Aktivis Lingkungan di Rembang Soroti Kerusakan Ekosistem dan Budaya Konsumtif
NU Online Ā· Jumat, 8 Mei 2026 | 14:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah pesisir dan kawasan hutan, dinilai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian daerah.
Aktivis lingkungan sekaligus Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Rembang, Ahmad Rifāan, menilai Indonesia sebagai negara bahari sangat bergantung pada keberlangsungan ekosistem laut seperti padang lamun, terumbu karang, dan mangrove. Menurutnya, produktivitas nelayan akan menurun drastis apabila ekosistem tersebut mengalami kerusakan.
āPadang lamun merupakan bagian penting bersama terumbu karang dan mangrove. Ketika mangrove rusak, terumbu karang juga ikut rusak. Kerusakan itu banyak disebabkan oleh tangan manusia dan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan,ā ujar Rifāan saat diwawancaraiĀ NU Online di Pos Penyuluhan Kehutanan, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, padang lamun memiliki fungsi penting menjaga kejernihan laut dengan menyaring kotoran di perairan. Selain itu, kawasan tersebut menjadi habitat berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. āJika itu rusak, akan menimbulkan dampak buruk jangka panjang,ā imbuhnya.
Selain wilayah pesisir, Ahmad Rifāan juga menyoroti kondisi kawasan pegunungan dan hutan yang menurutnya memiliki keterkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ia menyebut kerusakan hutan menyebabkan nilai ekonomi kawasan menurun dan berdampak pada meningkatnya kemiskinan di desa-desa sekitar hutan.
āGunung Kendeng atau hutan-hutan di Sumatra yang terkena bencana ekologis sebenarnya bisa menjadi sumber perekonomian masyarakat jika tidak rusak. Mestinya hutan dan sungai menjadi hamparan ruang hidup yang menghasilkan banyak sumber ekonomi,ā katanya.
Ia juga menekankan bahwa rendahnya budaya menanam di tengah masyarakat menjadi persoalan penting. Menurutnya, kegiatan menanam bukan hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan.
āBagi saya, menanam merupakan kegiatan pembangunan lingkungan hidup yang hasilnya bisa dilihat tiga, lima, bahkan sepuluh tahun mendatang. Tanaman dapat menyerap karbon, mengikat tanah, dan menjadi bentuk mitigasi bencana,ā jelasnya.
Rifāan menambahkan, masyarakat perlu mulai membangun pola pikir jangka panjang dalam menjaga ketahanan pangan dan lingkungan keluarga. Ia juga mengimbau masyarakat menghindari perilaku konsumtif berlebihan dan mulai hidup lebih produktif.
āSaya hanya menitip pesan sebagaimana sabda Rasulullah yang menganjurkan menanam tumbuhan walaupun esok hari akan terjadi kiamat. Itu mencerminkan bentuk perlawanan terhadap kerusakan akibat kejahilan tangan manusia,ā tandasnya.
Sementara itu, Ketua Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Rembang, Ali Mustofa, menilai persoalan lingkungan paling mendesak yang dihadapi masyarakat Rembang saat ini meliputi krisis air bersih akibat kemarau panjang dan intrusi air laut, abrasi pantai, persoalan sampah, serta longsor.
Menurutnya, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kerusakan lingkungan ibarat dua sisi mata uang yang saling tarik-menarik.
āEkonomi tumbuh, tetapi lingkungan sering menjadi korban. Padahal tidak harus selalu begitu jika perencanaannya dilakukan dengan benar sesuai praktik terbaik,ā ungkap Ali kepada NU Online, Jumat (8/5/2026).
Ia menilai konsep ekonomi hijau atau green economy realistis diterapkan di Indonesia karena didukung sumber daya terbarukan yang melimpah.
āIndonesia punya modal besar seperti sinar matahari untuk PLTS, angin, serta potensi ekonomi berbasis alam seperti hutan, mangrove, dan laut yang bisa menjadi karbon biru. Ditambah lagi bonus demografi anak muda yang melek digital,ā katanya.
Ali juga menyoroti masih terjadinya eksploitasi alam meskipun berisiko merusak sumber air. Menurutnya, sebagian masyarakat belum sepenuhnya memahami pentingnya menjaga bumi untuk jangka panjang.
āBiasanya hanya memikirkan sesaat, istilahnya āuntung saya, rugi kitaā. Kalau terus seperti ini, kami punya peran besar untuk mendekati mereka dengan pemahaman yang bisa diterima,ā paparnya.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa kepentingan ekonomi sering kali membuat kerusakan lingkungan diabaikan.
āKeuntungan ekonomi diambil sekarang dan dinikmati segelintir orang. Tetapi biaya kerusakan lingkungan ditanggung bersama, pelan-pelan, bahkan oleh anak cucu kita,ā ujarnya.
Ali juga menyoroti budaya konsumtif masyarakat yang turut memperparah persoalan sampah dan kerusakan lingkungan. Ia mengibaratkan perilaku konsumtif seperti kompor gas yang terus digunakan tanpa disadari sumber dayanya semakin habis.
āSekarang semuanya dibuat instan dan praktis, sesuai keinginan bukan kebutuhan pokok. Akhirnya kita seperti diarahkan untuk bahagia ketika membeli sesuatu,ā katanya.
Menurut Ali, media sosial dan tren gaya hidup modern ikut mendorong perilaku konsumtif masyarakat.
āKalau dulu orang membeli karena butuh, sekarang banyak yang membeli karena melihat handphone akibat iklan atau konten. Bukan berarti anti-HP, tetapi kita harus bijak dalam membeli supaya tidak menimbulkan sampah,ā tambahnya.
Ia juga menyoroti sejumlah kebiasaan kecil masyarakat yang berdampak besar terhadap lingkungan, seperti membuang puntung rokok sembarangan, mengambil batu karang, dan menebang pohon tanpa kontrol.
Dalam upaya menjaga lingkungan, Ali menilai generasi muda memiliki peran besar sebagai game changer melalui pemanfaatan media sosial dan konten kreatif.
āPemuda bisa menjadi humas alam melalui video gerakan tidak membuang sampah sembarangan, membawa tumbler, hingga kampanye pentingnya hutan. Satu video bisa mengubah pola pikir seribu orang,ā ujarnya.
Terkait penanganan persoalan lingkungan, Ali menilai pemerintah daerah telah memahami persoalan tersebut dan berupaya melakukan penanganan secara maksimal. Namun, ia berharap pemerintah juga melibatkan pegiat lingkungan dan penyuluh kehutanan dalam penyusunan program kerja.
āSemua ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Kami yakin pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin sebagai nahkoda,ā pungkasnya.
Terpopuler
1
Melalui PBNU, YANMU Salurkan 11 Ambulans dan 1.000 Al-Quran untuk PWNU dan PCNU
2
Disertasi tentang Orientasi Doktrinal NU Antar Asikin Sumarto Raih Doktor di University of Jordan
3
Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat
4
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung 3.000 Lebih Peserta Muktamar Ke-35 NUĀ
5
Masuk Bursa Bakal Calon Ketua Umum PBNU, Ini Kiprah dan Profil KH Marsudi Syuhud
6
Baznas Ajak Elemen Bangsa Perkuat Persatuan melalui Gerakan Zakat
Terkini
Lihat Semua