Bertahan di Tengah Sawah Berlumpur, Dapur Kehidupan Petani Pidie Jaya Menunggu Perhatian Negara
NU Online · Rabu, 4 Februari 2026 | 19:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie Jaya, NU Online
Dua bulan pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, kehidupan warga Kabupaten Pidie Jaya belum sepenuhnya pulih. Lumpur masih menutup sawah, rumah-rumah rusak belum tertangani, dan aktivitas ekonomi warga berjalan tertatih di tengah ketidakpastian.
Data pemerintah mencatat, seluas 107.324 hektare sawah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor. Angka tersebut setara hampir 10 persen dari total lahan sawah di tiga provinsi. Di Pidie Jaya, dampaknya terasa langsung karena mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Di Gampong Beuringen, Maulizar (35), buruh tani, kehilangan mata pencaharian setelah sawah seluas empat are miliknya tertutup lumpur. Sejak bencana, tidak ada lagi musim tanam maupun panen. “Anak-anak minta pulang ke rumah terus,” ujar Maulizar lirih.
Sejak hari ke-15 pascabencana, ia bersama suami dan tiga anak memilih kembali ke rumah yang rusak dan setengah doyong. Lantai rumah becek, atap bocor, dan dapur tertimbun lumpur setinggi dua meter. Namun, bagi Maulizar, rumah tetap memberi rasa aman dibandingkan pengungsian.
Kini, ruang tamu rumahnya beralih fungsi menjadi dapur sekaligus tempat bekerja. Setiap hari Maulizar membuat emping melinjo dengan upah sekitar Rp33 ribu per hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan makan harian tanpa kepastian untuk esok hari.
Sebelum bencana, Maulizar bekerja bersama tujuh perempuan lain sebagai buruh tanam padi dengan upah sekitar Rp130 ribu per hari. Saat panen, mereka memperoleh bagi hasil. Sawah menjadi sumber rasa aman. Kini, rasa aman itu hilang bersama lumpur yang mengubur lahan.
Kondisi serupa dialami Nilawati, warga Kecamatan Bandar Dua. Sejak sawah tak lagi bisa digarap, ia beralih mengerjakan pembuatan kerupuk melinjo dari rumah. “Ini dapur kehidupan kami sekarang,” ujar Nilawati, Kamis (29/1/2026).
Upah yang diterima memang kecil, namun cukup untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa makan. Baginya, pekerjaan rumahan menjadi cara bertahan di tengah hilangnya sumber penghidupan utama.
Kerusakan pertanian di Pidie Jaya tergolong serius. Sawah di Beuringen berubah menjadi hamparan lumpur, saluran irigasi tersumbat, dan Bendungan Daerah Irigasi Meureudu mengalami kerusakan. Alur sungai berubah, bahkan sebagian sawah kini menjelma badan sungai.
Tokoh muda Pidie Jaya, Masrur, mantan Ketua GP Ansor setempat, menilai kondisi ini sebagai krisis ekosistem hidup petani. “Yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga mata pencaharian, rasa aman, dan ketahanan keluarga,” ujarnya.
Masrur mendorong pemerintah segera melakukan langkah terintegrasi, mulai dari pembersihan lumpur skala besar, perbaikan jaringan irigasi, bantuan benih dan sarana produksi, hingga program padat karya agar warga memperoleh penghasilan sambil memulihkan lahan.
“Bantuan tunai penting, tetapi tidak cukup. Jika sawah tidak segera pulih, warga berisiko terjebak kemiskinan baru,” tegasnya.
Sementara kebijakan pemulihan masih berjalan, warga bertahan dengan cara sederhana. Di rumah-rumah setengah runtuh, perempuan menjadi penopang ketahanan keluarga—memasak, bekerja serabutan, dan menjaga harapan agar tidak runtuh.
Dua bulan pascabencana, warga Pidie Jaya masih menunggu kepastian. Mereka berharap pemulihan pertanian segera dilakukan agar dapur kehidupan, sawah, kembali berfungsi dan lumpur tidak berubah menjadi warisan kemiskinan berkepanjangan.
Terpopuler
1
Dua Doa Khusus untuk Malam Nisfu Sya'ban Lengkap dengan Latin dan Artinya
2
Hukum Puasa pada Hari Nisfu Syaban
3
Nisfu Sya'ban: Malam Pengampunan Segala Dosa, Kecuali 4 Hal
4
Jadwal Puasa Sunnah Selama Februari 2026
5
Sejumlah Amalan yang Bisa Dilakukan di Malam Nisfu Sya'ban
6
Sunnah Puasa Ayyamul Bidh Sya'ban 1447 H hingga Lusa
Terkini
Lihat Semua