Nasional

Tiba di NTT, Menteri PPPA Pastikan Perempuan dan Anak Korban Gempa Dapat Dukungan Pemulihan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Tiba di NTT, Menteri PPPA Pastikan Perempuan dan Anak Korban Gempa Dapat Dukungan Pemulihan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi pada Senin (24/8/2026). (Foto: Kementerian PPPA)

Labuan Bajo, NU Online

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi meninjau para korban gempa Flores, khususnya perempuan dan anak korban luka berat yang tengah menjalani masa pemulihan di Rumah Sakit Komodo, Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus untuk memastikan kelompok rentan, khususnya perempuan, anak, lansia dan ibu hamil/menyusui mendapatkan perhatian serta bantuan sesuai kebutuhan spesifik mereka selama masa pemulihan pascabencana.


Dalam kunjungannya, Menteri PPPA mendatangi Posko Kementerian Sosial yang menampung sejumlah korban gempa asal Kabupaten Manggarai Timur. Para korban sebelumnya diterbangkan ke Labuan Bajo untuk mendapatkan penanganan medis secara intensif serta fasilitas pemulihan yang lebih memadai.


“Sebelum kami ke sini, kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait mengenai apa saja yang dibutuhkan, khususnya untuk kebutuhan spesifik perempuan dan anak,” ujar Arifah, pada Senin (24/8/2026).


Dalam kesempatan tersebut, Menteri PPPA menyerahkan bantuan alat bantu jalan berupa kruk atau tongkat kepada seorang ibu yang mengalami kesulitan berjalan akibat luka yang dideritanya. Menteri PPPA juga membagikan mainan kepada anak-anak korban gempa, termasuk anak yang mengalami patah tulang, sebagai bagian dari dukungan psikologis selama mereka menjalani masa pemulihan.


“Tadi diinformasikan ada seorang ibu yang memang tidak bisa berjalan, maka kami tadi bawakan tongkat. Kemudian ada anak-anak juga yang patah tulang, kami bawakan mainan supaya tidak hanya bermain gadget, sehingga mereka bisa beraktivitas kembali,” kata Menteri PPPA.


Menteri PPPA menjelaskan pemberian mainan kepada anak-anak korban gempa diharapkan dapat mengalihkan perhatian mereka dari penggunaan gawai secara berlebihan selama berada di pengungsian. Aktivitas bermain juga dinilai penting untuk membantu anak kembali aktif, berinteraksi, dan menjaga suasana hati selama menjalani proses pemulihan.


Usai meninjau posko pengungsian, Menteri PPPA melanjutkan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo Labuan Bajo untuk melihat secara langsung kondisi pasien korban gempa yang masih menjalani perawatan.


“Pemerintah akan terus mengawal proses pemulihan dengan memastikan para korban memperoleh rasa aman serta dukungan psikososial sesuai kebutuhannya. Kami ingin memberikan support semangat dan mendoakan. Kita adalah satu keluarga besar yang punya cinta untuk sesama warga negara,” ujar Menteri PPPA.


Sementara itu, salah satu perempuan korban gempa, Adelina Jelinda (43) menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kunjungan Menteri PPPA Bersama jajaran ke posko pengungsian. Ia berharap berbagai kebutuhan serta keluhan para korban dapat terus diperhatikan.


“Bahagia dikunjungi Bu Menteri. Saya sangat bersyukur kedatangan tim kementerian. Semoga keluhan dan kebutuhan kami sebagai korban gempa bisa dilayani. Kami ucapkan terima kasih untuk Bu Menteri. Semoga Bu Menteri sehat dan diberkahi,” ujar Adelina.


Penyerahan 30 ton bantuan 

Selain itu, Arifah Fauzi juga menyerahkan sekitar 30 ton bantuan kebutuhan spesifik perempuan dan anak bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut disalurkan ke tujuh kabupaten terdampak di pulau Flores NTT, untuk memenuhi kebutuhan spesifik, serta mendukung pemulihan psikososial perempuan dan anak.


“Pada hari ini kami menyampaikan dan meneruskan amanah dari kawan-kawan kami, mitra pembangunan, yang punya komitmen luar biasa untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di NTT. Penyaluran bantuan ini merupakan wujud nyata kolaborasi berbagai pihak dalam merespons kebutuhan masyarakat terdampak bencana. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah kolaborasi yang baik dari seluruh komponen masyarakat di Indonesia,” ujar Menteri PPPA, pada Senin (24/8/2026).


Menteri PPPA mengatakan bantuan tersebut terdiri atas berbagai kebutuhan spesifik perempuan dan anak yang diperlukan pada situasi bencana. Menteri PPPA berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat, khususnya kelompok rentan.


“Bantuan yang kami sampaikan ini ada susu, popok, pembalut, dan berbagai kebutuhan spesifik lainnya yang sangat dibutuhkan untuk perempuan dan anak yang tentu saja memiliki kebutuhan berbeda (khusus) utamanya terkait dengan kesehatan reproduksi dan perlindungan. Perempuan, anak dan kelompok rentan lainnya (lansia dan ibu hamil/menyusui) membutuhkan perhatian lebih serius dalam situasi darurat. Mudah-mudahan apa yang kami berikan pada hari ini dapat memberikan keringanan bagi teman-teman kita yang terdampak bencana,” kata Menteri PPPA.


Sementara itu, Staf Ahli Bupati Manggarai Barat Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Gabriel Bagung menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan Kemen PPPA bersama para mitra.


“Atas nama seluruh masyarakat Manggarai Barat, kami mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan dari Ibu Menteri yang kami terima pada hari ini. Sekali lagi, atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Manggarai Barat, mengucapkan terima kasih,” ujar Gabriel.


Kunjungan Menteri PPPA ke Labuan Bajo turut didampingi Psikolog Anak,  Seto Mulyadi, Staf Ahli Bupati Manggarai Barat Gabriel, Bakom RI, serta sejumlah mitra pembangunan, antara lain Ikatan Pimpinan Tinggi (PIMTI) Perempuan Indonesia yang terwakili oleh Deputi Perlindungan Khusus Anak, Asosiasi Pengusaha Sahabat Anak Indonesia (APSAI), Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk  Ibu Anak (APPNIA), Danone, Nestlé, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI), Persekutuan Wanita Katolik Republik Indonesia (PWKI), Perempuan Khonghucu (PERKHIN), Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI), Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), dan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). 


Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pemenuhan kebutuhan spesifik dan pemulihan perempuan serta anak yang terdampak bencana di NTT.