Pesantren Tebuireng dan The King's College Jajaki Kerja Sama Belajar Islam
Rabu, 3 Agustus 2016 | 14:05 WIB
Jombang, NU Online
Pondok
Pesantren Tebuireng menjajaki kerja sama dengan The King's College (TKC) yang
berlokasi di New York, Amerika Serikat. Untuk merealisasikan hal tersebut,
beberapa waktu lalu TKC telah mengirimkan dua guru besarnya untuk berkunjung ke
Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Kedua profesor dari TKC tersebut telah mengunjungi Pesantren Tebuireng akhir
Juli lalu. "Mereka akan mengirimkan 4-5 mahasiswanya untuk belajar tentang
Islam di sini. Tahun berikutnya, kemungkinan kami yang akan mengirimkan santri
ke sana," tutur KH Salahuddin Wahid di Dalem Kasepuhan Tebuireng, Rabu
(3/8).
Guru besar studi agama dan teologi TKC Robert Dwight Carle menceritakan, dia
baru mengajarkan Islam kepada mahasiswa TKC setelah Tragedi 9/11 yang
meruntuhkan menara kembar WTC di New York. "Pasca peristiwa 9/11, banyak
orang Amerika yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Islam," ujar pria
yang akrab dipanggil Bob ini.
Bob Carle mengungkapkan bahwa persepsi tentang Islam yang identik dengan
terorisme masih cukup melekat di benak sebagian masyarakat Amerika hingga saat
ini. Meski demikian, dia menyatakan bahwa muslim Amerika lebih moderat dan
lebih tenang dibandingkan saudara mereka di Eropa.
"Muslim Amerika juga lebih sejahtera dibandingkan dengan muslim
negara-negara Eropa. Di beberapa negara Eropa, muslim tinggal di daerah kumuh,
tidak terintegrasi baik dengan lingkungan, dan merasa terasingkan. Mereka juga
cenderung sulit mendapatkan pekerjaan," imbuh Anthony B. Bradley, kolega
Bob.
Mudir Pengembangan Pesantren Tebuireng KH Abdul Halim Mahfudz menuturkan, dalam
waktu dekat pihaknya akan segera menindaklanjuti kunjungan kedua profesor itu
dan merealisasikan rencana kerjasama dengan TKC. "Semoga tahun depan bisa
langsung terealisasi," ujarnya.
Selama dua hari berkunjung, kedua guru besar TKC itu diajak melihat berbagai
unit pendidikan dan fasilitas di Pesantren Tebuireng. Mulai dari perpustakaan,
makam KH Hasyim Asy'ari dan Gus Dur, hingga unit jasa boga. "Mereka
terkesan dengan manajemen jasa boga yang melayani ribuan santri, karena di TKC
hanya ada sekitar 600 mahasiswa," ujar Gus Iim, panggilan akrab Halim
Mahfudz.
Selama di Tebuireng, Bob Carle dan Bradley juga sempat berdialog dengan
keluarga besar KHM Hasyim Asy'ari dan para santri. "Harapan kami,
kerjasama ini akan mampu membangun kesepahaman dan menjembatani kesenjangan
persepsi tentang Islam di Amerika Serikat," pungkasnya. (Muslim
Abdurrahman/Abdullah Alawi)