Pesantren Ini Menjadi Pusat Dakwah untuk 27 Desa di Lombok
Sabtu, 18 Juli 2015 | 12:17 WIB
Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan berdiri megah di Jl TGH Moh Shaleh Hambali Sangkong, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
<>
Pesantren ini merupakan salah satu institusi pendidikan, dakwah, dan lembaga sosial kemasyarakatan di selatan Lombok Tengah. Keberadaannya sebagai pusat pengembangan Islam telah dirasakan sejak akhir abad ke-19. Berdirinya pesantren berawal dari kepedulian sang perintis, TGH Abbas, untuk mendakwahkan Islam yang ramah, serta atas desakan untuk memperbaiki akhlak masyarakat.
Menurut TGH A Taqiuddin Mansur, ada dua sisi masyarakat yang melatarbelakangi pendirian pesantren. Pertama, sudut keagamaan. Hampir 80 persen masyarakat menganut paham “wektu telu”, yakni sebuah kepercayaan bersumber dari ajaran Hindu, Budha, dan Animisme.
“Kedua, dari sisi sosial kemasyarakatan, penduduk merupakan komunitas perburuan yang hidup berkabilah atau berkelompok. Orang sini nyebutnya ‘repok-repok’ yang nomaden dari satu tempat ke tempat lain. Mata pencaharian mereka petani tadah hujan dan peternak,” ungkapnya.
Pada masa TGH Abbas, lokasi pesantren sangat terpencil dengan bangunan pertama sebuah masjid sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Sementara pada era TGH Mansur Abbas, pesantren kian berkembang sebagai satu-satunya pusat kegiatan Islam di kawasan selatan meliputi hampir 27 desa di empat kecamatan.
“Dalam menjalankan misinya, beliau menaiki kuda untuk blusukan. Sebelum itu, beliau dalam kurun kurang lebih 17 tahun jalan kaki naik turun gunung menyusuri pesisir pantai membangun puluhan masjid dan musholla,” terangnya.
Tak heran, lanjut TGH Taqiuddin, jika dalam rentang waktu tiga dasawarsa hampir 90 persen penganut kepercayaan “wektu telu” berangsur surut. Sementara sistem masyarakat yang semula berkabilah-kabilah relatif berubah menjadi penduduk yang bersatu, berbaur satu sama lain, berbudaya, dan berperadaban.
Menurut salah satu sumber, saat ini Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan memiliki sejumlah fasilitas gedung berlantai 1, 2, dan 3 yang berdiri di atas tanah seluas 50 ribu hektar. Gedung tersebut antara lain MI, MTs, SMP, MA, SMK, Perpustakaan ATQIA, dan Institut Agama Islam Qamarul Huda, dua buah masjid, gedung koperasi, dan tentunya asrama santri putra dan putri.
Selain mengaji aneka kitab kuning, para santri juga dibekali berbagai kegiatan positif mulai pencak silat, marching band, seni qasidah, organisasi kesiswaan, hingga Tahfidzul Quran dan Seni Baca Tulis Al-Quran.
Padatnya jadwal kegiatan pondok tak membuat 1500 santri merasa terbebani. Mereka justru menikmati segala aktivitas dengan ikhlas dan gembira. Hal tersebut setidaknya tergambar saat pesantren ini menjadi tuan rumah kegiatan pra-muktamar NU bulan April lalu. Mereka tampak bahu-membahu membersihkan sekaligus merapikan tempat acara.
Sementara santri putri dengan semangat membantu tim pemasak di dapur umum yang disediakan pesantren. Hingga berita ini ditulis, pasukan tim marching band santri tampak sedang pemanasan menyambut kedatangan Ketua Umum PBNU. Di sepanjang jalan menuju pesantren, para santri membentuk pagar betis didampingi anggota Banser yang tampak berjaga-jaga di beberapa sudut. (Ali Musthofa Asrori)