtsul Masail Pra Muktamar Ke-35 NU di Pesantren Cendikia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026). (Foto: NU Online/Aceng)
Jakarta, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa forum bahtsul masail menjadi salah satu kebanggaan NU sejak awal berdirinya. Hal itu disampaikannya saat membuka Bahtul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU di Pesantren Cendikia Amanah, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, bahtsul masail berperan dalam menampung dan mengkaji kitab-kitab klasik yang menjadi dasar pegangan keilmuan sekaligus menjadi wadah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Maka, dulu ulama-ulama bangga sekali masuk ke NU karena keberadaan dari Bahtsul Masail itu. Saya dengar dari Mbah Maimoen Zubair, beliau menyatakan, yang saya senangi dan banggakan di Nahdlatul Ulama adalah Bahtsul Masail," katanya.
Ia menilai Lembaga Bahtsul Masail (LBM) bersama para peserta memiliki peran penting dalam membahas dan merumuskan berbagai persoalan keagamaan serta ketentuan yang menjadi pedoman di lingkungan PBNU.
"Maka dulu ulama-ulama bangga sekali masuk ke NU karena keberadaan dari bahtsul masail itu," katanya.
Lebih lanjut, Kiai Miftach mengatakan bahwa perbedaan pendapat yang terjadi di PBNU kemudian dibahas melalui bahtsul masail. Menurutnya, forum tersebut akan terus berkembang dan diperbaiki seiring munculnya berbagai persoalan.
"Ini merupakan sebuah wahana yang terus mengalami dinamika, perbaikan, dan itu merupakan nikmat uzma dari Allah," katanya.
Ia mengatakan, adanya perbedaan pendapat membuat manusia terus berpikir dan berusaha mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi.
"Andaikan tidak ada ikhtilaf, sudah selesai tugas manusia ini dan agama akan segera diangkat karena tidak ada yang perlu dibahas dalam Bahtsul Masail," katanya.
Lebih lanjut, Kiai Miftach juga menjelaskan bahwa bahtsul masail juga banyak membahas persoalan-persoalan yang bersifat cabang dan terus berubah sesuai perkembangan zaman.
"Tapi di sini khidmah yang besar sekali, adanya ikhtilafat-ikhtilafat yang sejak dulu terjadi. Zaman sahabat, zaman tabiin, zaman tabiut tabiin, dan seterusnya," katanya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan pendapat juga sudah muncul di lingkungan NU sejak awal berdirinya, bahkan sempat menimbulkan perdebatan yang cukup tajam.
"Makanya, pada periode muktamar pertama, kedua, dan ketiga, Bahtsul Masail itu lah sebagai wahana untuk menyelesaikan permasalahan tersebut," terangnya.
Diketahui, Bahtsul Masail Pra-Muktamar ke-35 NU membahas sejumlah tema yang terbagi dalam tiga komisi. Komisi Waqi'iyyah membahas tiga tema, yaitu komersialisasi data genetik (DNA), integrasi teknologi implan otak nirkabel (Neuralink) pada tubuh manusia, serta cryptocurrency dalam perspektif hukum ekonomi Islam kontemporer.
Sementara itu, Komisi Maudhuiyyah membahas metodologi dan prosedur i'adah an-nadzar, problematika penyimpangan seksual dalam perspektif fiqih Islam, pajak berkeadilan, serta nilai-nilai keulamaan dalam NU.
Adapun Komisi Qanuniyyah membahas RUU tentang Sistem Pendidikan Nasional, pembatasan alih daya, PKWT, dan pengupahan dalam RUU Ketenagakerjaan, serta kebijakan pembukaan lahan di Papua dalam perspektif hukum Islam.