Ketua Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Jember, dr. Achmad Multazam (sebelah kiri) bersama dr. H Hisyam Rifqi dalam acara Konfercab NU Jember beberapa waktu lalu. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Aryudi A Razaq
Kontributor
Idul Fitri identik dengan hari libur, bersuka ria bersama keluarga dan sanak saudara. Tapi ini tidak berlaku bagi Ketua Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Jember, Jawa Timur, dr. Achmad Multazam. Pasalnya, Idul Fitri di tengah hunjaman wabah Covid-19 seperti sekarang ini, seorang dokter dituntut bekerja ekstra keras untuk melayani hal-hal yang terkait dengan pencegahan virus mematikan itu.
“Pas malam takbiran, saya malah tugas di cek point perbatasan Jember-Banyuwangi,” ujarnya kepada NU Online di sela-sela memantau rapid test di Dinas Kominfo Pemerintah Kabupaten Jember, Selasa (26/5).
Menurut dr. Multazam, dirinya memang tidak libur sejak Lebaran hingga beberapa hari kedepan, bahkan malam hari terkadang masih piket. Kesibukan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu tak lepas dari posisinya sebagai Kepala Puskesmas Curahnongko, Kecamatan Tempurejo dan penanggungjawab Klinik Laboratorium Daerah Jember. Justru saat ini dia cukup sibuk karena banyak orang yang minta dilayani rapid test tekait semakin tingginya angka pasien positif Covid-19 di Jember .
“Ini amanah yang harus saya jaga dengan baik. Saya warga NU harus memberi contoh yang baik,” lanjutnya.
Ia menambahkan, Lebaran semestinya menghadirkan kehangatan dalam rumah tangga yang ditandai dengan berkumpul bersama keluarga. Namun bagi seorang dokter, jarang berkumpul dengan keluarga itu sudah biasa, bahkan enak-enaknya tidur, terkadang harus bangun untuk melayani pasien yang emergency. Tidak hanya itu, dalam kasus Covid-19, tidak sedikit pengorbanan dokter/perawat berujung dengan kematiannya karena justru terpapar virus pasien yang dirawatnya.
“Itu bagian dari risiko tugas, dan saya yakin mereka mati mulia karena gugur saat bertugas,” terangnya.
Bagi sebagian orang, lanjutnya, Lebaran kali ini mungkin terasa hambar lantaran ada pembatasan-pembatan dalam berinteraksi dengan sesama dan lingkungan sehinga tidak ada tradisi saling mengunjungi. Namun harus dipahami bahwa kehambaran tersebut adalah demi memenuhi keinginan segenap bangsa Indonesia untuk segera lepas dari cengkeraman Covid-19.
“Lebaran, mesti kita tahan dulu. Lebih baik tetap di rumah saja. Dengan begitu berarti kita ikut memutus penyebaran Covid-19,” jelasnya.
Di tempat terpisah, salah seorang anggota PDNU Jember, dr. H Hisyam Rifqi menegaskan, Lebaran semestinya memang dirayakan bersama keluarga, dan di situlah kebahagiaan mengemuka. Namun bagi dia, bisa menolong pasien di saat-saat Lebaran justru merupakan kebahagiaan tersendiri.
“Saya setia pada profesi, dan di situlah pengabdian saya,” jelasnya.
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
Terpopuler
1
PBNU Finalisasi SK Kepengurusan Peserta Muktamar Ke-35 dan Road Map NU 25 Tahun
2
Hukum Lomba Mancing Berbayar di Kolam
3
Tim PBNU Tinjau Tiga Pesantren di Cirebon sebagai Calon Lokasi Muktamar Ke-35 NU
4
Prediksi Cuaca 3-9 Juli 2026:Kemarau Berlanjut, Hujan Masih Mengiringi Sebagian Wilayah Indonesia
5
Lokasi Muktamar NU dari Masa ke Masa (Bagian Pertama-Masa Kolonial)
6
Suluk Kajen Diresmikan, Siap Jadi Pusat Riset Manuskrip dan Pemikiran Syekh Ahmad Mutamakkin
Terkini
Lihat Semua