Nasional

Sejarawan NU Abdul Mun'im: Di Balik Anekdot, Kiai Wahab Punya Teori Politik yang Matang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 18:00 WIB

Sejarawan NU Abdul Mun'im: Di Balik Anekdot, Kiai Wahab Punya Teori Politik yang Matang

Penulis Sejarah NU, Abdul Mun'm DZ saat bedah buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI di Gedung Kementerian Haji Thamrin, Sabtu (14/2/2026). (Foto: Budianto)

Jakarta, NU Online

Penulis Sejarah NU, Abdul Mun’im DZ menilai bahwa sosok KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) tidak hanya dikenal melalui kisah dan anekdot yang berkembang di masyarakat, tetapi juga memiliki gagasan politik yang mendalam dan terencana.

 

"Selama ini Kiai Wahab sering dipahami hanya lewat cerita rakyat dan anekdot. Padahal, di balik anekdot itu tersimpan teori politik yang matang," ujar Abdul Mun'im dalam bedah buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI di Gedung Kementerian Haji Thamrin, Sabtu (14/2/2026).


Menurutnya, kebesaran Mbah Wahab tidak lahir karena privilege, tetapi melalui perjuangan panjang dan perencanaan yang sistematis.

 

"Kebesaran Kiai Wahab bukan karena privilege, tetapi by plan, struggle, dan mapping," ungkapnya.

 

Ukuran paling objektif misalnya dalam kiprah politiknya melalui pemilihan umum (Pemilu). Dalam konteks ini, kiprah politik Mbah Wahab tidak kalah dibandingkan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno dan Tan Malaka.


"Kalau kita lihat, Kiai Wahab tidak kalah, khususnya dibandingkan Tan Malaka,” ujarnya.


Abdul Mun'im mencontohkan, sejumlah tokoh yang partai besarnya kala itu mengalami kemunduran. Tuan Syahrir pada 1960 partainya dibubarkan. Moh. Natsir juga, tahun 1950 partainya dibubarkan. PNI yang didirikan Bung Karno pada akhirnya merosot, hanya tinggal 6,7 persen. Sementara itu, Kiai Wahab dengan partai NU justru menunjukkan capaian signifikan.


"Dalam pemilu pertama, partai NU langsung menempati posisi ketiga. Bahkan pada Pemilu 1971, ketika banyak partai lain melemah, NU masih meraih 18,7 persen suara,” kata Abdul Mun’im.

 

Ia menilai capaian itu merupakan puncak karier politik Kiai Wahab meskipun pernah mengalami pencekalan atau intimidasi politik pada masa transisi menuju Orde Baru di Bandung.


"Ini adalah puncak karier Mbah Wahab. Semua partai lain hancur, tapi NU tetap bertahan. Bukan karena tidak pernah dijegal, tapi karena Orde Baru gagal menjegal Kiai Wahab di Bandung," tandasnya.