M Ali Albalya
Penulis
Sejak ditinggal menikah oleh istrinya, Mbah Kandar hidup sebatang kara. Istrinya, Mar’atun, tidak kuat karena dalam beberapa bulan Mbah Kandar tidur terus di atas pembaringan. Mbah Kandar, menurut cerita ayah, jatuh dari pohon kelapa.
Sebagai buruh memanjat pohon kelapa, dia tidak mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan harian. Alasan itu masuk akal sehingga tidak heran jika istrinya membeli surat agar bisa kawin lagi. Suami barunya, menurut ayah lagi, adalah juragan toko plastik, tempat dia biasanya nongkrong sambil minum es dari toko tersebut.
Juragan plastiklah yang menopang kehidupannya selama beberapa bulan tanpa penghasilan. Entah karena dia diminta menjadi penjaga toko atau memang putus asa karena tidak punya anak, Mar’atun terpesona, lalu meninggalkan suaminya begitu saja.
Lalu, Mbah Kandar ditampung sebagai penjaga mushala milik ayahku. Di samping mushala tersebut, ada sebuah kamar kecil cukup untuk tidur dan menyimpan barang pribadi sekadarnya. Untuk makan dan minum, Mbah Kandar dibantu ayahku.
Tapi, itu dulu waktu ayah masih hidup. Setelah ayah meninggal dunia, Mbah Kandar katanya tidak enak karena teman kecilnya itu sudah meninggal dunia. Siapa dia, ayahku.
Sebelum meninggal, ayah padahal sudah berwasiat padaku untuk menjaga Mbah Kandar hingga akhir hayatnya. “Anggaplah dia sebagai pengganti orang tuamu,” kata ibu menasihati meneruskan wasiat ayah.
Keseharian Mbah Kandar adalah buruh bersih-bersih rumah, halaman atau orang pindah rumah. Apa saja asalkan halal dan Mbah Kandar sanggup melakukannya. Upahnya adalah makan satu hari jika hanya beberapa waktu. Namun, jika agar banyak, upah tersebut cukup untuk memenuhi makan satu minggu. Ukurannya adalah warung nasi sudut pasar di dusun.
Nama Mbah Kandar siapa pun tahu. Pekerjaan sebagai buruh bersih-bersih itu awalnya. Ceritanya dulu, pada awal Ramadhan, Pak Sukir seorang guru SD negeri, datang kepadaku.
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Kira-kira Mbah Kandar bisa bersih-bersih rumput?”
“Coba saya tanyakan,” jawabku.
Mendengar permintaan untuk bekerja itu, Mbah Kandar tersenyum sumringah.
“Ya, mau saya, Den.”
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
“Kalau bayaran saya kira cukup karena Pak Sukir PNS," kataku mendukung.
"Bosan saya, masa cuma azan, bersih-bersih mushala dan tidur, hihihi.”
“Iya Mbah, mulai besok kerja. Cangkul dan sabit ada di belakang.”
Sejak Ramadhan itu, Mbah Kandar selalu mendapat untung lumayan. Selain upah yang didapat, Mbah Kandar mendapat bingkisan lebaran dari orang-orang yang memakai tenaganya. Sarung, baju dan songkok merupakan andalan yang selalu beliau tunjukkan kepadaku.
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
“Senang kalau Ramadhan saya, Den.”
“Berkah Ramadhan, bisa buat lebaran Mbah,” kataku.
“Untuk Aden satu. Silahkan, Den,” Mbah Kandar menawariku sebuah sarung.
“Cukup untuk Mbah saja. Saya sudah ada,” jawabku menolak pemberiannya.
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
“Nggak apa-apa, Den. Sisa beberapa tahun lalu masih ada, tidak terpakai, Mbah sudah cukup,” Mbah Kandar merayuku.
“Kalau begitu, boleh Mbah,” jawabku.
Tidak berniat memiliki, tapi demi menyenangkan hati beliau. Mungkin itu salah satu cara beliau mengungkapkan terima kasih padaku. Aku sudah cukup puas membantu, tidak mengharap imbalan apa pun.
Selain keberkahan di siang hari, malam bulan Ramadhan juga memberikan berkah untuk Mbah Kandar. Mulai dari selamatan pembukaan awal Ramadhan, penutupan akhir Ramadhan dan tadarus setelah shalat tarawih berjamaah.
Warga di sekitar mushala memberikan gorengan, buah atau kolak sebagai pelengkap untuk mengaji. Cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum para pembaca dan selebihnya untuk Mbah Kandar.
Luapan kegembiraan itu pula yang menjadi titik balik hidup Mbah Kandar. Karena ingin meramaikan bulan suci, pada Ramadhan tahun ini, Mbah Kandar meminta izin kepadaku. Setelah berbuka puasa hari pertama itu, dia berkata, "Pada saat sahur, bolehkah saya ikut membangunkan orang untuk sahur melalui pengeras?”
Sebagai pewaris mushala ayahku, aku tidak mau mengecewakan Mbah Kandar.
"Boleh, Mbah. Tapi sebaiknya tidak perlu. Cukup masjid kampung yang melakukannya. Mbah Kandar istirahat saja,” saranku.
“Saya ingin lho, Den,” pintanya.
Serba sulit mencegah keinginan yang didasarkan oleh kebahagiaan. Di antara kecanggihan teknologi saat ini, cukup masjid besar yang melakukannya. Suara dari masjid cukup kuat menjangkau seluruh rumah penduduk.
“Mbah yakin, masih kuat untuk tidak tidur semalam sambil melihat jam dinding?" tanyaku.
“Ya tidur. Nanti alarm saya setel. Gampang kan, Den?”
Baca Juga
Cerpen: Kau Sama di Hadapan-Nya
“Ya boleh, Mbah. Sebaiknya dicoba dulu kalau tidak kuat berhenti saja."
"Kuat, Den. Saya siap, kok. Apa kebaikan yang bisa saya perbuat selain mencari keberkahan di usia lanjut ini. Terima kasih, Den.”
Ramadhan bergerak terasa cepat. Kebahagiaan Mbah Kandar juga merupakan kebahagiaanku. Para jamaah juga merasakan kebahagiaan serupa.
Ada salah satu jamaah bertanya kepadaku, “Mbah Kandar tumben Ramadhan ini membangunkan orang untuk sahur?”
"Aku tidak bisa menolak, beliau yang meminta."
"Oh ya, nggak papa, Mas. Tapi, kasihan sudah tua. Kenapa tidak Mas saja?”
“Wah…, aku pasrah sudah. Masjid desa kita cukup menjangkau penduduk.”
“Iya, betul.”
Selain satu orang itu, ada beberapa orang yang menyambut gembira. Intinya, mereka merasa terbantu bisa bangun dini hari dan bisa menyantap makanan.
Terhadap mereka, aku tersenyum senang. Mushalaku ada yang meramaikan. Namun, ada satu orang yang tidak perlu kusebutkan namanya menganggap tidak perlu. Bukan karena esensinya membangunkan orang, tapi lebih memperhatikan ketertiban sosial.
Katanya, “Paman, aku kasihan sebenarnya memperhatikan perasaan penduduk di sekitar mushala. Beberapa ada orang non-Muslim atau orang yang memang sengaja tidur karena kelelahan terganggu, karena suaranya berlebihan.”
"Maksudnya?" tanyaku.
"Ya, diatur biar tidak ramai dan berdurasi panjang.”
"Repot, kita ini, Mas. Aku tidak mau berkomentar banyak. Sebaiknya diikuti saja, Cuma satu bulan. Toh, kalau benar-benar mengantuk, tidak mendengar suara apa pun. Ya, kira-kira begitulah,” jawabku.
Maklumlah, yang kuhadapi adalah seorang mahasiswa. Dia kritis dan berani menyampaikan pendapat kepadaku. Aku salut kepadanya. Dia berani berpikir. Barangkali, mengingat aku juga mantan seorang aktivis di kampus, dia sungkan atau bahkan ingin menyamakan persepsi saja. Siapa tahu pemikirannya sejalan dan menghentikan kegiatan Mbah Kandar yang sedang semangat menghormati bulan Ramadhan.
Untuk mahasiswa ini, aku hentikan membicarakan soal ini. Kataku, "Ini tolong hanya kita yang bicara. Jangan sampai mengatakan kepada banyak orang. Jaga diri."
“Ya, Paman. Terima kasih masukannya.” Dia pun pulang dan bersalaman kepadaku.
***
Selama satu bulan penuh, Mbah kandar membangunkan penduduk dengan suara rentanya. Hingga pada malam takbiran pun beliau ikut membacakan. Saat aku mengimami shalat subuh berjamaah, Mbah Kandar pun masih terlihat. Bahkan, waktu azan subuh Mbah Kandarlah yang mengumandangkan.
Karena mushala hanya untuk jamaah lima waktu, aku menyangka Mbah Kandar, setelah shalat subuh, berangkat ke masjid kampung. Ya, biasanya semua warga bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah di sana. Termasuk aku.
"Dik, Mbah Kandar tumben tidak tampak bersilaturahim setelah jamaah shalat Idul Fitri?" tanyaku ke istriku di rumah.
"Mungkin Mbah Kandar bersilaturahim seketika turun dari masjid ke tetangga sekitar," kata istriku.
"Oh. Iya, nggak apa-apa, Mbah Kandar memang banyak kenalan di daerah kita,” jawabku menyetujui istriku.
Tanpa terasa, silaturahim dan bermaaf-maafan antarwarga berjalan cepat. Tiba-tiba waktu shalat zuhur sudah datang. Biasanya Mbah Kandar yang mengumandangkan azan. Karena pengeras suara tidak kunjung dibunyikan, aku berniat mencari beliau.
Seketika itu, aku terkejut. Mbah Kandar tertidur seperti tidak bergerak sama sekali di kamar samping mushala. Aku raba jantungnya, tidak ada getaran sama sekali. Denyut nadi di tangan maupun leher tidak ada. Dada tidak ada gerakan. Hembusan nafas dari hidung dan mulut tidak kurasakan. “Apakah beliau meninggal?”
Aku yakin tapi untuk lebih meyakinkan, sebaiknya, mantri sebelah mushala aku beri tahu. Setelah memeriksa beliau, katanya, "Sudah meninggal, Mas."
Tanpa pikir panjang, azan dzuhur aku batalkan. Aku ganti dengan ucapan “Innalillahi wainna ilaihi raaji’un, innalillahi wainna ilaihi raaji’un, innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Mbah Kandar. Semoga amal dan ibadahnya diterima oleh Yang Maha Memaafkan di hari raya ini. Demikian.”
Karena tidak kuasa menahan tangis, azan aku serahkan ke Pak Mantri di sebelahku. Dalam tangisku, aku merasa iri. Dosa Mbah Kandar telah lebur oleh bulan Ramadhan. Di bulan Syawal ini, semua orang di lingkungan mushalaa pasti sudah memaafkan segala kesalahannya.
Tidak disangka, panggilan sahur itu adalah pengabdian pertama dan menjadi yang terakhir dalam hidupnya.
Jember, 28 Februari 2026
M. Ali Albalya, lahir di Jember, 17 April 1981. Seorang lulusan Sastra Inggris dari Universitas Jember, mantan wartawan Tabloid Mahasiswa IDEAS Fakultas Sastra (kini: Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Jember dan Dosen Universitas Muhammadiyah Jember periode 2008-2014.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban
2
Khubah Jumat: Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri
3
Mulai Malam Ini, Dianjurkan Baca Qunut pada Rakaat Terakhir Shalat Witir
4
Khutbah Jumat: Refleksi Puasa, Sudahkah Meningkatkan Kepedulian Sosial?
5
Antrean BBM Mengular di Medan, Harga Naik dan Stok Langka
6
Khutbah Bahasa Jawa: Ramadhan, Wekdal Sahe kangge Ngathahake Maos Al-Quran
Terkini
Lihat Semua