Nasional

Sekum PGI Tekankan Peran Agama untuk Kemanusiaan dalam Program Menjadi Indonesia

Selasa, 30 Desember 2025 | 09:45 WIB

Sekum PGI Tekankan Peran Agama untuk Kemanusiaan dalam Program Menjadi Indonesia

Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan berbincang dengan Pdt Darwin Darmawan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), di Kantor NU Online, Gedung PBNU Lantaii 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online 

Program "Menjadi Indonesia" episode ke-34 yang dikelola oleh NU Online kembali hadir dengan diskusi mendalam menyambut momentum Natal 2025 telah tayang pada Rabu (24/12/2025).


Pada episode ini, Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan berbincang dengan Pdt Darwin Darmawan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), mengenai peran agama di ruang publik serta pentingnya kemandirian organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan.


Dalam diskusi yang berlangsung hangat di Newsroom NU Online, Pdt Darwin menegaskan bahwa agama tidak boleh hanya berhenti pada ritual vertikal, tetapi harus hadir menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, agama harus memiliki kepekaan terhadap isu sosial-politik demi mewujudkan kemaslahatan publik.


"Panggilan agama itu kan bukan sekadar mengajak umat untuk menjadi penghuni surga vertikal, sementara di dunia soal keadilan, kebenaran, dan menjaga lingkungan perlu dipikirkan. Persoalan kemaslahatan ini erat kaitannya dengan persoalan sosial-politik," ujar Pdt Darwin.


Ia juga menyoroti substansi ajaran kitab suci yang harus bermuara pada tindakan nyata. 


"Kita boleh berdebat agama kita paling hebat. Tapi sejauh kita tidak berfungsi untuk menolong manusia yang menderita, lepas dari penderitaan, jangan-jangan itu non-sense (omong kosong)?" tegasnya.


Terkait kemandirian ormas, Pdt Darwin menjelaskan bahwa lembaga keagamaan harus mandiri secara daya, dana, dan teologi agar mampu menjaga nalar kritis terhadap kekuasaan. Hal ini penting agar ormas tidak sekadar menjadi alat politik praktis.


"Tanpa kemandirian, kita susah menjaga ruang kritis sebagai mitra positif pemerintah. Kita harus mampu speaking truth to power," tambahnya.


Ivan Aulia Ahsan selaku pemandu acara juga menggarisbawahi pentingnya perjumpaan lintas iman ini sebagai bagian dari proses menjadi Indonesia yang inklusif. Ia mencatat bagaimana pengalaman Pdt Darwin sebagai minoritas memberikan perspektif berharga bagi mayoritas untuk saling berempati.


Selain itu, diskusi ini menyentuh aspek intergenerational leadership, yakni pelibatan Gen-Z dalam kepemimpinan agama, serta tema Natal 2025 yang berfokus pada keluarga sebagai fondasi karakter bangsa. Pdt Darwin mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat kemanusiaan sebagai barometer tertinggi dalam beragama.


Simak perbincangan selengkapnya dalam Program Menjadi Indonesia episode 34 Kristen, Kemanusiaan, dan Makna Natal, yang tayang di kanal YouTube NU Online.