Warta

Isu Jilbab Naikkan Elektabilitas JK

Rabu, 24 Juni 2009 | 20:39 WIB

Jakarta, NU Online
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhroh menyatakan, naiknya elektabilitas atau tingkat keterpilihan pasangan calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla (JK)-Wiranto seperti dilaporkan beberapa lembaga survei, salah satunya disebabkan isu kerudung yang sempat berhembus.

Isu ini dinilainya mampu menyedot suara SBY-Boediono yang merupakan suara partai berbasis Islam seperti PKB, PKS, PAN, dan PPP. Meski pimpinan partai-partai berbasis Islam ini menyatakan berkoalisi dengan Partai Demokrat untuk memenangkan SBY-Bpediono, namun banyak kader partai yang menjadi massa mengambang.<>

Seperti diketahui, istri-istri pasangan calon ini mengenakan kerudung atau jilbab, tidak seperti yang lainnya. Menurutnya, kader PKS menjadi yang paling terdampak oleh isu kerudung ini. "Walau bagi sebagian orang isu ini tidak relevan, tapi buat kader PKS isu ini nomor satu," kata Siti Zuhroh usai diskusi di Gedung DPD, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (24/6).

Dalam diskusi itu Siti menyatakan, elektabilitas capres SBY sendiri memang cenderung menurun. Diduga ini disebabkan kampanyenya yang kurang merakyat. Sementara kampanye pasangan  JK-Wiranto dan Megawati-Prabowo dinilai lebih merakyat.

"Terutama JK, dia cepat mengambil isu-isu kerakyatan misalnya isu jilbab dan copot sepatu. JK juga tidak terikat oleh sekat-sekat, dia lebih egaliter dan tidak elitis," katanya.

Selain kurang merakyat, penurunan elektabilitas SBY juga dipengaruhi oleh kebingungan sebagian partai anggota koalisi Partai Demokrat (PD) penyokong SBY. "Mereka termasuk PKS dan juga PAN masih bingung," ujarnya.

Siti mengingatkan, jika koalisi PD tidak solid seperti sekarang pada hari-hari akhir mendekati pilpres, bisa jadi pilpres 2 putaran akan terwujud. Dia melihat, peluang pilpres akan berlangsung 2 putaran masih besar. " JK dan Mega sudah bisa meraih simpati," katanya. (nam)


Terkait