Ratusan pimpinan pondok pesantren se-Jabotabek hari ini, Sabtu (27/6) menggelar istighosah di pondok pesatren An-Nadlah, Pondokpetir, Sawangan, Depok, Jawa Barat, yang dimotori oleh para pendukung pasangan calon presiden-wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono.
Istighosah ini dimaksudkan agar pemilu 8 Juli nanti bisa berjalan damai, jujur dan adil. Demikian dalam rilis pers yang diterima NU Online.<>
Tampak hadir dalam acara istighosah tersebut sekjen Dewan Pipinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edi didampingi anggota dewan syura DPP PKB KH Manarul Hidayah yang juga anggota FKB DPR RI, Sekjen Gerakan Pemuda Ansor Malik Harmain, Pimpinan Pondok Pesantren An-Nadlah Hilmi Muhammadiyah, Direkutur Eksekutif Islamic Boarding School Asrurun Niam beserta pimpinan pondok pesantren se Jabotabek.
Recanannya istighosah dan pertemuan pimpinan pondok pesantren se Jabotabek ini akan dihadiri oleh ketua umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, cawapres Boediono, menteri komunkasi dan informatika Muhammad Nuh. Namun semuanya berhalangan hadir.
Dalam orasi politiknya sekjen DPP PKB yang juga menteri pembangunan daerah tertiggal Lukman Edi mengungkapkan, peran pondok pesantren dalam pembangunan Indonesia tidak bisa dipandang remeh. Karena seorang pemimpin yang benar harus dibekali dengan agama kuat juga, ungkapnya.
“Pembangunan bangsa Indonesia selama ini tidak lepas dari peran pondok pesantren. Terbukti lulusan pesantren banyak yang terjun kedunia politik ataupun menjadi pengusaha,” jelas salah satu tim sukses capres/cawapres SBY-Boediono ini.
Menyangkut perhatian SBY di dunia pendidikan, Lukman menambahkan sejak di bawah kepemimpinan SBY, eksistensi pondok pesantren sangatlah diperhatikan. Anggaran pendidikan 20 % salah satu indikasi keberhasilan SBY adalah meningkatnya jumlah guru honor menjadi PNS yang berasal dari madrasah diniyah, Tsawaiyah hingga Aliyah.
Jelang pelaksaan Pilpres yang tinggal beberapa hari lagi, terkait maraknya black campaign (kampanye hitam) yang dilakukan oleh seseorang yang ingin menjatuhkan nama cawapres Boediono Lukman Edi menjelaskan, saya tidak percaya sama sekali kalau Boediono bergama katolik.
“Waktu itu saya pernah menjadi imam shalat, pak Boediono waktu itu masih menjabat sebagai menteri perekonomian. Salah makmum dalam shalat tersebut adalah pak Boediono. Jadi tudingan bahwa pak Boediono bergama katolik itu sama sekali tidak benar dan mengada-ada,” tegasnya.
Ia menghimbau kepada seluruh elit politik saat ini jangan menggunakan kampanye hitam untuk menjatuhkan salah satu capres/cawapres. “Pemilu ini tinggal sebelas hari lagi jangan suka menjatuhkan lawan politik dengan hal-hal yang dapat merusak hubungan baik. Masih banyak hal yang bisa kita kerjakan untuk bangsa ini,” jelasnya.
Lanjutnya, jangan membuat panas situasi politik saat ini. Karena dikalangan bawah hal-hal tersebut bisa menimbulkan perpecahan. “Saya yakin para pemilih nanti bisa menilai Boediono dengan baik, meskipun dia di isukan serang neoliberalisme dan beragama katolik,” pungkasnya.
Hal senada diungakap Malik Haramain yang terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa setelah melalui proses MK. Dirinya yakin warga Indonesia sudah cukup rasional untuk menentukan benar atau salah. ”Saya rasa pemilih sudah sangat dewasa dan rasional, jadi percuma saja menerpa dengan isu-isu yang menyesatkan, tidak akan efektif,” ungkap Malik. (nam)