Cerpen

Hingga Beduk Ashar

NU Online  ·  Ahad, 29 Maret 2026 | 11:00 WIB

Matahari hampir sampai di puncak cakrawala. Sinarnya yang garang menghujani apa pun yang terjangkau tanpa ampun. Sebuah tratag sederhana di tengah sebuah kompleks bangunan tak mampu menangkal panas yang ditimbulkan, apalagi atapnya terbuat dari seng. Sekumpulan orang yang bernaung di bawahnya didera panas yang terus tereskalasi.

 

Mereka adalah panitia penerimaan santri baru Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb yang sedang menunggu kedatangan santri baru di sebuah stan bersahaja.  Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran, namun belum satu pun santri baru yang datang.


Keputusasaan jelas tampak dari wajah-wajah mereka. Sambil bersandar, mereka mengipasi diri sendiri dengan apa saja yang bisa menjadi kipas: kipas betulan, map kertas, songkok, sobekan kardus air mineral, hingga tutup keranjang plastik yang didapat entah dari mana.

 

Di belakang mereka, seorang pria tua duduk tenang dengan mata setengah terpejam. Ia bergeming. Hanya mulutnya yang berkomat-kamit merapal zikir dan tangannya memutar tasbih. Ia tenggelam dalam zikir hingga seakan tak merasakan panasnya udara.

 

Ia adalah Kiai Amin, pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb. Ia menggantikan abahnya, Mbah Munif. Mbah Munif adalah pendiri dok Pesantren Mafatihul Ghayb. Meskipun ahli dalam tafsir dan qiraat, Mbah Munif lebih terkenal karena kisah-kisah karamahnya.


Konon, sebelum kedatangannya ke Karangendep, wilayah ini dikuasi para demit perkayangan. Hampir tak ada yang berani membangun rumah di sana kendati berstatus sebagai area yang strategis, hanya berjarak selemparan batu dari Jalur Selatan. 


Mbah Munif datang dan bermukim di sana. Dengan izin Allah, ia dapat mengusir seluruh makhluk astral nan jahat di sana. Dengan cepat berita kebolehannya menyebar dari mulut ke mulut. Satu per satu santri datang untuk menimba ilmu kepadanya. 


Kisah lain mengatakan bahwa Mbah Munif berhasil menutupi pesantrennya dengan tirai gaib sehingga tentara Republik yang bersembunyi di sana luput dari serbuan tentara Belanda yang tengah melancarkan agresi militer. 


Suara azan berkumandang dan secepatnya menepis kesunyian yang menguasai stan.


“Azan, Dul,” ucap si Kiai Amin tiba-tiba.


“Baik, Kiai,” jawab seseorang dari panitia yang dari tadi duduk di meja bagian pembayaran. Tanpa dikomando, semua anggota panitia di situ bubar setelah Kiai Amin beranjak pergi. 


Kiai Amin berjalan menuju padasan yang berada di belakang masjid. Ia berjalan menyusuri jalan ber-paving blok yang menjadi pemisah antara masjid dan asrama santri putra. Gedung panjang itu disekat-sekat menjadi beberapa kamar.  

 

Keadaan gedung ini begitu memperihatinkan. Pada tembok sebelah Timur, terdapat tulisan yang sudah buram. Bahkan, beberapa hurufnya sudah tak terlihat lagi. Yang terbaca hanya “ASRAM  PUTR".

 

Langit-langit kamar paling barat berlubang di mana-mana. Bahkan dari salah satu lubangnya, birunya langit terlihat jelas. Lantai kamar tengah yang sejatinya dilapisi tegel juga sudah rusak. Banyak tegel yang telah pecah sehingga tanah di bawahnya menyembul. Bahkan pintunya sudah lapuk digerogoti rayap. Engselnya yang waras tinggal sebuah.


Gedung asrama putera sudah hampir kosong sejak lama. Kini, penghuninya tersisa hanya tiga orang. Salah satunya adalah Dul Rohim yang tengah mengumandangkan azan. Dua santri yang lain adalah Qosim dan Munir. Keadaan asrama puteri agak mendingan. Gedung yang berada di belakang ndalem itu dihuni sepuluh orang. Kondisi bangunannya juga lebih terawat. 


Pada masa keemasan Mafatihul Ghayb, asrama putra dihuni seratus lebih santriwan, sementara asrama putri dihuni hampir dua ratus santriwati. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah, mulai dari Lampung di barat, hingga Madura di timur. 


Namun, selepas wafatnya Mbah Munif, santri berbondong-bondong boyong. Mereka yakin bahwa dengan wafatnya Mbah Munif yang jadug, keberkahan dan kesakralan Mafatihul Ghayb turut sirna.

***

 

Dul Rohim mengakhiri puji-pujian, dan kemudian mengumandangkan ikamah saat Kiai Amin selesai mendirikan salat qabliyah. Jumlah jamaah shalat lima waktu di masjid pondok tak pernah banyak kendati masjid dibuka untuk umum. Masjid akan ramai hanya ketika shalat dua hari raya dan shalat Jumat. 


Warga di sekitar pondok memilih menunaikan shalat di masjid lain karena durasi shalat di masjid pondok menurut mereka lebih lama daripada durasi shalat di masjid-masjid lain. Kiai Amin memang selalu menjaga kefasihan dan pemenuhan makharijulhuruf kala membaca Surat Al-Fatihah dan bacaan-bacaan salat lainnya sehingga waktu yang dibutuhkan untuk membaca semua itu akan lebih lama.

 

Kiai Amin memegang teguh piwulang yang diajarkan ayahnya itu. Mbah Munif adalah seorang yang sangat berhati-hati dalam masalah makharijul-huruf dan ilmu tajwid. Hingga kini, kebanyakan santri Mafatihul Ghayb baru bisa lulus dalam membaca Surat Al-Fatihah menurut standar pengasuh setelah melakukan talaki selama 2-3 bulan.


Standar yang tinggi ini juga yang membuat animo pendaftaran santri baru di pondok ini bertambah tiarap. Apalagi belakangan banyak pondok-pondok baru yang menjanjikan santrinya bisa hafal Al-Qur’an 30 juz hanya dalam waktu sekejap.  

 

***


Setelah tutup kurang lebih satu jam, stan penerimaan santri baru kembali buka. Kendati telah beristirahat dan makan siang, anggota panitia tak lebih bersemangat daripada sebelumnya. Raut pesimistis tergambar jelas dari wajah-wajah mereka yang lesu. Bahkan, Qosim tertidur di kursinya sejenak setelan stan kembali dibuka. Sepertinya ia lempogen setelah makan terlampau banyak tadi.  


Sebenarnya kondisi mereka beralasan. Penerimaan santri baru Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb memang selalu sepi semenjak Mbah Munif wafat. Kiai Amin mencoba berikhtiar dengan membuat stan pendaftaran sejak tiga tahun yang lalu, namun hasilnya tetap nihil. Ia menolak usul putra sulungnya, Gus Haidar, untuk meniadakan stan pendaftaran pada tahun ini. 


Sebenarnya, stan pendaftaran tak benar-benar nol pengunjung. Beberapa peziarah makam Mbah Munif yang berada di belakang masjid mengunjungi stan. Mereka ingin tahu apa program pondok yang didirikan tokoh legendaris itu. Kebanyakan pengunjung stan akan mengurungkan niat memondokkan anaknya karena Mafatihul Ghayb tak memiliki unit pendidikan formal.

 

Masyarakat dewasa ini memang banyak yang lebih khawatir jika anak-cucunya tak memiliki ijasah formal daripada jika anak-cucunya tak paham ihwal agama. Sebenarnya beberapa pejabat dan pengusaha di sekitar pondok menawarkan diri untuk membantu pendirian sekolah formal di dalam lingkup pondok yang saat ini diasuh Kiai Amin itu.


Namun, semua tawaran tersebut ditolak Kiai Amin. Sewaktu masih sugeng, Mbah Munif bekerja sama dengan tokoh masyarakat lain mendirikan madrasah dari level ibtidaiyah hingga aliyah. 

 

Sekolah-sekolah formal tersebut diperuntukkan bagi semua warga desa, tak hanya untuk para santri mukim di pondoknya. Mbah Munif berpesan agar Kiai Amin tak mendirikan sekolah formal lain. Alasannya adalah agar madrasah-madrasah yang tersebut tak kekurangan siswa. Mbah Munif tak ingin ada perebutan siswa di masa yang akan datang.

***


"Bah, kita tutup saja stannya, ya? Hari ini hari terakhir penerimaan santri baru. Mas dan mbak santri yang berjaga juga sudah capek menunggui stan sejak pagi," ucap Gus Haidar dengan nada yang begitu sopan.


“Tunggu sebentar lagi. Tunggu hingga beduk ashar,” jawab Kiai Amin mantap.

 

"Tapi, Bah, sejak awal stan ini dibuka tak ada satupun santri baru yang mendaftar,” ujar Gus Haidar.


Sesungguhnya Gus Haidar ingin mengatakan ini sejak hari ketiga stan dibuka. Namun, ia tak sampai hati mengatakannya. Ia khawatir ucapannya akan menyakiti hati abahnya itu.


"Apakah cah bagus sudah lupa pesan abah? Abah kan sudah berkali-bali bilang bahwa berprasangka baik kepada Gusti Allah adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh setiap hamba-Nya. Sertai prasangka baik itu dengan istikamah dalam menjalankan ikhtiar. Sejak hari pertama penerimaan santri baru kita istikamah membuka stan jam delapan dan menutupnya saat bedug Asar. Masa di hari terakhir kita tinggalkan amalan yang lebih baik dari seribu karamah itu?" jawab Kiai Munif.


Gus Haidar hanya mengangguk-angguk. Ia tak ingin mendebat sosok yang begitu ia hormati itu. Dalam lirih ia merapal sayyidul istighfar. Ia begitu khawatir telah menyinggung perasaan abahnya.


Belum selesai Gus Haidar merapal sayyidul istighfar, tiba-tiba ada dua bocah laki-laki yang tak diketahui asalnya muncul di depan stan pendaftaran. Wajah keduanya kumal. Baju koko yang mereka kenakan basah oleh keringat. Keadaan mereka diperparah dengan cara mereka memakai sarung yang begitu semrawut. 


"Hei, Pak tua. Apakah ini pondoknya Mbah Munif?” Sapa salah satu bocah yang lebih tinggi daripada bocah yang satu lagi. 


"Betul,” jawab Kiai Amin dengan nada yang ramah.

 

“Kami berdua ingin mondok di sini supaya bisa terbang seperti dia," lanjut si bocah yang lebih pendek dengan nada yang tak kalah tengil. 


"Boleh saja. Tapi sepertinya kalian harus belajar cara memakai sarung yang benar terlebih dulu," jawab Kiai Amin santai.

 

Kiai Amin tak tersinggung dengan sikap dua calon santri yang datang entah dari mana itu. Ia justru terkekeh menghadapi kelakuan tengil dua bocah itu.


Para petugas stan pendaftaran yang awalnya terkantuk-kantuk, terjaga karena suara lantang dua anak ini. Mereka sibuk merapikan diri, dan kemudian mencari di mana formulir pendaftaran. 
 

Rifqi Iman Salafi adalah alumnus Sastra Inggris UIN Jakarta. Ia pernah mondok di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes dan Pesantren Darus-Sunnah Ciputat. Selain sedang menahkodai Panduan Institute, ia juga aktif menulis artikel seputar sastra, budaya pop, dan sejarah Islam di beberapa media daring. Ia bisa disapa di akun Instagram @rifqiimans atau akun X @rifqi_salafi

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang