PCINU Taiwan-Muslim China Berencana Dirikan Penampungan TKI Bermasalah
Rabu, 24 Juni 2009 | 03:50 WIB
Sebagai tindak lanjut kunjungan Chinese Moslem Association (CMA) ke kantor Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Senin (16/2) lalu, pada Selasa (23/6) kemarin, Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Taiwan dan CMA berkunjung ke Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei Taiwan.
Kunjungan ini dalam rangka untuk menjalin komunikasi dan membentuk kesepemahaman tentang rencana pembentukan shelter (penampungan sementara) untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bermasalah di Taiwan.<>
Pertemuan diselenggarakan di ruang pertemuan KDEI yang dihadiri oleh Suhartono (Kepala KDEI), Fauzi Muchtar (Kepala Bagian Tata Usaha KDEI), Ade Gagah Aziz (Kepala Bidang Imigrasi KDEI), Dawood Ju (Ketua CMA), Ishaq Ma (Sekjen CMA), Nur Muhammad (komisioning CMA), Setiyo Gunawan (Rais Aam PCI-NU Taiwan), Edi Sunaedi (Ketua PCINU Taiwan) dan didampingi oleh pengurus harian PCINU Taiwan yang lain, diantaranya Hilmiah Assayyidi, Bambang ADS, Rizky Ramadhani, Yunus Abdullah dan M. Udin Harun Al Rasyid.
Dalam pertemuan tersebut, PCINU Taiwan menyampaikan kepada pihak KDEI tentang rencana pembentukan shelter di daerah Xindian City dan rencana-rencana program yang akan dikerjakan di shelter.
“Salah satu tujuan berdirinya PCINU Taiwan adalah membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi TKI. PCINU Taiwan diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara TKI dan pemerintah,” tegas Edi Sunaedi.
Baru-baru ini, PCINU Taiwan telah membuat kajian tentang profil TKI di Taiwan, meliputi data statistik, peran lembaga pemerintah dan peran lembaga swadaya masyarakat terhadap keberadaan TKI di Taiwan.
“Rekomendasi yang kami sampaikan ke PBNU dan CMA adalah pembentukan shelter dengan segera,” jelas Setiyo Gunawan yang sebentar lagi mengakhiri masa kontraknya sebagai post doctoral fellowship di Taiwan Tech, Taipei.
Sedangkan CMA melalui Hilmiah Assayyidi sebagai penterjemah dari bahasa mandarin ke Inggris, dalam kesempatan itu mengucapkan terimakasih kepada KDEI atas dukungan terhadap rencana kerjasama antara CMA dan PCINU Taiwan untuk mendirikan shelter.
“Sebenarnya CMA pernah mempunyai shelter sendiri, hanya saja sudah lama shelter tersebut tidak aktif lagi,” ungkap Dawood Ju.
“Saat ini CMA bersama NU berinisiatif untuk mengaktifkan lagi shelter tersebut sehingga bisa membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh TKI di Taiwan,” tambah Dawood Ju.
“Proses pembentukan shelter memerlukan perijinan dari Council of Labour Affair (CLA) Taiwan. Beberapa syarat yang diberikan CLA untuk pendirian shelter diantaranya tentang masalah keamanan, kenyamanan, kesehatan dan kebersihan shelter telah di dapat oleh kami,” jelas Ishaq Ma sambil menunjukkan beberapa dokumen penting dalam bahasa mandarin.
Menanggapi rencana pendirian shelter tersebut, Suhartono menyatakan sangat mendukung semua usaha untuk merealisasikan shelter tersebut dan berharap pembentukan shelter ini berjalan dengan baik dan terealisasi secepat mungkin.
“Tujuan pendirian shelter adalah sebagai sarana pendidikan (edukasi) bagi para TKI, sebagai contoh memberikan bekal pendidikan tentang cara berkomunikasi dengan majikannya atau bekal ketrampilan untuk para tenaga kerja yang akan kembali pulang ke Indonesia,” pesan Suhartono dengan jelas. “Saya juga berencana akan mengunjungi shelter ini,” tambahnya.
Menurut Ade Gagah, shelter yang dikelola oleh KDEI saat ini berjumlah dua buah. Dikatakan, pihaknya sangat mendukung rencana pembentukan shelter baru oleh CMA dan PCINU Taiwan.
Sebagai langkah selanjutnya, telah dibentuk tim kecil yang merupakan perwakilan dari KDEI, CMA dan PCINU Taiwan. Tim kecil tersebut selanjutnya akan segera menentukan langkah-langkah detail untuk merealisasikan terbentuknya shelter tersebut. (nam)