Opini

Komika Pandji, Abu Nawas, dan Gus Dur

Sabtu, 17 Januari 2026 | 07:00 WIB

Komika Pandji, Abu Nawas, dan Gus Dur

ilustrasi stand up comedy (Foto: AI)

Dunia komedi tunggal (stand-up comedy) di Indonesia kembali memanas selepas Pandji Pragiwaksono merilis spesialnya yang bertajuk Mens Rea. Sesuai namanya yang berarti "niat jahat", pertunjukan ini memang dirancang untuk membedah sisi gelap kebijakan, perilaku elite, dan carut-marut demokrasi kita. Namun, keriuhan ini tidak berhenti di ruang canda. Belakangan, muncul gelombang respons keras dari pihak tertentu, bahkan hingga menyeretnya ke ranah hukum dengan tuduhan penistaan agama terkait beberapa materinya.


Beberapa orang yang mengaku sebagai aktivis NU dan Muhammadiyah berduyun-duyun datang ke Mabes Polri untuk melaporkan salah satu founder stand up Indo itu. Sebagaimana disebut Kompas, ada dua hal yang membuat kelompok aktivis ini mengirimkan laporannya. Pertama, soal tambang yang dianggap sebagai balas budi pemerintah; Kedua, soal premis yang yang menyebut bahwa orang yang rajin salat belum tentu baik. Pelaporan ini terdengar agak aneh karena perwakilan kedua ormas sudah menyangkal pencatutan keduanya dalam laporan. Selain itu, bisa dibilang, laporan-laporan yang bernuansa penistaan agama dan reaksioner bukanlah ciri khas dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini.


Muslim Tak Perlu Tersinggung
Sebagai seorang Muslim, jujur saya tidak tersinggung dengan premis Pandji itu. Ali-alih tersinggung, ada baiknya kita membedah salah satu premis Pandji: "Orang yang rajin shalat bukan berarti orang itu baik. Dia hanya rajin shalat." Jika kita mau jujur dan melihat kenyataan di sekitar kita, kalimat ini adalah sebuah kebenaran yang pahit. Disebut sebagai kebenaran pahit, karena meski terasa menyesakkan dada, premis itu memang benar adanya. Kita perlu sadar diri dan mengakui bahwa rajinnya seseorang dalam menjalankan ritual ibadah sering kali tidak linier dengan kualitas moralnya di ruang publik.


Mari kita beda dari beberapa aspek. Secara teologis, keresahan yang dilemparkan Pandji sebenarnya memiliki akar yang kuat dalam peringatan agama itu sendiri. Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan dalam surah Al-Ma’un: “Wailul lil mushallin”—celakalah bagi orang-orang yang salat. 


Ayat ini tidak menyerang ibadahnya, melainkan pelakunya yang lalai terhadap substansi salat; mereka yang abai terhadap anak yatim, enggan menolong sesama, dan berperilaku riya. 


Dalam konteks materi Pandji, terkait salat dan pemilu, jika ada yang mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin, tetapi yang dicitrakan adalah shalatnya, maka tentu itu termasuk orang-orang yang sahun dan yurauun. Hal ini juga yang mendasari para ulama menyarankan agar saat membaca ayat tersebut perlu dilanjutkan (washal) ke ayat selanjutnya. Dalam hadis riwayat al-Tabrani, Nabi bahkan menyebut, “Orang yang shalatnya tidak mencegah dia berbuat buruk dan mungkar, maka ia tidak akan mendapat apapun kecuali jauh dari Allah”. Artinya, orang yang rajin salat tapi berbuat buruk, itu memang ada.


Kritik Pandji, dalam sudut pandang ini, bukanlah penistaan, melainkan sebuah pengingat (tadzkirah) yang kasar namun jujur bahwa ada yang salah dalam cara kita beragama. Kita terjebak pada "kerajinan" melakukan prosedur, tapi kehilangan "kebaikan" sebagai esensi. 


Kita tidak perlu jauh-jauh mencari bukti. Sejarah pemberantasan korupsi di negeri ini dipenuhi dengan figur-figur yang secara tampilan sangat religius. Kita melihat pejabat yang tak pernah absen salat berjamaah, yang dahinya membekas tanda sujud, atau yang berkali-kali berangkat umrah, namun di saat yang sama menandatangani surat perintah korupsi yang memakan hak rakyat kecil. Ada narapidana kasus bansos yang tertangkap tangan, namun di dalam tasnya ditemukan atribut ibadah yang lengkap. Fenomena ini menunjukkan ada diskoneksi antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Salat yang dikerjakan hanya berhenti di atas sajadah, tidak terbawa hingga ke meja kerja atau dalam pergaulan sehari-hari.


Oleh karena itu, premis ini rasa-rasanya tak perlu ditanggapi dengan reaksioner, apalagi sampai lapor polisi. Kita bisa menjelaskan bahwa salat, dalam konsep yang ideal, adalah sarana untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika ada orang yang rajin shalat namun tetap berbuat jahat, maka yang salah bukanlah ibadahnya, melainkan kegagalan pelakunya dalam menginternalisasi nilai ibadah tersebut ke dalam karakter. Dengan cara ini, kita tidak hanya membela kehormatan agama, tetapi juga memberikan edukasi bahwa integritas dan ibadah adalah dua hal yang harus berjalan beriringan, bukan dipisahkan atau dijadikan kedok untuk kejahatan.


Melanjutkan Kerja-kerja Abu Nawas dan Gus Dur
Dalam sejarah Islam, hubungan antara penguasa dan kritik yang dibalut humor bukanlah hal baru. Salah satu referensi yang paling relevan adalah anekdot kisah-kisah Abu Nawas. Suatu hari, Abu Nawas melihat seorang pejabat menyembunyikan sepotong daging di dalam bajunya.  Abu Nawas, dengan gaya khasnya yang jenaka menyebut bahwa ada orang yang memiliki dua perut, satu di tubuhnya dan satu lagi di perutnya. Pejabat itu pun malu dan akhirnya mengembalikan potongan daging yang diambilnya. Banyak kisah lain terkait interaksi Abu Nawas dengan Khalifah Harun al-Rasyid. 


Namun, alih-alih menghukum Abu Nawas dengan tuduhan penghinaan terhadap negara atau agama, Sang Khalifah justru tertawa karena ia memahami bahwa humor adalah cermin. Harun Al-Rasyid sadar bahwa memenjarakan komedian tidak akan menghilangkan masalah yang dikritik; sebaliknya, mendengarkan humor tersebut memberinya perspektif tentang bagaimana rakyat melihat dirinya.


Dalam konteks NU, kita tentu ingat humor-humor yang dilempar Gus Dur sebagai kritik. Misalnya humor tentang Soeharto yang hanyut. Alkisah, Soeharto hanyut di sungai. Tiba-tiba ia ditolong seorang petani. Soeharto pun ingin memberi hadiah. Sayangnya sang petani menolak. Ia hanya ingin satu hadiah, “Tolong jangan bilang pada siapa-siapa, bahwa saya yang menolong Bapak."

 

Humor Gus Dur ini terlihat santai tapi pedas. Siapa saja yang mendengar pasti tertawa, bahkan mungkin Pak Harto sendiri. Meski demikian ada kritik yang disampaikan, bahwa saat itu banyak rakyat yang tidak suka dengan pemerintahannya. Jika sang aktivis NU (dan Muhammadiyah) punya akar kuat dengan tradisi keislaman dan sejarah para pendahulunya, rasanya laporan reaksioner itu tak mungkin terjadi.


Kembali ke konteks hari ini, membalas kritik Pandji memerlukan kedewasaan untuk mengakui adanya kebenaran dalam kritik tersebut. Salah satu kekuatan Pandji adalah kemampuannya membungkus keresahan menjadi narasi yang mudah dicerna. Maka, cara terbaik untuk membalasnya bukanlah dengan sensor, melainkan dengan literasi dan aksi nyata. Jika kita tidak setuju dengan label bahwa orang rajin salat itu belum tentu baik, maka buktikanlah dengan perilaku. Jadilah pribadi yang rajin ibadah sekaligus memiliki integritas yang tak tergoyahkan. Tunjukkan bahwa salat yang benar memang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar dalam kehidupan bernegara.


Kita juga perlu melihat bahwa keberadaan Mens Rea sebenarnya adalah indikator kesehatan demokrasi. Sebuah bangsa yang kuat tidak akan goyah hanya karena lelucon seorang komedian. Sebaliknya, kemampuan masyarakat dan pendukung pemerintah untuk menerima, mengolah, dan membalas kritik tersebut dengan argumen yang cerdas, bukan laporan hukum, akan menunjukkan kualitas kedewasaan kita yang sesungguhnya. Namun di satu sisi, laporan-laporan yang ada untuk Pandji saat ini bisa jadi pembuktian hipotesanya, apakah dengan mengatakan “menurut keyakinan saya” ia bisa terbebas dari laporan-laporan yang berusaha menjeratnya? Kita tunggu saja.
 

M. Alvin Nur Choironi, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kiper Islamidotco